CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Hello Kitty Happy
”free

Game Acak Otak

Sunday, June 16, 2013

JURNAL IPS


JURNAL
Implementasi Mata Pelajaran IPS
(Studi Pada Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi)
 



 

   


diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan IPS di SD I
disusun oleh


Cheenia Oktriyani    (063161111142)
Eva Siti Fauzia          (063161111147)
Nia Andriani             (063161111144)
Euis Hetty Puspita    (063161111154)
Dicky Maryunadi     (063161111149)
Fajar Wildan             (063161111162)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Kelas D/ Semester 3





UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
Jalan R. Syamsudin, SH. 50 Kota Sukabumi– 43113 Telp. (0266) 218342 Fax. (0266) 218345
Website : www.ummi.ac.id e-mail : info@ummi.ac.id
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan Jurnal ini tepat pada waktunya. Jurnal ini membahas tentang Implementasi Mata Pelajaran IPS Studi Pada Siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dimana dalam hal ini kadangkala peserta didik hanya diberi suguhan dengan segudang materi yang harus ia pahami dan masuk ke dalam otakya. Hal tersebut tentu baik, namun tidak akan seimbang apabila materi yang ada atau materi yang disampaikan dalam penerapannya tidak menyentuh aspek-aspek yang harus dimiliki peserta didik seharusnya. Sehingga dengan adanya Jurnal ini kami harapkan dapat memberikan setidaknya ingatan atau “cambukan” kepada kita sebagai calon pendidik akan apa yang seharusnya menjadi tujuan pokok Mata Pelajaran IPS di SMP.
“Tiada gading yang tak retak”. Kami menyadari bahwa Jurnal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Jurnal ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Jurnal ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.


                                                                        Sukabumi, 10 Januari 2013


                                                                                           Penyusun








ABSTRAK

kata kunci : Penerapan IPS, Kecakapan, Kesadaran Sosial

Penerapan mata pelajaran yang ada kadang kala diabaikan oleh para pendidik, dimana dalam hal ini aspek-aspek yang memang menjadi tujuan seperti dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (UU  Sisdiknas)  merumuskan fungsi  dan  tujuan  pendidikan  nasional  yang  harus  digunakan  dalam mengembangkan  upaya  pendidikan  di  Indonesia.  Pasal  3  UU  Sisdiknas menyebutkan,  “Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab”. Kadang kala aspek tersebut hanya sekedar menjadi tujuan tanpa adanya pengaplikasian yang nyata. Oleh sebab itu disini kami mencoba melakukan penelitian terhadap implementasi IPS itu sendiri pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Tentunya pada aspek yang khusus ingin kami teliti yaitu mengenai kecakapan dan tanggung jawab pada peserta didik.
            Dimana dalam penelitian ini kami menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Yaitu metode yang digunakan dengan cara penyebaran angket untuk mendapatkan hasil penelitian yang kami inginkan. Dengan menyebarkan angket pada 85 orang siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang kami jadikan sampel. Berdasarkan penelitian yang telah kami teliti maka dapat  diambil  kesimpulan bahwa implementasi mata pelajaran IPS studi pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sudah cukup tercapai dengan baik. Dilihat dari aspek kecakapan dan kesadaran sosial dalam hal ini tanggung jawab yang peserta didik merasa telah mereka miliki, meskipun dalam hal ini sudah barang tentu tidak seluruhnya. Namun setidaknya dari hasil angket yang telah kami sebar hampir seluruh siswa SMP Negeri 2 merasakan penerapan dari mata pelajaran IPS itu sendiri.





DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................             i
Abstrak .........................................................................................................             ii
Daftar Isi ...................................................................................................... iii

BAB I   Pendahuluan
1.1  Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
1.2  Perumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3  Sistematika Penulisan ...................................................................... 2
1.4 Manfaat Hasil Pembahasan .............................................................. 3

BAB II  Tinjauan Pustaka
2.1  Definisi IPS ......................................................................................             4
2.2  Tujuan Pendidikan IPS .................................................................... 5
2.3  Pendidikan Karakter ........................................................................ 7
2.4  Model  Contoh Pembelajaran Kontekstual ...................................... 21

BAB III            Objek dan Metode Penelitian
3.1  Objek Penelitian …........................................................................... 26
3.2  Metode Penelitian ............................................................................ 26
3.3  Populasi dan Sampel ........................................................................ 27
3.4  Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 30
3.5  Teknik Pengolahan Data .................................................................. 31
3.6  Teknik Analisis Data ........................................................................ 33

BAB IV   Pembahasan ................................................................................. 38

BAB IV   Penutup
5.1                 Kesimpulan ...............................................................................   62
5.2                 Saran .......................................................................................... 63

Daftar Pustaka ..............................................................................................             64
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kajian tentang studi manusia yang bersangkutan dengan studi sosial dalam masyarakat yang bersifat multidisipliner atau interdisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan dengan meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan sehingga tidak menekankan pada bidang teoritis. Dalam Jurnal ini Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi tema yang menjadi pedoman kami, pengertian yang kami uraikan diatas tentang IPS, kami maksud untuk menekankan bahwasanya IPS  itu tidak menekankan hanya pada bidang teoritis saja. Namun dalam hal ini aspek-aspek yang seharusnya dicapai atau dimiliki peserta didik pun harus menjadi tujuan utama. Dimana menurut kami, sekarang ini dalam penerapannya di dunia persekolahan tujuan tersebut mulai terabaikan karena banyak faktor yang terjadi pada penerapannya, sehingga nilai-nilai atau aspek-aspek yang harus dimiliki peserta didik tidak tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Seperti dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (UU  Sisdiknas)  merumuskan fungsi  dan  tujuan  pendidikan  nasional  yang  harus  digunakan  dalam mengembangkan  upaya  pendidikan  di  Indonesia.  Pasal  3  UU  Sisdiknas menyebutkan,  “Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab”.  Dimana dengan berlandaskan UU Sisdiknas tersebut mengenai aspek cakap dan bertanggung jawab dalam kesadaran sosial yang menjadi bahan kami untuk membuat jurnal ini dalam hal studi pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, sejauh mana penerapan IPS dari kedua aspek tersebut pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Sehingga dengan latar belakang yang kami uraikan di atas, kami membuat Jurnal ini yang berjudul “Implementasi Mata Pelajaran IPS Studi Pada Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi”, sehingga yang kami maksud ialah agar Implementasi dari Mata Pelajaran IPS itu bisa jelas terlihat terarah atau tidaknya, dan apakah penerapannya itu tepat sasaran dan menyentuh aspek-aspek yang seharusnya menjadi tujuan Mata Pelajaran IPS itu sendiri. Dan kami mencoba menguraikannya dalam Jurnal ini secara lebih sederhana dan semoga lebih mudah untuk dimengerti karena kami menguraikannya dari apa yang kami pahami dari referensi buku yang kami baca tentang tujuan yang seharusnya dicapai dari Mata Pelajaran IPS tersebut dan melalui penelitian kami terhadap siswa-siswi salah satu Sekolah Menengah Pertama di Sukabumi. Menjadi harapan kami  untuk materi pokok yang kami bahas disini bisa tepat sasaran dan dijadikan pedoman dalam peningkatan mutu Mata Pelajaran IPS itu sendiri sehingga sesuai dengan tujuan pokok dari pembuatan Jurnal ini.

1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh permasalahan antara lain:
a)      Apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai kecakapan dalam pengaplikasian materi IPS yang disampaikan?
b)      Apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik sadar akan keadaan sosial disekitarnya sesuai dengan materi yang diterimanya?
c)      Bagaimana IPS dapat membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya?


1.3  Sistematika Penulisan
Jurnal ini terdiri dari 5 Bab :
a.    BabI adalah Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Perumusan Masalah, Sistematika Penulisan dan Manfaat Hasil Pembahasan.
b.    Pada Bab II dijelaskan tentang Tinjauan Pustaka dari beberapa sumber buku yang kami baca yang berisi pengertian atau definisi dari apa yang akan kami bahas.
c.    Bab III berisi tentang Metodologi Penelitian terdiri  dari  pendekatan  dan    jenis  penelitian,  lokasi penelitian,  sumber  data,  prosedur  penelitian,  analisis  data,  pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian.
d.    Bab IV tentang Pembahasan tentang rumusan masalah yang telah kami ajukan sebelumnya dalam Jurnal ini.
e.    Bab V bagian Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggungjawaban disertakan pula Daftar Pustaka.

1.4  Manfaat Hasil Pembahasan

Setelah penulis membahas materi ini penulis berharap Jurnal ini dapat bermanfaat bagi pembaca, untuk memahami bagaimana seharusnya penerapan Mata Pelajaran IPS itu sendiri, setelah melihat hasil dari penilitian kami terhadap penerapan mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang tepat sasaran atau tidaknya, sehingga nantinya menyadarkan kepada kita bahwa bukan sekedar hanya paham teori yang kita tanamkan ke peserta didik, namun juga nilai-nilai karakter yag ada juga harus terwujud dalam pembelajaran IPS itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial

     Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SLDB sampai SMP/MTs/SMPLB, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu social. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi.[1]
     Dalam hal ini pemahaman terhadap IPS itu sendiri penting untuk dijadikan acuan terhadap pembahasan jurnal ini, mengapa begitu? karena ketika kita mempunyai pemahaman yang keliru tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) akan menimbulkan implementasi yang kurang tepat pula, sehingga akan jauh dari apa yang diharapkan dalam tujuan IPS itu sendiri dan tujuan pembuatan Jurnal ini. Seperti yang telah dijelaskan dalam latar belakang, IPS adalah ilmu yang lebih menekankan kepada pendekatan multidisiplin atau interdisiplin, dimana topik-topik dalam IPS dapat kita manipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau permasalahan yang bersperspektif interdisiplin.[2] Dan seperti yang kita ketahui pula bahwa IPS juga mempunyai sifat multidimensional yang itu berarti IPS meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan. Itu artinya dalam hal ini IPS bukan merupakan Ilmu yang hanya dibahas dari satu aspek bidang Ilmu. Namun dalam hal ini IPS merupakan ilmu yang lebih menekankan pemecahan dalam gejala sosialnya melalui berbagai bidang Ilmu yang ada, seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan dan sebagainya. Yang berarti merupakan suatu “pemerkosaan” apabila kita mengajarkan kepada peserta didik Mata Pelajaran IPS yang sama sekali kita tidak menghubunkan keterkaitan antara materi yang dibahas dengan ilmu-ilmu yang ada. Disini kami bermaksud membawa pikiran pembaca agar lebih mengetahui arti dari IPS itu sendiri. Bukan hanya kita sekedar mengetahui pengertian dari IPS namun tidak mengetahui hakikat dari IPS itu sendiri.
     Secara sederhana uraian kami di atas mengandung arti bahwa pembelajaran IPS, membelajarkan siswa untuk memahami bahwa masyarakat ini merupakan suatu kesatuan (sistem) yang permasalahannya bersangkut-paut dan pemecahannya memerlukan pendekatan-pendekatan yang komprehensif dari sudut ilmu hukum,  ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu sosial lain, seperti geografi, sejarah, antropologi, dan lainnya.[3]
     Sehingga kami menyimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kajian tentang studi manusia yang bersangkutan dengan studi sosial dalam masyarakat yang bersifat multidisipliner atau interdisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan dengan meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan sehingga tidak menekankan pada bidang teoritis.

2.2Tujuan Pendidikan IPS
     Tujuan merupakan suatu pedoman ketika kita melangkah. Ketika kita berjalan tanpa arah/tujuan tentu kita tidak akan tahu kapan kita akan mencapai batasnya. Kapan kita akan sampai ke suatu titik maksimal. Tentu dalam hal ini Ilmu Pengetahuan Sosial pun mempunyai tujuan yang hendak dicapai, mempunyai pedoman yang harus diwujudkan, sehingga IPS pun tidak berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dalam jurnal, Bab Tinjauan Pustaka ini kami sengaja memasukkan Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial ke dalam pembahasan kami. Mengapa? Karena, ini menjadi pedoman untuk kami dalam membuat Jurnal ini yang pembahasannya memang harus mengacu dari tujuan IPS itu sendiri.
     Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah adalah mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan agar menjadi wara negara yang baik.[4]
     Sehingga jelas sekali tujuan yang telah diuraikan di atas, yang sebenarnya IPS bukan menjadikan peserta didik sebagai ahli-ahli ilmu sosial (sejarah, ekonomi, sosiologi, hukum, antropologi, psikologi sosial atau lainnya), namun membentuk sikap hidup seperti yang diharapkan bagi proses pembangunan saat ini dan masa mendatang sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dan negara.
     Sangat miris apabila melihat praktek atau pengajaran yang terjadi di dunia persekolahan pada saat ini, yang kenyataannya IPS hanya dijadikan suatu mata pelajaran yang membosankan bagi para peserta didik karena terlalu banyak teori yang harus mereka hafal padahal IPS bukan bertujuan untuk memenuhi ingatan pengetahuan peserta didik dengan berbagai fakta dan materi yang harus dihafalnya, melainkan membina mental yang sadar akan tangggung jawab terhadap hak dirinya sendiri dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Pembelajaran IPS merupakan upaya menerapkan teori-konsep-prinsip ilmu sosial untuk menelaah pengalaman, peristiwa, gejala, dan masalah sosial yang secara nyata terjadi di masyarakat. Melalui upaya ini, pembelajaran IPS melatih keterampilan para siswa baik keterampilan fisik maupun kemampuan berpikirnya dalam mengkaji dan mencari pemecahan dari masalah sosial yang dialaminya.
     Para siswa sebagai bagian dari masyarakat harus mampu melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat baik sebagai warga negara, warga masyarakat yang sadar akan tanggung jawab dengan menampilkan tingkah laku, perbuatan, dan tindakan yang penuh dengan makna bagi kepentingan bersama. Pada akhirnya mereka diharapkan menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Inilah yang hendak dituju melalui pembelajaran IPS.[5]
Lima kriteria kemampuan yang harus dikembangkan
1.      Kemelek-wacanaan masalah sosial (social literacy)
2.      Kemampuan komunikasi sosial (social communication skills)
3.      Pemecahan masalah sosial ( social problem solving)
4.      Berpikir kritis (critical thinking)
5.      Keterpaduan (integration)[6]


2.3Pendidikan Karakter
                       
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah sekolah yang ada masih disibukkan dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari hari para siswa.
Saatnya para pengambil kebijakan, para pendidik, orang tua dan masyarakat senantiasa memperkaya persepsi bahwa ukuran keberhasilan tak melulu dilihat dari prestasi angka angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul.

a.    Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

b.      Konsep Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

c.       Kofigurasi dan Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.
       Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.[7]
       Nilai-nilai di bawah ini merupakan uraian berbagai perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik sebagai dasar pembentukan karakternya yakni: nilai keutamaan, nilai kerja, nilai cinta tanah air (patriotisme), nilai demokrasi, nilai kesatuan, menghidupi nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai di atas diambil sebagai garis besarnya saja, sifatnya terbuka,artinya masih bisa ditambahkan nilai-nilai lain yang relevan dengan situasi sekolah. Misalnya: taqwa kepada Tuhan, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan, dapat dipercaya,rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, kewarganegaraan/citizenship, ketulusan, berani, tekun, integritas, jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, kerjasama.
Pendidikan karakter di sekolah memerlukan prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa dan setiap individu yang bekerja di sekolah tersebut. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
a.       Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu yakini.
b.      Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.
c.       Karakter  yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal, sebab mengandung resiko.
d.      Jangan pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan bagi dirimu. Kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.
e.       Apa yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif. Seorang individu bisa mengubah dunia.
f.       Bayaran bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang lebih baik, dan ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni.

Strategi dan Metodologi Pendidikan Karakter

Strategi yang diterapkan oleh pendidikan karakter  yaitu dengan menggunakan strategi terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya. Nilai-nilai karakter dapat disampaikan melalui mata pelajaran: agama, pendidikan kewarganegaraan (PKn), pendidikan jasmani dan olah raga, IPS, bahasa Indonesia dan pengembangan diri. Pendidikan karakter di sekolah lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai.Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh harus menentukanmetode yang dipakai, sehingga tujuan pendidikan karakter itu akansemakin terarah dan efektif. Adapun unsur-unsur yag harus dipertimbangkan dalam menentukan metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter antara lain :

Mengajar, yaitu dengan cara mengajarkan nilai-nilai itu sehingga peserta didik memiliki gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bias dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya. Keteladanan, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, kepalasekolah, dan staf administrasi disekolah yang dapat dijadikan sebagai model teladan bagi siswa.Karena siswa akan lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.

Menentukan prioritas, yaitu setiap yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan yang ingin menekankan pendidikan karakter juga harus memahami secara jernih prioritas nilai apakah yang ingin ditekankan dalam pendidikan karakter dalam satuan pendidikan tertentu.

Refleksi, yaitu mengadakan semacam pendalaman, refleksi untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikankarakter. Metode-metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter misalnya dengan menggunakan pendekatan penanaman nilai (InculcationApproach), perkembangan moral kognitif, analisis nilai (Values Analysis Approach), klarifikasi nilai, pembelajaran berbuat (ActionLearning Approach), Student Active Learning, Developmentally Appropriate Pro Contextual Learning yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.

Penilaian Pendidikan Karakter
Penilaian adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan serta perkembangan karakter yang dicapai siswa. Tujuan penilaian dilakukan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai yang dirumuskan sebagai standar minimal telah dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dihayati, diamalkan, diterapkan dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. 
Penilaian pendidikan karakter lebih dititik beratkan kepada keberhasilan penerimaan nilai-nilai dalam sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai karakter  yangditerapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penilaian dapat berbentuk penilaian sikap dan perilaku, baik individu maupun kelompok.Cara penilaian pendidikan karakter pada peserta didik dilakukan oleh semua guru. Penilaian dilakukan setiap saat, baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran, dikelas maupun di luar kelas dengan cara pengamatan dan pencatatan. Instrumen penilaian dapat berupa lemabar observasi, lembar skala sikap, lembar portofolio, lembar check list, dan lembar pedoman wawancara.Informasi yang diperoleh dari berbagai teknik penilaian kemudian dianalisis oleh guru untuk memperoleh gambaran tentang karakter peserta didik.Gambaran menyeluruh tersebut kemudian dilaporkan sebagai suplemen buku rapor oleh wali kelas.[8]

2.3.1   Standar Kompetensi IPS Sekolah Menengah Pertama

            Standar adalah batas minimal dan kompetensi adalah kemampuan. Sehingga Standar Kompetensi adalah batas minimal kemampuan yang harus dimiliki peserta didik, dimana kemampuan disini mengambarkan kepada ranah prilaku yang harus dimiliki peserta didik, baik itu ranah kognitif, psikomotor, ataupun afektif. Tentunya pada Jurnal ini Standar Kompetensi yang dimaksud ialah dalam Mata Pelajaran IPS. Kami ingin pembahasan kami ini mempunyai landasan yang jelas, sehingga disini kami menguraikan sedikit tentang standar kompetensi mata pelajaran IPS yang harus dicapai oleh peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Pertama.
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas                  : VII(tujuh)
Semester            : 1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami lingkungan kehidupan manusia.
                                    2. Memahami kehidupan sosial manusia.
3. Memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan.
Semester            : 2(dua)
Standar Kompetensi : 4. Memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungannya.
5. Memahaami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Buddha sampai masa Kolonial Eropa.
6. Memahami kegiatan ekonomi masyarakat.

Kelas    : VIII (delapan)
Semester               : 1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
2. Memahami proses kebangkitan nasional.
3. Memahami masalah penyimpangan sosial.
4. Memahami kegiatan pelaku ekonomi di masyarakat.
Semester            : 2 (dua)
Standar Kompetensi : 5. Memahami usaha persiapan kemerdekaan.
6. Memahami pranata dan penyimpangan sosial.
7. Memahami Kegiatan perekonomian Indonesia.
Kelas    :  IX (sembilan)
Semester               :  1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami kondisi perkembangan negara di dunia.
2. Memahami usaha mempertahankan kemerdekaan
3. Memahami perubahan sosial budaya
4. Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan
Semester               :  2 (dua)
Standar Kompetensi : 5. Memahami hubungan manusia dengan bumi,
6. Memahami usaha mempertahankan Republik Indonesia
7. Memahami perubahan pemerintahan dan kerjasama internasional.

                        Karakter siswa yang diharapkan :    Disiplin ( Discipline )
Rasa hormat dan perhatian ( respect )
Tekun ( diligence )
Tanggung jawab ( responsibility )
Ketelitian ( carefulness)[9]

Dari rancangan kurikulum yang ada di atas, memang benar menurut kami setiap standar kompetensi IPS memang mengarah kepada tujuan IPS yang telah kami bahas sebelumnya seperti contohnya saja standar kompetensi di kelas VII semester 1, yang mengharapakan peserta didik dapat memahami kehidupan sosial manusia, dan karakter siswa yang diharapkan juga sesuai dengan tujuan IPS telah dibahas sebelumnya. Namun dalam hal ini apakah semua standar kompetensi di atas telah terlaksana dengan baik. Dan apakah siswa telah mempunyai karakter seperti yang memang diharapkan. Kita akan mengetahui di Bab IV nanti pembahasan apakah semua standar kompetensi di atas benar-benar terwujud atau hanya sebuah rancangan yang tidak ada penerapannya.

2.3.2   Kesadaran Sosial
            Dalam Bab ini kami juga memasukkan bahasan mengenai Kesadaran Sosial, karena menurut kami ini penting, dan berkaitan dengan rumusan masalah yang ingin kami jawab. Aspek Kesadaran Sosial mungkin sebenarnya hanya wakil dari standar kompetensi yang harus dicapai seharusnya, karena kami sendiri pun menyadari bahwa dalam meninjau implementasi IPS di SMP seharusnya tidak hanya mengenai kesadaran sosialnya saja, namun ada banyak aspek-aspek penting yang seharusnya kami bahas dan dijadikan tolak ukur. Namun kami bermaksud untuk aspek ini bisa mewakilkan atau setidaknya menjadi salah satu tolak ukur untuk tinjauan kami mengenai implementasi mata pelajaran IPS pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.

1.    Kesadaran Seseorang akan Hak dan Kewajiban (Hakekat Keutamaan Manusia Sosial)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesadaran sosial adalah kesadaran seseorang secara penuh akan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat (Tim Penyusun KBBI, 1988 : 765). Berdasarkan pengertian ini, konsep kesadaran sosial memiliki dua keutamaan hidup manusia yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, yakni hak dan kewajiban seorang pribadi manusia sosial.
Hak sebagai dasar bagi berbagai kewajiban dalam diri seseorang. Hak yang dimana dapat diartikan sebagai sesuatu yang mendorong, memotivasi dan memaknai suatu aktivitas seorang pribadi dalam perilaku masyarakat.
Dengan kesadaran akan haknya seorang pribadi manusia mampu untuk memahami sebuah realitas dalam masyarakat sosial.
Tanggungjawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang dinamakan hak. Tanggung jawab merupakan perbuatan yang sangat penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena tanpa tanggungjawab, semuanya akan menjadi kacau. Bagaimanapun juga tanggungjawab menjadi nomor satu didalam kehidupan seseorang. Dengan kita bertanggungjawab, kita akan dipercaya orang lain, dan mendapatkan hak dengan wajar. Dengan demikian tanggungjawab adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan, karena tanggungjawab menyangkut orang lain dan terlebih diri kita (Chang, 2001a : 48).

2.    Kesadaran Seseorang akan Realitas Sosial yang Terjadi pada Jamannya (Konteks Aplikasi Keutamaan Manusia Sosial)
Untuk memahami konsep kesadaran sosial yang dimaksud penulis terlebih dahulu perlu memahami intelegensi interpersonal. Intelegensi sendiri adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan sistuasi yang nyata. Intelegensi interpersonal hanya akan muncul jika seseorang memiliki kemampuan dalam memahami situasi dan kondisi orang lain. Situasi dan kondisi tersebut dapat ditemukan jika adanya pergulatan langsung dalam hidup bermasyarakat. Kesadaran sosial merupakan salah satu wujud konkrit dari intelegensi interpersonal (Harymawan, 1988 : 13).
Kesadaran sosial merupakan hasil belajar memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, yang mampu membawa sesorang pada suatu pengambilan sikap yang berani mengambil tindakan untuk melawan unsur yang menindas dari realitas tersebut. Menurut Freire sendiri, sebuah kesadaran sosial muncul karena seseorang harus memiliki intelegensi sosial. Intelegensi ini tidak hanya sebatas kepekaan, rasa simpatik dan empatik terhadap situasi masyarakat yang sedang mengalami penindasan baik fisik maupun psikis, tetapi sebuah bentuk kesepahaman seseorang akan realitas sosial sehingga dirinya paham apa yang seharusnya dilakukan dalam menyikapi realitas tersebut. Meskipun hal itu harus melawan sturuktur atau sistem yang telah ada di dalam masyarkat itu sendiri. Intelegensi sosial nyata dalam kesadaran seseorang akan realitas sosial yang terjadi pada zamannya(Freire, 1972 : 1)
3.    Peran Penting Kesadaran Sosial dalam Realitas Kehidupan Masyarakat
Berdasarkan hasil pemaparan tentang konsep kesadaran sosial, penulis menemukan sekurang-kurangnya ada lima peran penting dari kesadaran sosial bagi perilaku kehidupan sosial manusia dalam masyarakat.

a.   Menyadarkan bahwa Manusia adalah Mahluk Sosial
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa komunikasi dengan orang lain. Pada hakekatnya manusia tidak ada yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi kekurangan seseorang akan terpenuhi saat manusia melakukan komunikasi sosial. Dalam komunikasi sosial, seluruh anggota masyarakat menciptakan suatu sistem nilai dan norma. Sistem nilai dan norma tersebut berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan segala aktivitas di masyarakat. Meskipun demikian sistem norma yang telah ada tidak selalu akan membentuk masyarakat yang tertib, seimbang dan harmonis, namun diperlukan adanya kesadaran sosial seluruh anggota masyarakat (Chang, 2001a : 47).

b.   Menyadarkan Manusia akan Norma yang Berlaku di Masyarakat
Dalam kenyataan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sangat terlihat bahwa tingkat kesadaran sosial di masyarakat mengalami pemudaran bahkan bisa dikatakan perlahan-lahan sirna atau hilang. Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan yang terjadi di Indonesia bahwa jaman sekarang maraknya korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara, adanya kekerasan rumah tangga, perkelahian di mana-mana, warga masyarakat yang main hakim sendiri, penyuapan, makin beragamnya penipuan di masyarakat, penyimpanan sosial dan hal-hal lain yang berdampak negatif dalam hidup bermasyarakat (Chang, 2001b : 41).
Dengan melihat hal-hal tersebut, dikatakan bahwa kesadaran sosial telah hilang sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kecenderungan untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa memperdulikan lagi kaidah sosial yang berlaku.  Apabila hal ini terus terjadi dan tidak ada usaha untuk mengubah situasi tersebut menjadi lebih baik maka dapat dipastikan bahwa kehidupan bermasyarakat menjadi tidak tentram, yang kuat akan berkuasa, yang pandai akan menguasai yang bodoh dan yang kaya akan menguasai yang miskin. Tidak akan ada lagi demokrasi di masyarakat dan ketentraman hidup yang didambakan akan sirna. Norma mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri sendiri dan sesama (Chang, 2001a : 87).

c.    Menyadarkan Manusia untuk Menciptakan Keseimbangan, Keserasian dan Keharmonisan dalam Hidup Bermasyarakat
Dengan melihat bahwa manusia belum sepenuhnya mengikuti akan sistem norma yang telah ada dalam masyarakat, kesadaran sosial sangat berperan penting dalam situasi seperti ini. Apabila manusia tidak ada usaha untuk menjalankan norma-norma yang ada, kehidupan masyarakat pun tidak tertib, tidak seimbang dan bahkan tidak harmonis. Oleh karena itu, semua anggota masyarakat baik yang kuat, lemah, kaya, atau pun miskin dituntut untuk meningkatkan kesadaran sosial sehingga ketentraman dan pembebasan akan terwujud di masyarakat (Freire, 1972  :13). Manusia harus mempunyai kesadaran untuk memahami setiap perbedaan yang ada, sehingga perbedaan-perbedaan itu bukan menjadi penghancur dalam masyarakat tetapi sebaliknya sebagai motivasi seluruh anggota masyarakat untuk membangun kesatuan yang lebih kuat.

d.   Menyadarkan Manusia akan Status dan Perannya
Adanya kesadaran bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidup harus memperhatikan beberapa aspek di masyarakat sehingga tidak menimbulkan benturan kepentingan dan peran. Manusia harus menyadari bahwa masing-masing individu melaksanakan status dan peran yang disandangnya dengan penuh tanggungjawab serta memperhatikan kaidah yang berlaku. Dengan menyadari bahwa ada status dan peran akan timbul rasa kebersamaan, dan dapat saling membantu satu sama lainnya (Chang, 2001a : 48).

e.    Memberi Pandangan dalam Mengambil Sikap untuk Mengatasi Permasalahan Sosial
Kesadaran sosial bukanlah suatu hal yang ekstrim, melainkan sebagai hasil belajar dari pemahaman tentang keadaan sosial yang ada. Kesadaran sosial berperan membawa seseorang pada suatu pengambilan sikap dalam mengatasi keadaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat pada zamannya. Tidak hanya sampai disitu kesadaran sosial juga berperan membawa seseorang berani mengambil tindakan untuk melawan unsur yang menindas (Freire, 1972: 1).[10]

2.3.3   Kecakapan Peserta Didik
     Kecakapan merupakan salah satu aspek yang ingin diwujudkan dalam tujuan mata pelajaran IPS di sekolah, maupun dalam tujuan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (UU  Sisdiknas)  pasal  3  yang berbunyi, “Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab”. 
     Dalam hal ini pengembangan kecakapan hidup di dasarkan atas pokok-pokok pikiran bahwa hasil proses pembelajaran selain berupa penguasaan siswa terhadap kompetensi, kemampuan dasar, dan materi pembelajaran tertentu, juga berupa kecakapan lain yang secara implisit di peroleh melalui pengalaman belajar. Hasil yang positif atau bermanfaat ini di sebut juga nurturant effect. Sebagai contoh, dalam mempelajari topic “demokrasi” , komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan menjadi warga negara yang aktif berpartisifasi dalam kehidupan bermasyarakat.
    Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan pembelajaran perlu di pilih alternative pengalaman belajar yang semanksimal mungkin membantu siswa memiliki kecakapan hidup yang relevan dengan kebutuhan siswa untuk mempertahankan, dan mengembangkan hidup yang di peroleh melalui pengalaman belajar di harapkan siswa baik sebagai individu, maupun sebagai warga masyarakat dapat memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah di pelajari.
     Jenis-jenis kecakapan hidup yang perlu di kembangkan melalui pengembangan belajar antara lain meliputi:
1.      Kecakapan diri (personal skill)
§  Penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan YME
§  Mandiri
§  Motivasi berprestasi
§  Komitmen
§  Percaya diri
2.      Kecakapan berpikir rasional (thinking skill)
§  Berpikir kritis dan logis
§  Berpikir sistematis
§  Cakap menyusun rencana secara sistematis
§  Cakap memecahkan masalah secara sistematis
3.      Kecakapan sosial (social skill)
§  Kecakapan berkomunikasi lisan/tertulis
§  Kecakapan bekerjasama, kolaborasi, lobi
§  Kecakapan berpartisipasi
§  Kecakapan mengelola konflik
§  Kecakapan mempengaruhi orang
4.      Kecakapan akademik (academic skill)
§  Kecakapan merancang, melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiah
§  Kecakapan membuat karya tulis ilmiah
§  Kevakapan mentransfer dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecahkan masalah, baik berupa proses maupun produk
5.      Kecakapan vokasional (vocational skill)
§  Kecakapan menemukan algoritme, model, prosedur untuk mengerjakan suatu tugas
§  Kecakapan melaksanakan prosedur
§  Kecakapan menciptakan produk dengan menggunakan konsep, prinsip, bahan dan alat yang telah di pelajari[11]

2.4Model Pembelajaran Kontekstual
            Pendidikan karakter yang telah diuraikan diatas merupakan poin-poin dimana seharusnya apa yang ditanamkan pada peserta didik. Dan merupakan pengetahuan yang menjadi pedoman bagi seorang pendidik dalam pencapaian tujuan pada proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam hal ini kami sedikit membahas mengenai bagaimana contoh pengajaran kontekstual sebagai implementasi yang seharusnya bisa diterapkan pada saat proses pembelajaran sehingga dalam hal ini pembelajara dari IPS pun tidak akan lagi menjadi membosankan. Namun sebelumnya kami ingin memeberikan penjelasan mengenai apa yang dimakasud dari pengajaran kontekstual itu sendiri.
            Elaine  B.Johnson  (2007:19)  merumuskan  Contectual  Teaching  and Learning (CTL) sebagai  :
            “The CTL system is on educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic sebjects with the context of their daily lives, that is,with the context  of  their  personal,  social, and    cultural  circumstances.To  achieve        this  aim,  the  systemencompasses  the following    eight  component  :  making  meaningfull  connections,  doing significantwork,  self-regulated  learning,collaborating,critical  and  creative thingking,  naturating  the  individual,  reaching  high  standards,  using  authentic assessment “
            Kutipan  diatas  mengandung  arti  bahwa  pembelajaran  kontekstual merupakan  suatu  proses  pendidikan  yang  bertujuan  membantu  siswa  melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari,  yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya,  sosial  dan  budayanya.  Untuk  mencapai    tujuan  tersebut  dapat dilakukan,  ada  delapan  komponen  utama  pembelajaran  kontekstual  yaitu: melakukan  hubungan  yang  bermakna,  mengerjakan  pekerjaan  yang  berarti, mengaturkan  cara  belajar  sendiri,  bekerja  sama,  berpikir  kritis  dan  kreatif, memelihara pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi dan penilaian autentik.[12]
            Dari penjelasan di atas, sedikit terurai mengenai apa yang dimaksud pembelajaran kontekstual itu sendiri. Lalu sekarang bagaimana langkah-langkah agar pembelajaran kontekstual tersebut dapat terlaksana. Dibawah ini kami akan sedikit memaparkannya.
            Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.  Menurut  Rusman  (2008:181)    guru  terlebih  dahulu  harus membuat desain (sekenario) pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus  sebagai  alat  kontrol  dalam  pelaksanaannya.  Pada  intinya pengembangan  setiap  komponen    kontekstual  dalam  pembelajaran  dapat dilakukan  sebagai  berikut  : 
Langkah  pertama,  mengembangkan  pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bemakna dengan cara bekerja sendiri,  menemukan  sendiri  dan  mengkonstruksi  sendiri  pengetahuan  dan keterampilan baru yang harus dimilikinya.
Langkah  kedua,  melaksanakan  sejauh  mungkin  kegiatan  inquiry  untuk semua topik yang diajarkan.
Langkah  ketiga,  mengembangkan  sifat  ingin  tahu  siswa  dengan memunculkan pertanyaan – pertanyaan.
Langkah keempat, menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi dan tanya jawab.
Langkah  kelima,menghadirkan  model  sebagai  contoh  pembelajaran,  bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.
Langkah  keenam,  membiasakan  anak  untuk  melakukan  refleksi  dari  setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Langkah  ketujuh,  melakukan  penilaian  secara  objektif,  yaitu  menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.
            Dalam  pembelajaran  kontekstual,  program  pembelajaran merupakan  rencana  kegiatan  kelas  yang  dirancang  oleh  guru,  yaitu  dalam bentuk   sekenario  tahap  demi  tahap  tentang  apa  yang  akan  dilakukan bersama    siswa  selama  berlangsungnya  proses  pembelajaran.  Program tersebut  harus  tercermin    penerapan  dari  ketujuh  komponen  kontektual dengan jelas, sehingga setiap guru memiliki persiapan yang utuh mengenai rencana yang akan dilaksanakan dalam   membimbing  kegiatan  belajar mengajar  di  kelas.  Secara  umum  tidak  ada  perbedaan  mendasar  antara format  pembelajaran  konvensional  dengan  kontekstual,  adapun  yang membedakannya  terletak  pada  penekanannya,  dimana  pada  model konvensional  lebih  menekankan  tujuan  yang  akan  dicapai,  sementara program  pembelajaran  kontekstual  lebih  menekankan  pada  sekenario pembelajarannya, yaitu kegiatan tahap demi tahap yang dilakukan guru dan siswa  dalam  upaya  mencapai  tujuan  pembelajaran  yang  diharapkan.  Oleh karena itu program pembelajaran kontekstual hendaknya :
a.       Nyatakan  kegiatan  utama  pembelajarannya,  yaitu  sebuah  pernyataan kegiatan  siswa  yang  merupakan  gabungan  antara  kompetensi  dasar, materi pokok dan indikator pencapaian hasil belajar.
b.      Rumuskan dengan jelas tujuan umum pembelajarannya.
c.       Uraikan  secara  terperinci  media  dan  sumber  pembelajaran  yang  akan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang diharapkan.
d.      Rumuskan  sekenario  tahap  demi  tahap  kegiatan  yang  harus  dilakukan siswa dalam melakukan proses pembelajarannya.
e.       Rumuskan  dan  lakukan  sistem  penilaian  dengan  memfokuskan  pada kemampuan  sebenarnya  yang  dimiliki  oleh  siswa  baik  pada  saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai belajar.[13]

      Dengan langkah-langkah diatas, siswa  diharapkan  dapat membangun  pengetahuan  dan  konsep  pemikirannya  sendiri  sesuai  dengan  apa yang  mereka  ketahui  dan  alami.  Jadi pembelajaran kontekstual  bagus  untuk dilaksanakan, karena siswa bisa merasakan sendiri secara langsung sehingga lebih
bermakna bagi siswa dan juga guru. Kegiatan  belajar  tidak  harus  dan  tidak  hanya  fokus  berada  di  dalam kelas,  tetapi  belajar  di  luar  kelas  juga  bisa,  malah  lebih  menyenangkan.
      Misalnya Contoh Pengajaran Kontekstual yang dapat dilakukan diluar kelas, contohnya  pada  materi  penawaran  dan  permintaan,  guru  mengajak  siswanya
belajar  di  koperasi  siswa,  koperasi  siswa  menggambarkan  langsung  proses  dan kegiatan jual-beli , sehingga siswa disana tidak hanya bermain tetapi juga belajar.
      Kemudian  guru  menjelaskan  tentang  tujuan pembelajaran  yang  akan  dicapai,  sebelum  memulai  pelajaran  guru  selalu memberikan  pertanyaan  untuk  merangsang  ingatan  siswa.  Setelah  itu  guru menjelaskan  materi  yang  akan  dibahas  pertemuan  hari  itu  yaitu  mengenai permintaan, kemudian guru merangsang pengetahuan siswa  yang terkait dengan permintaan  dengan  memberi  pertanyaan.  Hari  itu  setelah  selesai  melakukan diskusi, sisa waktu digunakan untuk belajar di luar kelas yaitu di koperasi siswa, disana siswa diberi kesempatan untu bebas bertanya dan mengalami sendiri materi pelajaran  hari  itu. 
      Pembelajaran kontekstual sangat tepat digunakan dalam pembelajaran IPS  (Ekonomi)  karena  melibatkan  siswa  secara  langsung  dalam  praktek,  jadi
siswa  tidak  hanya  menguasai  teori  tetapi  juga  dalam  praktenya.  Dalam kenyataannya di lapangan siswa akan belajar dengan baik dan mudah jika  yang
dia  pelajari  berhubungan  langsung  dengan  peristiwa  dan  kejadian  di  sekeliling mereka.  Pembelajaran  kontekstual  juga  sangat  efektif  bila  guru  menyampaikan materi  dengan  menarik  dan  menyenangkan  sehingga  siswa  dapat  menerima dengan  mudah.  Dengan  metode  yang  bervariasi,  menarik,  dan  menyenangkan akan  mengajak  siswa  agar  lebih  tertarik  untuk  belajar  atas  keinginan  dan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan. Dalam pembelajaran kontekstual siswa lebih aktif sedangkan guru sebagai fasilitator dalam menyampaikan materi.
      Guru  menginstruksikan  siswanya  untuk  membentuk  kelompok  dan  membentuk bangku menjadi bentuk U, tujuannya agar guru mudah mengawasi siswanya tapi siswa  tetap  duduk  sesuai  kelompoknya.  Guru  mengawali  dengan  memberi pertanyaan dari materi sebelumnya. Sebagian siswa lupa dengan pertanyaan yang diberikan  oleh  guru  karena  mereka  kurang  memperhatikan  dan  kurang  belajar, guru  memberi  reward  berupa  sebatang  cokelat  kepada  siswa  yang  menjawab pertanyaan dimaksudkan untuk memotivasi siswa supaya lebih giat belajar dan supaya siswa tidak lagi malu atau ragu untuk menjawab pertanyaan maupun memberikan pendapat.  Karena siswa lupa dan masih belum mengerti tentang pelajaran minggu lalu, maka guru  menjelaskan  singkat  konsep-konsep  tentang  permintaan.  Selanjutnya  pada pertemuan  hari  ini  guru  melanjutkan  ke  pembahasan  tentang  penawaran.  Sisa waktu  pelajaran  30  menit,  siswa  diminta  segera  pergi  ke  koperasi  siswa  yang letaknya tidak jauh dari kelas, kali ini siswa segera pergi ke koperasi tanpa banyak membuang  waktu  dan  siswa  tertib.  Di  koperasi,  seperti  pertemuan  sebelumnya, siswa sangat antusias bertanya tentang hal yang mereka diskusikan tadi maupun hal yang mereka ingin tahu.
      Metode  yang  diterapkan  tidak  hanya  belajar  di  dalam  kelas  saja, mereka  bisa  belajar  di  perpustakaan  atau  di  koperasi  siswa.  Siswa  dapat mengaitkan  materi  yang  dipelajari  dengan  kehidupan  di  lingkungan  sekitar mereka  sehari-hari,  membayangkan  kalau  yang  mereka  pelajari  yang  mereka hadapi  dalam  kehidupan  mereka  sehari-harinya,  sehingga  selain  mendapat pengetahuan  dari  materi,  siswa  juga  mendapatkan  pengalaman  secara  langsung. Misalnya  pada  materi  permintaan,  kegiatan  belajar  siswa  beralih  pada  koperasi siswa, disana siswa bisa tahu bagimana permintaan bisa terjadi, bagimana harga barang  bisa  terbentuk,  dan  bagaimana  pedagang/produsen  bisa  memenuhi permintaan sesuai selera konsumennya.
      Pembelajaran  kontekstual  sangat  bermanfaat  bagi  siswa  karena memfokuskan pembelajaran pada lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah
karena siswa jadi lebih berkesan dan bermakna karena mengalaminya sendiri. Dan
dengan  hal  yang  sudah  dilakukan,  siswa  diharapkan  dapat  membangun pengetahuan  dan  konsep  pemikirannya  sendiri  sesuai  dengan  apa  yang  mereka ketahui dan alami.[14]
     














BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1     Objek Penelitian
            Objek Penelitian yang diambil oleh peneliti adalah SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, sebagai salah satu Sekolah unggulan jenjang menengah di Kota Sukabumi. Kami menentukan objek penelitian di SMP Negeri 2 ini karena, kami pikir SMP bisa dijadikan tolak ukur untuk penelitian kami, mewakilkan dari seluruh SMP yang ada di Kota Sukabumi.
SMP Negeri 2 Sukabumi berdiri sejak tahun 1967, bangunan yang di gunakan adalah bekas SMA Negeri  1 Sukabumi (Sekolah Unical). Dari tahun ke tahun estafet kepemimpinan  dari pertama sampai sekarang banyak memberikan warna baru terhadap kemajuan SMPN 2 Sukabumi ini yang banyak meraih prestasi cakap gemilang sehingga sekolah ini menjadi target siswa yang ingin melanjutkan ke tingkat SMP. Dan ketika di bawah kepemimpinan Dr. H. Mumu, M. Pd SMP Negeri 2 Sukabumi mengalami perubahan yang sangat pesat dari mulai pembagunan sekolah maupun  prestasi yang di raih dan yang paling gemilang yaitu pada saat meluluskan SMP Negeri 2 Sukabumi menjadi sekolah SSN dan akhirnya sampai menjadi sekolah RSBI ( Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ) bersama 11 sekolah SMP yang ada di Jawa Barat. Maka tak heran jika selama kepemimpinan beliau SMP Negeri 2 mengalami kemajuan yang luar biasa sehingga bersaing  secara Nasional meupun Internasional. [15]Meskipun pada saat ini SMP Negeri 2 sudah tidak dibawah kepemimpinannya lagi karena beliau dipindah tugaskan, namun SMP Negeri 2 masih menjadi sekolah unggulan yang menjadi contoh sekolah-sekolah menengah lain yang ada di Sukabumi.

3.2     Metode Penelitian

Dalam setiap penelitian selalu menggunakan metode penelitian. Penggunaan metode ini bertujuan untuk memperoleh hasil yang bersifat objektif, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian survey dimana penelitian yang dilakukan oleh populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relative distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.[16]

3.2.1   Desain/rancangan penelitian
            Peneliti menggunakan jenis penelitian tingkat eksplanasi deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan variable satu dengan variabel lainnya.[17]Dimana dalam hal ini kami menentukan variabel yang kami analisis yaitu Implementasi Mata Pelajaran IPS. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menuturkan, menganalisa, penelitian dengan teknik survey, dengan teknik interview, angket, observasi, studi kasus, studi komperatif, analisa kuantitatif. Dan analisa kuantitatif  merupakan salah satu bentuk metode deskriptif (Surakhmad, 1990: 139 dan 230)[18]

3.3     Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[19] Selain itu Soehartono (2008:57) mengungkapkan bahwa populasi merupakan jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan diteliti. Kemudian menurut Sarwono (2006: 111) menyatakan populasi adalah seperangkat unit analisis yang lengkap dan sedang diteliti. Berdasarkan tiga pengertian tersebut dapat dismpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan unit, nilai, ataupun individu yang menjadi obyek penelitian.
Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 2008:57). Dikemukakan pula oleh Namawi (2003:145) bahwa populasi dan sampel itu adalah manusia dan tingkah lakunya yang berbentuk berbagai gejala, benda dan peristiwa.[20] Sedangkan sampel menurut Sugiyono, bahwa sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.[21]
Teknik pengambilan sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Nonprobability Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.[22] Dan disini kami menggunakan khususnya teknik sampling incidental yaitu suatu teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.[23] Adapun sampel yang diambil adalah siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang kami pilih secara acak, beberapa orang dari tiap tingkat kelasnya.
Teknik penentuan anggota sampel yaitu dengan mengambil data jumlah responden untuk seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sebanyak 547 siswa.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat tabel jumlah siswa yang ada di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi pada tahun ajaran 2012/2013.

     Data Jumlah Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun 2012/2013
Kelas
Jumlah Siswa
VII
191 Siswa
VIII
180 Siswa
IX
176 Siswa
Jumlah Total
547 Siswa
      Sumber : SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
Dalam menentukan besarnya sampel menggunakan rumus pengambilan sampel.[24]


Keterangan :
n   = Jumlah ukuran sampel
N  = Jumlah anggota populasi
d   = Presisi yang ditetapkan (10%)
1   = Angka Konstanta
 
 
 
 
 dibulatkan menjadi 85.

Maka:
Alokasi Sampel berdasarkan tingkatan kelasnya[25] :
Keterangan:
ni  = Besarnya ukuran sampel pada masing-masing tingkatan
Ni = Jumlah anggota populasi pada masing-masing tingkatan
N  = Jumlah anggota populasi keseluruhan

Kelas VII              =   orang
Kelas VIII             =  orang
Kelas IX               =   orang



Jumlah Sampel yang Diambil
No
Kelas
Jumlah Sampel
1
VII
30 siswa
2
VIII
28 siswa
3
IX
27 siswa
Jumlah

85 siswa

3.4     Teknik Pengumpulan Data
Guna mendapatkan data yang diperlukan, maka dilakukan pengumpulan data dengan memakai metode Kuesioner (Angket) dan Studi Kepustakaan.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Dan disini kami menggunakan prinsip penulisan angket dalam tipe dan bentuk pertanyaan terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang suatu hal. Dan pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternative jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia.[26] Angket ini diberikan kepada para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang terdiri dari perwakilan kelas tiap tingkatannya. Kelas VII diwakilkan oleh 30 orang, kelas VIII oleh 28 orang dan kelas IX oleh 27 orang, sehingga jumlah keseluruhan ialah 85 orang. Yang kemudian dijadikan sampel untuk menjawab rumusan masalah yang kami ajukan.
Studi Kepustakaan merupakan dalam hal ini peneliti berusaha membaca literature, prosedur, diktat serta laporan penelitian terdahulu yang sesuai atau yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.




3.5     Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang digunakan adalah skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok mengenai sebuah peristiwa atau fenomena sosial, berdasarkan definisi operasional yang telah ditetapkan oleh peneliti. [27]Sedangkan menurut Sugiyono Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Skala Likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indicator variable. Kemudian indicator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan[28].
Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negative, yang terdiri dari lima alternantif jawaban. Dengan nilai angka skor yang sama, walaupun berbeda dalam pilihan alternatif jawaban dalam setiap pernyataan yang diberikan. Untuk mengukur hasil jawaban responden peneliti menetapkan skor untuk masing-masing alternative, yaitu:
·      Sangat Setuju (SS)                    5
·      Setuju (S)                                 4
·      Ragu-Ragu (R)             3
·      Kurang Setuju (KS)                  2
·      Sangat Tidak Setuju (TS)          1
                   Adapun alternatif jawaban lainnya dengan jumlah skor yang sama seperti:
·         Selalu (SL)                               5
·         Sering (SR)                               4
·         Kadang-Kadang (KK)              3
·         Jarang (JR)                               2
·         Tidak Pernah (TP)                    1
Teknik pengumpulan data angket, maka instrumen tersebut diberikan pada sampel. Kemudian dihitung dengan cara:
Skor Sangat Setuju (SS)                5x        Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Setuju (S)                              4x        Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Ragu-ragu (R)                                   3x        Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Kurang Setuju (KS)              2x        Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Sangat Tidak Setuju (TS)      1x        Jumlah item yang dipilih = Skor   +
                                                                 Jumlah item dipilih              Jumlah Skor
Persentasenya :
1.    Jml. Responden persen menyatakan SS           : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %
2.    Jml. Responden persen menyatakan S : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %
3.    Jml. Responden persen menyatakan R            : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %
4.    Jml. Responden persen menyatakan KS          : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %
5.    Jml. Responden persen menyatakan TS           : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %

     Untuk mengetahui skor kumulatif dari tiap variabel digunakan cara berikut dibawah ini:
1.    Total skor sangat rendah
            Jumlah item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 1 = Skor
2.    Total skor rendah
            Jumlah item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 2 = Skor
3.    Total skor sedang
            Jumlah item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 3 = Skor
4.    Total skor tinggi
            Jumlah item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 4 = Skor
5.    Total skor sangat tinggi
            Jumlah item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 5 = Skor


Secara garis kontinum dapat digambarkan sebagai berikut:

Sangat Rendah       Rendah            Sedang             Tinggi              Sangat Tinggi






Skor sangat rendah    Skor rendah     Skor sedang     Skor tinggi       Skor sangat tinggi

3.6     Teknik Analisis Data
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, mengajukan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah yang telah diajukan.[29]

3.6.1   Uji Validitas Instrumen
Dalam hal uji validitas Instrumen ini, perlu menurut kami sebagai peneliti untuk terlebih dahulu menjelaskan mengenai Validitas Instrumen tersebut. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.[30]Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis tiap item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir  dengan skor yang merupakan jumlah tiap skor butir.[31] Dengan menggunakan rumusan korelasi product moment.[32]

Rumus:  
Keterangan:
                        : Korelasi product moment
          : Jumlah x.y
          : Jumlah skor jawaban variabel x dikuadratkan
          : Jumlah skor jawaban variabel y dikuadratkan

Hal analisis item ini, Masrun menyatakan teknik korelasi untuk menentukan validitas item ini sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan. Selanjutnya dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi, Masrun menyatakan item yang mempunyai korelasi positif dengan skor total (kriterium) serta korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r = 0,3. Jadi kalau korelasi antar butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir dalam instrument tersebut dinyatakan tidak valid.[33]
Adapun dalam hal ini adalah angket yang telah disebar kepada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang akan diuji validitas dari angket tersebut.
Berdasarkan angket yang telah disebarkan, diolah dan selanjutnya akan diuji validitas dari data tersebut. Kami telah menentukan terlebih dahulu jumlah X2, Y2 dan X.Y dalam variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Untuk lebih jelasnya maka, kami akan memaparkan pengujian validitas pada item no.1 variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS adalah sebagai berikut:
Pengujian Validitas Instrumen Variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS studi pada SMP Negeri 2 Kota Sukabumi Item no.1
Berdasarkan hasil perhitungan dari table (terlampir dalam lampiran) maka untuk item no.1 variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS untuk menyatakan validitasnya dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu sebagai berikut:
 
 
 
Rumus:  
 
 
 
 
Berdasarkan pengujian validitas setelah dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment maka hasil item no.1 variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS sebesar 0,46 dengan demikian item tersebut dinyatakan valid dan dapat dipergunakan selanjutnya. Satu persatu item dari variabel tersebut kami hitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Dan untuk perhitungan no 2 dan selanjutnya tidak dijelaskan secara mendetail karena perhitungsn untuk item berikutnya sama seperti pada item no 1, untuk lebih jelasnya hasil perhitungan uji validitas variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS studi pada SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Hasil perhitungan pengujian validitas konstruk implementasi mata pelajaran IPS
No. Butir Instrumen
Koefisien Korelasi
Keterangan
1
0,46
Valid
2
0,53
Valid
3
0,43
Valid
4
0,37
Valid
5
0,37
Valid
6
0,32
Valid
7
0,38
Valid
8
0,41
Valid
9
0,43
Valid
10
0,60
Valid
11
0,65
Valid
12
0,61
Valid
13
0,53
Valid

Dari uji validitas tersebut ternyata koefisien korelasi semua item instrument dinyatakan valid karena setiap butir instrument di atas 0,30. Item yang mempunyai validitas tertinggi adalah item no. 11 dengn koefisien korelasi sebesar 0,65 dan paling rendah item no. 6 dengan koefisien relasi sebesar 0,32.



3.6.2         Uji Reliabilitas Instrumen
Sama halnya dengan uji validitas instrumen. Disini kami akan menjelaskan sedikit mengenai uji reabilitas instrumen. Instrumen yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrument yang tidak reliable/konsisten.[34]
Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal consistency dengan Teknik Belah Dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown.
Keterangan:
ri = Reliabilitas internal seluruh instrument
rb = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua
Untuk keperluan itu maka butir-butir instrument di belah menjadi dua kelompok genap. Selanjutnya skor data tiap kelompok itu disusun sendiri. Untuk mengetahui kelompok ganjil dan kelompok genap kami masukkan tabelnya pada lampiran. Dimana skor ganjil, skor butirnya dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total. Selanjutnya skor total antara kelompok ganjil dan genap dicari korelasinya.[35]
          Pengujian Reliabilitas Variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS
Sebelum dimasukkan ke dalam rumus spearman brown maka harus dicari dahulu koefisien korelasinya dengan rumus korelasi product moment, perhitungannya sebagai berikut:
 
 
 
Rumus:  
 
 
 
 
Setelah koefisien korelasinya dihitung dan diketahui sebesar 0,56, lalu koefisien korelasi ini selanjutnya dimasukkan dalam rumus spearman brown sebagai berikut:
         
         
         
         
Jadi reliabilitas instrumen variabel Implementasi mata pelajaran IPS sebesar 0,72 karena berdasarkan uji instrument ini sudah valid dan reliable seluruh butirnya, maka instrumen dapat digunakan untuk pengukuran dalam rangka pengumpulan data. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini masih akan dipengaruhi oleh kondisi obyek yang diteliti, dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu peneliti harus mampu mengendalikan obyek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti.[36]







BAB IV
PEMBAHASAN

Pada Bab ini merupakan Bab Pembahasan dari rumusan masalah yang telah kami ajukan dalam jurnal ini dan hasil dari angket yang telah kami sebar kepada 85 siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi kelas VII, VIII, dan IX, dimana kami sebagai peneliti ingin mengetahui sejauh mana implementasi Mata Pelajaran IPS ini kepada para siswa SMP Negeri 2 khususnya. Apakah yang menjadi tujuan IPS itu sendiri telah tercapai atau kah belum. Apakah aspek-aspek yang harus dimiliki peserta didik telah tertanam ataukah belum. Apakah aspek kecakapan dan kesadaran sosial yang kami jadikan rumusan masalah telah peserta didik miliki setelah menerima materi demi materi dalam mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Dari angket yang kami buat, kami membagi antara soal tentang kecakapan dengan soal kesadaran sosial. Nomor 1 sampai dengan nomor 7 merupakan soal tentang kecakapan yang kami ingin tahu sejauh mana aspek kecakapan tersebut terlaksana. Sedangkan soal seterusnya yaitu nomor 8 sampai nomor 13 merupakan soal tentang kesadaran sosial. Berikut kami akan bahas hasil angket tersebut dengan tetap mengacu pada rumusan pertama yang kami ajukan dan ingin kami jawab tentang apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai kecakapan dalam pengaplikasian materi IPS yang disampaikan.

Pertanyaan pertama mengenai apakah dengan belajar IPS membuat peserta didik menjadi cakap dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dan jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
2
10
2%
2
Setuju
4
40
160
47%
3
Ragu-ragu
3
36
108
43%
4
Tidak Setuju
2
7
14
8%
5
Sangat Tidak Setuju
1
0
0
0%
Jumlah
85
292
100%
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 292 dengan persentase 2% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS yang membuat mereka cakap baik lisan ataupun tulisan, dengan 1% dari kelas VII dan 1% dari kelas IX. Dan tidak ada dari kelas VIII yang menyatakan sangat setuju.
Kemudian 47% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS peserta didik merasa lebih cakap dalam hal komunikasi baik lisan ataupun secara tulisan. Itu berarti sebagian siswa merasa dengan adanya mata pelajaran IPS ini sangat membantu mereka dalam hal kecakapan itu sendiri baik lisan ataupun tulisan. Dengan 19% dari kelas VII, 9% dari kelas VIII, dan 19% dari kelas IX.
 Selanjutnya 43% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan. Ini berarti tidak sedikit pula yang ragu-ragu dengan IPS yang membuat mereka lebih cakap, dilihat dari persentase yang hanya berbeda 4% dengan persentase yang menyatakan setuju. Dengan 14% dari kelas VII, 19% dari kelas VIII, dan 10% dari kelas IX.
  Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan. Dengan 1% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII, dan 3% dari kelas IX.
Dari uraian diatas dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 47% yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan. Dimana kecakapan memang salah satu aspek yang menjadi tujuan dari UU Sisdiknas Tahun 2003, dan kecakapan dalam komunikasi baik lisan ataupun tulisan merupakan bagian dari kecakapan itu sendiri. Artinya 47% siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih cakap dalam hal khususnya komunikasi itu sendiri baik lisan ataupun tulisan. Walaupun yang menjawab ragu-ragu tidak sedikit jumlahnya hanya berbeda 4% dengan yang menjawab setuju artinya disini peran guru harus lebih mendorong lagi dalam mengajarkan materi kepada peserta didik, lebih memotivasi siswa lagi agar kelak keseluruhan nantinya mempunyai kecakapan komunikasi yang memang menjadi tujuan. Namun dengan melihat persentase setuju lebih besar dibandingkan dengan yang ragu-ragu setidaknya apa yang menjadi tujuan IPS itu sendiri tentang kemampuan komunikasi sosial yang harus dikembangkan dalam diri siswa pun tercapai.

Pertanyaan kedua mengenai apakah dengan belajar IPS membuat peserta didik lebih bekerja sama dengan teman dan jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
8
40
9%
2
Setuju
4
42
168
49%
3
Ragu-ragu
3
29
87
34%
4
Tidak Setuju
2
6
12
8%
5
Sangat Tidak Setuju
1
0
0
0%
Jumlah
85
307
100%

Berdasarkan hasil angket, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 307 dengan persentase 9% menyatakan sangat setuju bahwa dengan belajar IPS yang membuat mereka lebih bekerja sama dengan teman. Dengan 6% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX.
Persentase Setuju menyatakan 49% setuju bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih dapat bekerja sama dengan teman. Dalam hal ini persentase setuju seperti halnya pertanyaan nomor 1 mendapatkan persentase tertinggi. Dan frekuensi terbanyak. Dengan 11% dari kelas VII, 13% dari kelas VIII, dan 25% dari kelas IX. Artinya siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa setuju bahwa dengan beljar IPS meningkatkan hubungan mereka dengan teman-temannya menjadi lebih baik dengan bekerja sama dengan teman.
 Adapun persentase ragu-ragu menyatakan 34% ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS mereka dapat bekerja sama dengan teman. Dengan 16% dari kelas VII, 14% dari kelas VIII, dan 4% dari kelas IX. Artinya sebagian siswa masih merasa ragu ataupun belum merasakan ketika mereka belajar IPS mereka belum dapat bekerja sama dengan teman.
  Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka dapat bekerja sama dengan teman. Dengan 3% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX. Artinya dari frekuensi yang ada yaitu 850 orang sampel yang diambil 12 orang mengatakan bahwa mereka tidak setuju, mungkin dalam hal ini ada faktor-faktor yang menyebabkan mereka tidak setuju. Bisa karena faktor intern ataupun extern.
Berdasarkan hasil angket tersebut dapat dilihat persentase tertinggi yaitu 49% yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih bekerja sama dengan teman. Artinya dari sampel yang diambil menyatakan bahwa siswa-siswi SMP Negeri 2 merasa dengan belajar IPS mereka lebih dapat bekerja sama dengan temannya. Bisa jadi karena cara penyampaian materi dari guru kepada siswa tidak disampaikan secara monoton namun dengan cara-cara yang membangkitkan siswa lebih menggali kemauannya untuk bisa bekerja sama dengan  teman. Dalam hal ini bekerja sama memang bagian dari kecakapan yang memang ingin kita teliti apakah terwujud dengan baik di siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi ini. Dimana Kecakapan dalam hal bekerja sama disebut denga kecakapan sosial (social skills) sama seperti halnya nomor 1 yaitu kecakapan berkomunikasi lisan/tulisan. Namun tak sedikit pula yang menjawab ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS siswa dapat lebih bekerja sama. Mungkin ini karena proses pembelajaran itu sendiri yang monoton, yang hanya menjejali siswa dengan teori sehingga tidak akan terjadi kerjasama itu sendiri. Disini kembali lagi kepada peran guru untuk memberikan metode pembelajaran yang lebih inovatif, dan kreatif agar kerjasama tersebut dapat terjalin dengan semestinya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.

Pertanyaan Ketiga mengenai peningkatan kepercayaan diri peserta didik setelah belajar IPS dan jawabannya adalah sebagai berikut:

No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
3
15
4%
2
Setuju
4
29
116
34%
3
Ragu-ragu
3
46
138
54%
4
Tidak Setuju
2
7
14
8%
5
Sangat Tidak Setuju
1
0
0
0%
Jumlah
85
283
100%

Adapun dari total skor di atas, menunjukkan bahwa jawaban responden sebanyak 283 dengan persentase 4% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS membuat mereka menjadi lebih percaya diri. Dengan 4% hanya VII sedangkan dari kelas VIII dan IX tidak ada yang memilih sangat setuju.
Lalu 34% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih percaya diri. Dengan 14% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII, dan 13% dari kelas IX. Artinya dilihat dari persentase yang ada bahwa peningkatan kepercayaan diri yang ada setelah belajar IPS diarasakan oleh sebagian siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
 Dan selanjutnya 54% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka lebih percaya diri. Dengan 14% dari kelas VII, 24% dari kelas VIII, dan 16% dari kelas IX. Artinya dilihat dari persentase ragu-ragu yang mempunyai persentase tertinggi berarti setengah dari sampel yang diambil merasa ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS tingkat kepercayaan diri mereka bertambah.
  Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS Dengan 4% dari kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX.
Kesimpulan dari angket pertanyaan nomor 3 dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 54% yang menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS membuat mereka lebih percaya diri. Ini menjadi bahan evaluasi seharusnya bagi pendidik bahwa tingkat kepercayaan diri yang seharusnya ada, dimana termasuk dalam bagian kecakapan itu sendiri pada aspek kecakapan diri khususnya belum dapat tertanam dengan baik pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Mungkin ketika dalam penyampaian materi contohnya pada standar kompetensi memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungan, misalnya siswa diminta untuk observasi atau bisa dibilang melakukan pengamatan atas perkembangan lingkungannya itu sendiri. Lalu siswa diminta untuk mempersentasikannya didepan kelas bisa dengan berkelompok ataupun individu, setidaknya itu akan melatih tingkat kepercayaan diri sisw untuk berbicara didepan kelas, menjelaskan di depan teman-temannya hasil dari pengamatan yang telah siswa lakukan. Mungkin contoh di atas hanya salah satu dari metode yang dapat dipakai oleh pendidik untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Sehingga persentase sebesar 54% siswa yang merasa ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS kepercayaan diri mereka meningkat, akan menjadi berkurang dan akhirnya semua siswa dapat setuju dengan peningkatan kepercayaan diri tersebut. Dan dengan begitu kecakapan diri yang seharusnya dimiliki pun akan terlaksana, dan apa yang menjadi tujuan IPS pun dapat terwujud.


Pertanyaan Keempat mengenai peningkatan motivasi untuk lebih giat belajar setelah pembelajaran IPS dan jawabannya adalah sebagai berikut:

No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
4
20
5%
2
Setuju
4
32
128
38%
3
Ragu-ragu
3
40
120
47%
4
Tidak Setuju
2
8
16
9%
5
Sangat Tidak Setuju
1
1
1
1%
Jumlah
85
285
100%


Pertanyaan keempat ini mempunyai total skor hasil dari jawaban responden sebanyak 285 dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju bahwa dengan pembelajaran IPS mereka lebih termotivasi dalam giat belajar. Dengan 3% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Kemudian 38% menyatakan setuju dengan belajar IPS mereka merasa termotivasi untuk lebih giat belajar. Dengan 11% dari kelas VII, 13% dari kelas VIII, dan 14% dari kelas IX. Artinya sebagian siswa merasa bahwa ketika mereka belajar IPS membuat mereka lebih termotivasi dalam hal belajar.
 Sama halnya seperti pertanyaan nomor 3, disini persentase ragu-ragu merupakan persentase tertinggi dimana 47% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka termotivasi lebih giat belajar. Dengan 18% dari kelas VII, 15% dari kelas VIII, dan 14% dari kelas IX. Artinya kebanyakan siswa merasa ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS mereka lebih termotivasi untuk lebih giat belajar.
  Sebanyak 9% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih termotivasi dalam belajar. Dengan 5% dari kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX. Dan hanya 1% yang menyatakan tidak setuju.
Dari uraian diatas persentase ragu-ragu merupakan yang tertinggi yaitu sebanyak 47%, artinya dalam hal ini para siswa masih ragu apakah pembelajaran IPS yang mereka terima membuat mereka lebih termotivasi untuk lebih giat belajar atau tidak. Mungkin disini tergantung pada individu masing-masing dimana tidak bisa dipungkiri bahwa pasti akan ada mata pelajaran lain yang membuat mereka lebih termotivasi untuk lebih giat belajar dibandingkan mata pelajaran IPS. Namun dalam hal ini kecakapan yang kami maksud tidak terlepas dari kecakapan diri, yang dimana motivasi untuk berprestasi itu penting untuk dimiliki setiap peserta didik. Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran khususnya mata pelajaran IPS, peserta didik harus lebih diajak lagi agar ia termotivasi dalam belajarnya. Mungkin bisa dengan meminta peserta didik mencari atau mempelajari bahan materi yang akan dibahas dipertemuan selanjutnya, sehingga peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar tanpa ia sadari.

Pertanyaan Kelima mengenai kemampuan peserta didik setelah belajar IPS untuk memecahkan masalah sehari-hari, jawabannya adalah sebagai berikut:

No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
8
40
9%
2
Setuju
4
31
124
37%
3
Ragu-ragu
3
42
126
49%
4
Tidak Setuju
2
4
8
5%
5
Sangat Tidak Setuju
1
0
0
0%
Jumlah
85
298
100%

Dilihat dari tabel di atas menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 298 dengan persentase 9% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS membuat mereka dapat memecahkan masalah sehari-hari yang mereka punya. Dengan 6% dari kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Dan 37% menyatakan setuju dengan belajar IPS mereka merasa lebih dapat memecahkan masalah sehari-harinya. Dengan 12% dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 15% dari kelas IX. Artinya sebagian siswa merasa dengan belajar IPS mereka dapat memecahkan masalah yang mereka temui sehari-hari.
 Lalu 49% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka bisa memecahkan masalah yang mereka punya. Dengan 16% dari kelas VII, 19% dari kelas VIII, dan 14% dari kelas IX. Artinya kemampuan memecahkan masalah sehari-hari setelah belajar IPS, masih diragukan oleh siswa SMP Negeri 2, khususnya dapat terlaksana setelah mereka belajar IPS.
  Sebanyak 5% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka dapat memecahkan masalah yang ada. Dengan 1% dari kelas VII, 3% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Kesimpulan dari angket pertanyaan nomor 5 ini dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 49% yang menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS membuat mereka dapat memecahkan masalah sehari-harinya. Dimana dalam hal ini pemecahan masalah sosial termasuk ke dalam kriteria kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam tujuan IPS yang ingin diwujudkan dalam diri peserta didik, bila hasilnya bahwa peserta didik ragu akan bisa memecahkan masalah setelah belajar IPS itu artinya tujuan dari IPS itu belum terlaksana. Padahal dengan belajar IPS seharusnya peserta didik bisa mempunyai kemampuan pemecahan masalah sosial itu sendiri. Karena seperti pembelajaran IPS itu sendiri untuk melatih keterampilan siswa baik keterampilan fisik maupun kemampuan berpikirnya dalam mengkaji dan mencari pemecahan dari masalah sosial yang dialaminya.[37]Mungkin keraguan ini terjadi karena mata pelajaran IPS itu sendiri hanya dijadikan mata pelajaran yang membosankan dengan segudang teori yang harus dihafal oleh peserta didik, sehingga penaplikasian dari teori itu tidak akan terjadi dan akhirnya peserta didik tidak mempunyai kepekaan untuk memecahkan masalah sehari-harinya. Dengan demikian, pendidik yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk memunculkan keterampilan-keterampilan siswa tersebut khusunya dalam pemecahan masalah sosial (social problem solving)

Pertanyaan Keenam apakah dengan belajar IPS membuat peserta didik lebih berpikir kritis dan logis, dan jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
4
20
5%
2
Setuju
4
52
208
61%
3
Ragu-ragu
3
25
75
29%
4
Tidak Setuju
2
4
8
5%
5
Sangat Tidak Setuju
1
0
0
0%
Jumlah
85
311
100%

Dari tabel di atas, pertnyaan keenam mengenai kecakapan menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 311 dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS yang membuat mereka lebih berpikir kritis dan logis. Dengan 3% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Yang menyatakan setuju sebanyak 61% bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih bisa berpikir kritis dan logis. Dengan 21% dari kelas VII, 21% dari kelas VIII, dan 19% dari kelas IX. Artinya kebanyakan dari sampel yang diambil merasa bahwa dengan belajar IPS mereka merasa dapat berpikir kritis dan logis.
 Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebanyak 29% bahwa dengan belajar IPS mereka bisa berpikir kritis dan logis. Dengan 9% dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 10% dari kelas IX. Artinya dalam hal ini untuk anak dapat berpikir kritis dan logis tidak semuanya dapat merasakan setelah pembelajaran IPS dengan begitu masih ada yang harus diperbaiki dalam penanaman aspek tersebut kepada semua peserta didik agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
  Namun sebanyak 5% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih berpikir kritis dan logis. Dengan 4% dari kelas VII, dan 1% dari kelas IX. Dan tidak ada yang menjawab tidak setuju di kelas VIII. Artinya masih ada siswa yang merasa bahwa dengan belajar IPS mereka kurang dapat berpikir logis dan kritis.
Dari hasil angket diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa persentase tertinggi yaitu 61% yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih berpikir kritis dan logis. Ini berarti kecakapan yang kami maksud dalam hal ini khususnya yang termasuk kedalam kecakapan berpikir rasional (thinking skill) yaitu berpikir kritis (critical thinking) dan logis dapat terwujud sekitar 61% dari sampel yang kami ambil. Dimana jumlah ini cukup banyak, dan kami bisa sedikit menyimpulkan bahwa salah satu dari lima kriteria yang harus dikembangkan dalam mata pelajaran IPS ini dapat tercapai pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.  Namun masih ada yang ragu-ragu ataupun tidak setuju dengan pernyataan bahwa dengan belajar IPS dapat berpikir kritis dan logis, ini menunjukkan bahwa masih harus ada perbaikan dalam hal pemberian motivasi dan tindakan dari seorang pendidik sendiri, agar apa yang memang menjadi kriteria kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajaran IPS dilakukan, dpat terlaksana pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.

Pertanyaan Ketujuh mengenai pembuatan suatu karya ilmiah/kerajinan ketika pemebelajaran IPS dilakukan siswa, jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
4
20
5%
2
Setuju
4
27
108
31%
3
Ragu-ragu
3
27
81
31%
4
Tidak Setuju
2
23
46
28%
5
Sangat Tidak Setuju
1
4
4
5%
Jumlah
85
259
100%

Seperti yang terlihat pada tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 259 dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju ketika pembelajaran IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 1% dari kelas VIII, dan 4% dari kelas IX. Namun dari kelas VII memang tidak ada yang menyatakan sangat setuju bahwa mereka ketika belajar IPS pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan, ini bisa jadi karena memang kelas VII materi yang diajarkan belum sampai dapat menguasai untuk membuat suatu karya ilmiah atau kerajinan yang kami maksud, sehingga hanya dari kelas VIII dan kela IX saja yang menyatakan sangat setuju meskipun dengan persentase yang kecil.
Kemudian 31% menyatakan setuju artinya ketika pembelajaran IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 16% dari kelas VIII, dan 15% dari kelas IX. Dan kelas VII tidak ada yang menyatakan setuju. Artinya dalam hal ini pembuatan karya ilmiah/kerajinan dapat dirasakan oleh kelas VIII dan kelas IX saja, dilihat dari persentase yang ada untuk jumlah persentase 31% dari kelas VIII 16% dan dari kelas IX sebesar 15%.
 Lalu 31% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 13% dari kelas VII, 9% dari kelas VIII, dan 9% dari kelas IX. Bisa dilihat antara persentase yang menyatakan setuju dan persentase yang menyatakan ragu-ragu mempunyai persentase yang sama yaitu sebanyak 31%. Ini artinya para siswa yang menyatakan ragu-ragu bahwa mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan setelah belajar IPS tidak kalah banyak dengan yang menyatakan setuju, dilihat dari persentase di antara keduanya yang seimbang.
  Dan sebanyak 28% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 18% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII dan 6% dari kelas IX. Dan 5%  dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak setuju mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan selama belajar IPS. Dilihat dari persentase antara yang menyatakan setuju, ragu-ragu, dan tidak setuju hanya berbeda selisih sebanyak 3% saja. Oleh karena itu dillihat dari persentase yang hanya berbeda sedikit saja, tidak menutup kemungkinan bahwa para siswa yang menyatakan tidak setuju bahwa mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan ketika pembelajaran IPS pun tidak kalah banyak.
Kesimpulannya dapat dilihat bila persentase antara setuju dan ragu-ragu seimbang yaitu 31% yang menyatakan setuju dan ragu-ragu ketika pembelajaran IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dan yang menyatakan tidak setuju pun hanya berbeda selisih 3% saja. Hal ini seharusnya menjadi perhatian para pendidik bahwasanya keterampilan peserta didik dalam membuat suatu karya ilmiah/kerajinan pun akan menjadikan peserta didik cakap khususnya dalam hal kecakapan akademik (academic skill), dimana dengan begitu peserta didik dapat sekaligus berlatih bagaimana mengembangkan kemampuannya dalam hal pemecahan masalah, berpikir krits, dan mewujudkan peserta didik yang mempunyai kemelek-wacanaan maslah sosial, meskipun pada tahap tertentu memang baru diajarkan sekilas setidaknya peserta didik diajak untuk mengenal bagaimana membuat suatu karya ilmih/kerajinan dalam hal ini pada mata pelajaran IPS itu sendiri.
Setelah pertanyaan demi pertanyaan dari pertama sampai ketujuh kami uraikan jawabannya dalam bentuk angket yang telah kami sebar, dan telah kami simpulkan dari setiap pertanyaan yang ada di atas.
Maka kita dapat menarik kesimpulan dari Ketujuh soal yang telah dibahas sebelumnya dari angket di atas, menyangkut mengenai soal kecakapan. Dari ketujuh itu bisa dilihat bahwa mengenai kecakapan dari ketujuh soal di atas mengenai, kemampuan berkomunikasi baik lisan ataupun tulisan, bekerja sama dengan teman, peningkatan kepercayaan diri, motivasi, pemecahan masalah, berpikir kritis dan logis, dan pembuatan suatu karya ilmiah atau kerajinan, ketujuh aspek tersebut termasuk kedalam suatu kemampuan dalam hal kecakapan yang harus dimiliki peserta didik sesuai dengan tujuan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (UU  Sisdiknas)  pasal  3  yang berbunyi, “Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab”. 
Dan hasilnya dari ketujuh pertanyaan mengenai kecakapan di atas 3 instrumen yang menyatakan setuju dan 3 instrumen yang menyatakan ragu-ragu, dan 1 instrumen lagi menyatakan setuju dan ragu-ragu. Disini kita dapat menarik kesimpulan untukmenjawab rumusan masalah yang kami ajukan mengenai “apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai kecakapan dalam pengaplikasian materi IPS yang disampaikan. Jawabannya ialah dilihat dari jumlah instrument yang imbang antara yang menyatakan setuju dan ragu-ragu katakanlah bila dalam permainan skor ini “draw”, ini membuktikan bahwa pengaplikasian dalam mata pelajaran IPS ini pada peserta didik khususnya mengenai kecakapan dirasakan oleh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, ada yang merasa telah mempunyai kecakapan itu dan tidak sedikit pula yang merasa ragu-ragu bahwa kecakapan itu terlaksana setelah atau ketika mereka belajar IPS, meskipun kami kami menyadari dalam hal ini instrument yang kami berikan tidak tertuju satu bahasan namun diuraikan ke dalam beberapa bentuk kecakapan itu sendiri, yang kami maksud agar penelitian ini lebih spesifik dalam hal kecakapan itu sendiri, sehingga dibagi lagi kedalam sub-sub tema mengenai kecakapan. Namun dari hasil angket yang telah kami sebar dan hasilnya adalah seperti yang telah kami katakan sebelumnya ini artinya dalam penerapannya kemampan kecakapan dalam pengaplikasian materi IPS yang disampaikan tersebut, belum terwujud pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Meskipun jawaban persentase tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak banyak, namun ini menjadi suatu evaluasi metode pembelajaran, pendidik, kurikulum yang dibuat bahkan peserta didik sendiri. Dimana dengan hasil seperti ini artinya terhadap tujuan dari IPS dan UU Sisdiknas pasal3 tentang kecakapan ini belum terwujud sepenuhnya khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Bagaimana agar tujuan yang telah dibuat dan ingin dicapai dapat terwujud dan diaplikasikan khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, pastinya disetiap pembelajaran perlu adanya suatu evaluasi, dimana seorang pendidik harus mengetahui sejauh mana tujuan yang harus dicapai terwujud pada kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.

Pembahasan selanjutnyan pertanyaan dibawah ini kami akan membahas mengenai kesadaran sosial yang menjadi rumusan masalah kami yang ingin mengetahui apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik sadar akan keadaan sosial disekitarnya sesuai dengan materi yang diterimanya? Dalam hal ini bagaimana tujuan dalam UU Sisdiknas dapat tercapai mengenai mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertanggung jawab, apabila dalam hal ini peserta didik tidak mempunyai kesadaran sosial itu sendiri, karena seperti yang telah diuraikan pada Bab II yaitu Tinjauan Pustaka kami mengenai Kesadaran Sosial bahwa tanggung jawab adalah bagian dari kesadaran Sosial itu sendiri. Sehingga pada kesempatan ini kami sengaja memasukkan kesadaran sosial pada aspek yang ingin kami masukkan pada rumusan masalah yang kami buat. Dan berikut merupakan hasil dari angket yang kami sebar tercantum di nomor 8 sampai nomor 13. Lanjutan dari nomor sebelumnya pada bahasan mengenai kecakapan.




Pertanyaan Kedelapan apakah dengan belajar IPS para siswa menjadi lebih sadar lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan jawabannya adalah sebagai berikut:

No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
18
90
21%
2
Setuju
4
55
220
65%
3
Ragu-ragu
3
5
15
6%
4
Tidak Setuju
2
5
10
6%
5
Sangat Tidak Setuju
1
2
2
2%
Jumlah
85
337
100%

Pertanyaan kedelapan di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 337 dengan persentase 21% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan 12% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII dan 5% dari kelas IX. Artinya kebanyakan siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa setelah mereka belajar IPS maka mereka lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitarnya dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Yang menyatakan setuju sebanyak 65% bahwa dengan belajar IPS mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan 13% dari kelas VII, 25% dari kelas VIII dan 27% dari kelas IX. Persentase setuju merupakan persentase tertinggi dimana hamper seluruh sampel menyatakan bahwa dengan belajar IPS mereka  lebih menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan.
 Selanjutnya 6% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan 1% dari kelas VII, 5% dari kelas VIII.  Dan sebanyak 6% dari kelas VII menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dan 2%  dari kelas VII yang menyatakan tidak setuju mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Artinya masih ada sebagian dari siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang belum merasa penerapan dari belajar IPS itu sendiri dalam hal menjaga lingkungan sekitar.
Dari penjelasan diatas seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 65% yang menyatakan setuju mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Artinya siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sebagian telah merasakan dampak dari hasil penerapan tujuan IPS itu sendiri terhadap pengaplikasian dalam kehidupan mereka sehari-hari, yaitu menjaga lingkungan sekitar, dan ini terbukti dengan persentase terbesar yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih menjaga lingkungan sekitar mereka dengan tidak membuang sampah sembarangan. Ini membuktikan bahwa tingkat kesadaran sosial pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan telah terwujud.

Pertanyaan Kesembilan mengenai, belajar IPS membuat peserta didik  tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
20
100
24%
2
Setuju
4
48
192
56%
3
Ragu-ragu
3
13
39
15%
4
Tidak Setuju
2
3
6
4%
5
Sangat Tidak Setuju
1
1
1
1%
Jumlah
85
338
100%

Hasil jawaban responden terhadap pertanyaan nomor 9, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 338 dengan persentase 24% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 14% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII dan 9% dari kelas IX.
Kemudian 56% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 13% dari kelas VII, 23% dari kelas VIII dan 20% dari kelas IX. Artinya para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi telah merasakan bahwa dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret di dinding atau di sembarang tepat.
 Namun 15% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 5% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 3% dari kelas IX. Artinya masih ada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang belum merasakan bahwa dengan belajar IPS mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.
  Sebanyak 4% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 3% dari kelas VII dan 1% dari kelas VIII. Dan 1%  dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak setuju mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding.
Hasilnya yang dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 56% yang menyatakan setuju mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dari persentase yang dilihat bahwa yang menyatakan setuju mutlak lebih tinggi persentasenya dibandingkan yang lain,dilihat dari frekuensinya pun merupakan frekuensi tertinggi yang menyatakan setuju. Oleh karena itu berarti tingkat kesadaran sosial yang telah dirasakan siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal tidak mencorat-coret tembok disembarang tempat/dinding setelah mereka belajar IPS dirasa sangat berpengaruh.

Pertanyaan Kesepuluh mengenai penerapan pembelajaran IPS yang menjadikan peserta didik lebih bertanggungjawab, jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
11
55
13%
2
Setuju
4
41
164
48%
3
Ragu-ragu
3
28
84
33%
4
Tidak Setuju
2
4
8
5%
5
Sangat Tidak Setuju
1
1
1
1%
Jumlah
85
312
100%

Pertanyaan ketiga mengenai kesadaran sosial di nomor 10 ini, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 312 dengan persentase 13% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 6% dari kelas VII, 2% dari kelas VIII dan 5% dari kelas IX.
Kemudian 48% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 10% dari kelas VII, 19% dari kelas VIII dan 19% dari kelas IX. Namun yang menyatakan ragu-ragu juga tidak kalah banyak yaitu 33% menyatakan dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 16% dari kelas VII, 9% dari kelas VIII dan 8% dari kelas IX. Artinya dalam kesadaran sosial mengenai tanggung jawab yang dimiliki masing-masing siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi tidak memperlihatkan persentase yang signifikan.
 Dan bisa dilihat dari keseluruhan sampel hanya 5% yang menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 2,5% dari kelas VII dan 2,5% dari kelas VIII. Dan 1%  dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak setuju mereka lebih bertanggungjawab. Persentase yang sedikit sekali apabila melihat dari frekuensi yang ada. Namun perlu diperhatikan, karena ini berarti belum semua siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa lebih bertanggung jawab setelah mereka belajar IPS.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pertanyaan kesepuluh mengenai tanggung jawab yang dimiliki siswa SMP Negeri 2, dilihat dari persentase tertingginya yaitu 48% yang menyatakan setuju mereka lebih bertanggungjawab. Artinya penerapan yang ada dalam pengaplikasian materi IPS dalam hal kesadaran sosial mengenai tanggung jawab yang ada pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sudah cukup baik. Meskipun, masih ada 33% yang menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan tersebut. Oleh karena itu sebagaimana hal yang telah ada pada tujuan IPS dan tujuan UU Sisdiknas tentang tanggung jawab itu sendiri, menurut kami dirasa penting untuk para pendidik di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi untuk menanamkan rasa tanggung jawab tersebut pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi khususnya ketika mata pelajaran IPS itu berlangsung.



Pertanyaan Kesebelas penerapan pembelajaran IPS yang menjadikan peserta didik lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
24
120
28%
2
Setuju
4
43
172
51%
3
Ragu-ragu
3
15
45
18%
4
Tidak Setuju
2
2
4
2%
5
Sangat Tidak Setuju
1
1
1
1%
Jumlah
85
342
100%

Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 342 dengan persentase 28% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain. Dengan 12% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 9% dari kelas IX.
Kemudian persentase tertinggi yaitu 51% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain. Dengan 14% dari kelas VII, 18% dari kelas VIII dan 19% dari kelas IX. Artinya kesadaran sosial pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal tidak membeda-bedakan teman antara satu sama lain sudah sangat baik. Dilihat tingkat persentase tertinggi yang skornya di atas setengah sampel yang diambil.
 Selanjutnya 18% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain. Dengan 7% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 4% dari kelas IX. Artinya masih ada siswa yang merasa ragu bahwa dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain.
  Sebanyak 2% dari kelas VII menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain. Dan 1%  dari kelas VIII yang menyatakan tidak setuju mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain.
Dari tabel diatas dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 51% yang menyatakan setuju mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain dengan mereka belajar IPS. Ini artinya tidak membeda-bedakan teman telah tertanam cukup baik pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dimana sampai sejauh ini pernyataan mengenai kesadaran sosial dalam hal sadar lingkungan, tidak mengotori ligkungan, bertanggung jawab, sampai yang terakhir ini, masih banyak siswa yang menyatakan ke arah positif yang maksudnya ialah setuju. Sehingga tingkat kesadaran sosial ini semakin bagus apabila dilihat dari hasil yang ada sampai saat ini.

Pertanyaan Keduabelas mengenai  pembelajaran IPS yang menjadikan peserta didik saling tolong menolong dengan teman/orang lain jawabannya adalah sebagai berikut:

No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
24
120
28%
2
Setuju
4
46
184
54%
3
Ragu-ragu
3
11
33
13%
4
Tidak Setuju
2
3
6
4%
5
Sangat Tidak Setuju
1
1
1
1%
Jumlah
85
344
100%

Dari jumlah skor di atas menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 344 dengan persentase 28% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 16% dari kelas VII, 5% dari kelas VIII dan 7% dari kelas IX.
Lalu 54% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 11% dari kelas VII, 19% dari kelas VIII dan 24% dari kelas IX. Artinya para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih saling tolong menolong dengan temannya ataupun orang lain.
 Dan 13% menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 5% dari kelas VII dan 8% dari kelas VIII. Jumlah ini tidak banyak apabila dibandingkan dengn yang menyatakan setuju, namun hal ini perlu menjadi perhatian bahwasanya masih ada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang merasa ragu bahwa dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan sesama temannya ataupun orang lain.
  Sebanyak 4% menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 3%  dari kelas VII dan 1% dari kelas VIII. Dan 1% dari kelas VII yang menyatakan tidak setuju kalau dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain.
Kesimpulannya dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 54% yang menyatakan setuju dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Ini artinya kesadaran sosial siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal saling tolong menolong dengan sesama teman, cukup tertanam dalam pengaplikasian atas apa yang seharusnya menjadi tujuan pembelejaran IPS itu sendiri. Meskipun tidak sedikit yang menyatakan ragu-ragu bahkan setuju. Namun dilihat dari persentase yang apabila digabungkan antara yang sangat setuju dan yang setuju sekitar 82%. Setidaknya membuktikan bahwa penerapan mata pelajaran IPS dalam pengaplikasiannya dalam hal kesadaran sosial untuk saling tolong menolong sesame teman telah terwujud dengan baik.

Pertanyaan Ketigabelas mengenai apakah peranan guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan, jawabannya adalah sebagai berikut:
No
Alternatif Jawaban
Skor
Frekuensi
Jumlah Skor
Persentase (%)
1
Sangat Setuju
5
18
90
21%
2
Setuju
4
42
168
49%
3
Ragu-ragu
3
19
57
22%
4
Tidak Setuju
2
3
6
4%
5
Sangat Tidak Setuju
1
3
3
4%
Jumlah
85
324
100%

Berikut merupakan pertanyaan terakhir dari hasil angket yang kami sebar, meskipun pertanyaan ini tidak berhubungan dengan kesadaran sosial, namun ini menjadi pertanyaan kunci untuk kami bisa menjawab rumusan malah yang kedua sekaligus yang ketiga yang harus kami jawab. Berikut hasilnya:
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 324 dengan persentase 21% menyatakan sangat setuju bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Dengan 4% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 10% dari kelas IX. Kemudian 49% menyatakan setuju artinya bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Dengan 19% dari kelas VII, 11% dari kelas VIII dan 19% dari kelas IX. Artinya apabila digabungkan dari persentase yang ada antara yang menyatakan sangat setuju dengan setuju bisa diperkirakan bahwa sekitar 70% dari sampel yang diambil merasa setuju bahwa dengan peranan guru membantu siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi lebih memahami materi IPS yang disampaikan.
 Selanjutnya 22% menyatakan ragu-ragu bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Dengan 10% dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX. Artinya dalam hal ini dalam penyampaian materi IPS ini tidak semua siswa merasa terbantu dengan adanya guru, apabila dilihat dari persentase yang menyatakan ragu-ragu ini.
 Dan sekitar 4% dari kelas VII menyatakan tidak setuju bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Dengan 3%  dari kelas VII dan 1% dari kelas IX. Dan 4% dari kelas VIII yang menyatakan sangat tidak setuju bahwa peran guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan.
Kesimpulannya, dari persentase tertinggi yaitu 49% yang menyatakan setuju ditambah dengan 21% menyatakan sangat setuju bahwa peran guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Artinya dengan adanya guru peserta didik merasa terbantu dengan memudahkan mereka dalam memahami materi IPS yang mereka harus dipelajari. Dengan begitu tidak dapat dipungkiri bahwa guru sangat berperan penting dalam pembimbing peserta didik dalam setiap mata pelajaran khususnya IPS. Dimana memang pendidik yang professional adalah pendidik yang tahu dimana ia harus berdiri, pendidik yang tahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak, dan pendidik yang memahami apa-apa kesulitan yang dihadapi setiap siswa yang diajarnya, pendidik yang tidak hanya membebabani para siswa dengan teori-teori yang dibuat untuk mereka harus hafalkan. Dan terlihat dalam persentase yang ada bahwa pendidik di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi khususnya dalam mata pelajaran IPS ini sangat berpengaruh terhadap peserta didik yang ada di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi ini, karena dilihat dari siswa yang merasa bahwa peranan seorang pendidik sangat penting dalam memahami materi yang diterimanya dalam mata pelajaran IPS.

Setelah kami menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang ada dari nomor 8 sampi nomor 13. Selanjutnya kami akan menyimpulkan dari pembahasan di atas ke dalam suatu jawaban yang menjadi rumusan masalah yang kedua dan ketiga kami yaitu mengenai Apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik sadar akan keadaan sosial disekitarnya sesuai dengan materi yang diterimanya? Dan bagaimana IPS dapat membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya? Jawabannya dilihat dari peresentase keseluruhan yang menjawab dari pertanyaan nomor 8 sampai pertanyaan nomor 12, persentase keseluruhan yang tertinggi menyatakan setuju. Artinya kesadaran sosial yang kami maksud yang kami bagi kedalam sebuah perilaku sehar-hari dan kami jadikan pernyataan atau pertanyaan seperti kesadaran untuk bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, menjaga lingkungan sekitar, dan saling tolong menolong sesama teman telah membuktikan dengan persentase yang menyatakan setuju, bahwa dalam penerapannya khususnya studi pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi IPS telah membut peserta didik sadar akan keadaan sosial di sekitarnya. Dimana kesadaran sosial ini sudah pasti telah muncul dalam diri peserta didik karena dari angket yang kami sebar dan melalui sampel yang ada diisi oleh peserta didik langsung, sehingga bentuk keakuratan ini sudah pasti terbukti. Sehingga dapat disimpulkan pula dengan persentase yang demikian bahwa yang menjadi tujuan IPS dan tujuan UU Sisdiknas telah tercapai pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, meskipun masih ada siswa yang belum merasakan pengaplikasian dari mata pelajaran IPS itu sendiri, namun setidaknya ini telah menjawab rumusan maslah kedua kami.

Dan untuk rumusan masalah yang ketiga tentang bagaimana IPS dapat membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya? Jawabannya dilihat dari banyak kemungkinan para siswa yang menyetujui bahwasanya IPS dalam penerapannya telah membuat para siswa merasa cakap baik itu dalam hal komunikasi lisan ataupun tulisan, bekerja sama, percaya diri, motivasi untuk lebih giat belajar, memecahkan masalah, berpikr kritis, dan lebih sadar akan keadaan sosial seperti dengan menjaga lingkungan, bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, dan saling tolong menolong dengan sesama. Semua itu tidak akan tercapai tanpa adanya peran seorang pendidik yang membimbing para peserta didik untuk membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya, jawabannya seperti yang telah diuraikan sebelumnya, IPS tidak dapat secara langsung dapat membuat peserta didik menjadi cakap dan sadar akan keadaan sosial, namun IPS dibantu oleh peran pendidik yang membuat IPS lebih dipahami oleh para peserta didik dengan dibantu media pendidikan yang mendukung beserta tidak dipungkiri terkadang kemampuan seorang peserta didik lah yang membuat seorang pendidik menjadi terus belajar dan menggali ilmu kembali. Oleh karena itu peran pendidik tidak dapat dilepaskan dari apa yang memang menjadi tujuan IPS dan UU Sisdiknas itu sendiri.

            Rumusan masalah telah kami uraikan jawabannya satu demi satu, sekarang kami mencoba membuat kesimpulan dari jurnal kami ini dengan menggambarkan pada garis kontinum menggunakan kategori yang memang sudah ditentukan untuk melihat sejauh mana titik “Implementasi Mata Pelajaran IPS Studi pada SMP Negeri 2 Kota Sukabumi”, dengan menghitung skor kumulatif dari tiap variabel digunakan cara seperti dibawah ini:
1.    Total skor sangat rendah
     13 item x 85 responden x nilai skor 1 = 1105
2.    Total skor rendah
     13 item x 85 responden x nilai skor 2 = 2210
3.    Total skor sedang
13 item x 85 responden x nilai skor 3 = 3315
4.    Total skor tinggi
     13 item x 85 responden x nilai skor 4 = 4420
5.    Total skor sangat tinggi
     13 item x 85 responden x nilai skor 5 = 5525

Dari hasil perhitungan variabel implementasi mata pelajaran IPS berdasarkan kepada jawaban responden secara keseluruhan mendapatkan skor sebesar 4037 (terlampir pada lampiran). Secara kontinum dapat digambarkan sebagai berikut:

Garis Kontinum Implementasi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kota Sukabumi

Sangat Rendah       Rendah          Sedang           Tinggi              Sangat Tinggi
 




                   0                         1105                 2210               3315               4420              5525
                                                                                                                                           4037

Berdasarkan garis kontinum di atas dengan jumlah Implementasi Mata Pelajaran IPS 4037 yang masuk dalam kategori tinggi.[38]



















BAB V
PENUTUP

5.1     Kesimpulan

Berdasarkan pada atas apa yang telah kami bahas dalam jurnal ini, baik itu dalam Bab II, III, dan IV. Kami ingin menarik kesimpulan dari apa yang telah terjawab dalam jurnal ini dari rumusan masalah yang telah kami buat bahwa penerapan mata pelajaran IPS dalam pengaplikasiannya yang sesuai dengan materi yang diterima oleh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi telah tertanam baik dengan bukti berupa angket yang kami telah kami sebar bahwa penerapan implementasi IPS studi pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal aspek kecakapan yang terkandung pada UU Sisdiknas dan termasuk pada kriteria yang memang harus dimiliki dan dikembangkan oleh peserta didik, telah terbukti pada angket yang telah kami sebar bahwa pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi telah mempunyai kecakapan dalam hal berkomunikasi baik lisan ataupun tulisan, bekerja sama, kepercayaan diri, motivasi, pemecahan masalah, dan mampu berpikir kritis dan logis. Meskipun dalam hal ini dari hasil penelitian kami tidak seluruhnya siswa SMP Negeri 2 telah merasakan hal tersebut, namun ini menjadi evaluasi kepada pendidik, kurikulum yang ada maupun peserta didik sendiri sehingga apa yang menjadi tujuan baik dalam UU Sisdiknas ataupun tujuan IPS dapat terwujud pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Dilihat dari aspek tanggung jawab, yang termasuk ke dalam kesadaran sosial peserta didik, terbukti dari angket yang telah kami sebar, bahwa pada siswa  di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam penerapannya, para siswa merasa telah mempunyai kesadaran sosial tersebut seperti bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, menjaga lingkungan sekitar, dan saling tolong menolong sesama teman, setelah mereka belajar IPS, dilihat dari pertanyaan yang kami sebar yang rata-rata hasilnya menyatakan setuju. Ini menunjukkan bahwa penerapan IPS itu sendiri telah terwujud dan tujuan pun telah tercapai khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Dari hasil yang mengarah kepada hal yang positif ini dapat membuktikan bahwa IPS dalam penerapannya telah membuat para siswa merasa cakap baik itu dalam hal komunikasi lisan ataupun tulisan, bekerja sama, percaya diri, motivasi untuk lebih giat belajar, memecahkan masalah, berpikr kritis, dan lebih sadar akan keadaan sosial seperti dengan menjaga lingkungan, bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, dan saling tolong menolong dengan sesama. Semua itu tidak akan tercapai tanpa adanya peran seorang pendidik yang membimbing para peserta didik untuk membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya.

         

5.2     Saran                                              
Kami berharap setelah dibuatnya jurnal ini maka akan memberikan kontribusi yang baik nantinya untuk kita sebagai calon pendidik nantinya, pemahaman yang baik mengenai apa yang seharusnya menjadi tujuan agar tercapai dengan baik, pengetahuan yang lebih luas dari contoh penelitian di atas dan menambah wawasan dan membuka pikiran pembaca untuk mengetahui dan lebih memahami secara ringkas bagaimana implementasi IPS yang terjadi pada siswa khususnya di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Sehingga nantinya kita sebagai calon pendidik tidak akan menjadi pendidik yang menekankan teori pada peserta didik. Namun menjadi pendidik yang sebenarnya, cerdas dan memahami bahkan menguasai bagaimana cara agar aspek-aspek yang ingin diwujudkan dapat tercapai.






















DAFTAR PUSTAKA


Musthofiyah, Maidah. (2012). Skripsi, Penerapan Nilai-nilai Karakter pada Pembelajaran IPS Terpadu di MTs Negeri Model Babat. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

       (10/01/2013.21:42)

Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hurri, Ibnu. (2011). Bahan Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi: (Tanpa Penerbit).




(11/01/2013. 12:45)

          (16/01/2013. 20:45)

Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

http://gizimu.wordpress.com/2012/02/13/menghitung-skor-skala-likert/. (16/01.2013. 11:12)


repository.upi.edu/.../t_pk_0809373_chapter2.pdf. 02/03.2013. 12.45

Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa (Studi Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 24


Dewi Rochmawati, Efa. (2010). Skripsi Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Ips (Ekonomi) Di Smp Negeri 4 Blitar. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

































LAMPIRAN




























KUISIONER
            Berilah tanda (X) pada jawaban yang menurut pendapat anda sesuai dengan apa yang anda alami selama mengikuti pembelajaran IPS di sekolah anda saat ini !!
1.      Apakah dengan belajar IPS membuat anda menjadi cakap dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
2.      Apakah dengan belajar IPS membuat anda lebih bekerja sama dengan teman?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
3.      Dengan belajar IPS apakah anda menjadi lebih percaya diri ?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat Tidaksetuju
4.      Dengan belajar IPS apakah anda lebih termotivasi untuk lebih giat belajar?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
5.      Apakah dengan belajar IPS membuat anda dapat memecahkan masalah sehari-hari?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
6.      Apakah dengan belajar IPS membuat anda lebih berfikir kritis dan logis?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
7.      Apakah ketika belajar IPS, anda pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
8.      Apakah dengan belajar IPS anda menjadi lebih sadar lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
9.      Dengan belajar IPS, apakah membuat anda tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      TidakSetuju
e.       Sangat TidakSetuju
10.  Dengan belajar IPS, apakah menjadikan anda lebih bertanggungjawab?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju

11.  Apakah dengan belajar IPS menjadikan anda lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
12.  Apakah dengan belajar IPS menjadikan anda saling tolong menolong dengan teman/orang lain?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat TidakSetuju
13.  Apakah peran Guru sangat membantu anda dalam memahami materi IPS yang disajikan?
a.       Sangat Setuju
b.      Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat Tidak Setuju


[1] Musthofiyah, Maidah. (2012). Skripsi, Penerapan Nilai-nilai Karakter pada Pembelajaran IPS Terpadu di MTs Negeri Model Babat. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. hal: 4
[2] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.4
[3] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.9
[4] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi: (Tanpa Penerbit). hal: 2
[5] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.9-1.10
[6] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi: (Tanpa Penerbit). hal: 2
[7] http://lampung.kemenag.go.id/file/file/subbagHukmas/wjkn1352768153.pdf. 16/01/2013. 10:38
[12] repository.upi.edu/.../t_pk_0809373_chapter2.pdf. 02/03.2013. 12.45
Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa (Studi Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 24
[13] repository.upi.edu/.../t_pk_0809373_chapter2.pdf. 02/03.2013. 12.45
Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa (Studi Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 34-36
Dewi Rochmawati, Efa. (2010). Skripsi Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Ips (Ekonomi) Di Smp Negeri 4 Blitar. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. hal: 54-57
[15] www.spanda2yes.sch.id. 16/01/2013. 20:45
[16] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi. hal: 35
[17] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 56
[18] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi. hal: 35
[19] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 117
[20] Ramelan , Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi. hal: 38-39
[21] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 118
[22] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 122
[23] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 124
[24] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 126
[25] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 130
[26] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 199-200
[27] http://gizimu.wordpress.com/2012/02/13/menghitung-skor-skala-likert/. 16/01.2013. 11:12
[28] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 134-135
[29] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi. hal: 44-46
[30] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 173
[31] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 187
[32] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 255
[33] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 188-189
[34] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 173
[35] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 190
[36] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. hal: 173
[37] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi: (Tanpa Penerbit). hal: 2
[38] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi. hal: 100

No comments:

Post a Comment