JURNAL
Implementasi Mata Pelajaran IPS
(Studi Pada Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi)
diajukan
untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Pendidikan IPS di SD I
disusun oleh
Cheenia
Oktriyani (063161111142)
Eva Siti Fauzia
(063161111147)
Nia Andriani
(063161111144)
Euis Hetty Puspita
(063161111154)
Dicky Maryunadi (063161111149)
Fajar Wildan (063161111162)
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program
Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Kelas
D/ Semester 3
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUKABUMI
Jalan R.
Syamsudin, SH. 50 Kota Sukabumi– 43113 Telp. (0266) 218342 Fax. (0266) 218345
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan
karunianya kami dapat menyelesaikan Jurnal ini tepat pada waktunya. Jurnal ini
membahas tentang Implementasi Mata
Pelajaran IPS Studi Pada Siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dimana dalam
hal ini kadangkala peserta didik hanya diberi suguhan dengan segudang materi
yang harus ia pahami dan masuk ke dalam otakya. Hal tersebut tentu baik, namun
tidak akan seimbang apabila materi yang ada atau materi yang disampaikan dalam
penerapannya tidak menyentuh aspek-aspek yang harus dimiliki peserta didik
seharusnya. Sehingga dengan adanya Jurnal ini kami harapkan dapat memberikan
setidaknya ingatan atau “cambukan” kepada kita sebagai calon pendidik akan apa
yang seharusnya menjadi tujuan pokok Mata Pelajaran IPS di SMP.
“Tiada
gading yang tak retak”. Kami menyadari bahwa Jurnal ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Jurnal ini.
Akhir
kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan Jurnal ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.
Sukabumi,
10 Januari 2013
Penyusun
ABSTRAK
Penerapan mata pelajaran yang ada kadang kala
diabaikan oleh para pendidik, dimana dalam hal ini aspek-aspek yang memang
menjadi tujuan seperti dalam Undang-Undang Republik
Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan
Nasional (UU Sisdiknas)
merumuskan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional yang
harus digunakan dalam mengembangkan upaya
pendidikan di Indonesia.
Pasal 3 UU
Sisdiknas menyebutkan,
“Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia
yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab”. Kadang kala aspek
tersebut hanya sekedar menjadi tujuan tanpa adanya pengaplikasian yang nyata.
Oleh sebab itu disini kami mencoba melakukan penelitian terhadap implementasi
IPS itu sendiri pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Tentunya pada aspek
yang khusus ingin kami teliti yaitu mengenai kecakapan dan tanggung jawab pada
peserta didik.
Dimana dalam penelitian ini kami
menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Yaitu metode yang digunakan dengan
cara penyebaran angket untuk mendapatkan hasil penelitian yang kami inginkan.
Dengan menyebarkan angket pada 85 orang siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
yang kami jadikan sampel. Berdasarkan
penelitian yang telah kami teliti maka dapat
diambil kesimpulan bahwa
implementasi mata pelajaran IPS studi pada siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
sudah cukup tercapai dengan baik. Dilihat dari aspek kecakapan dan kesadaran
sosial dalam hal ini tanggung jawab yang peserta didik merasa telah mereka
miliki, meskipun dalam hal ini sudah barang tentu tidak seluruhnya. Namun
setidaknya dari hasil angket yang telah kami sebar hampir seluruh siswa SMP
Negeri 2 merasakan penerapan dari mata pelajaran IPS itu sendiri.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
.............................................................................................
i
Abstrak
.........................................................................................................
ii
Daftar
Isi
......................................................................................................
iii
BAB
I Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang Masalah
.................................................................. 1
1.2 Perumusan
Masalah
......................................................................... 2
1.3 Sistematika
Penulisan ......................................................................
2
1.4
Manfaat Hasil Pembahasan
.............................................................. 3
BAB
II Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi
IPS
......................................................................................
4
2.2 Tujuan
Pendidikan IPS
.................................................................... 5
2.3 Pendidikan
Karakter
........................................................................ 7
2.4 Model Contoh Pembelajaran Kontekstual
...................................... 21
BAB
III Objek dan Metode Penelitian
3.1 Objek
Penelitian
…........................................................................... 26
3.2 Metode
Penelitian
............................................................................ 26
3.3 Populasi
dan Sampel
........................................................................ 27
3.4 Teknik
Pengumpulan Data
............................................................... 30
3.5 Teknik
Pengolahan Data ..................................................................
31
3.6 Teknik
Analisis Data
........................................................................ 33
BAB
IV Pembahasan
.................................................................................
38
BAB
IV Penutup
5.1
Kesimpulan
...............................................................................
62
5.2
Saran
..........................................................................................
63
Daftar
Pustaka ..............................................................................................
64
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Ilmu
Pengetahuan Sosial merupakan kajian tentang studi manusia yang bersangkutan
dengan studi sosial dalam masyarakat yang bersifat multidisipliner atau
interdisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan dengan meninjau
satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan
sehingga tidak menekankan pada bidang teoritis. Dalam Jurnal ini Ilmu
Pengetahuan Sosial menjadi tema yang menjadi pedoman kami, pengertian yang kami
uraikan diatas tentang IPS, kami maksud untuk menekankan bahwasanya IPS itu tidak menekankan hanya pada bidang
teoritis saja. Namun dalam hal ini aspek-aspek yang seharusnya dicapai atau
dimiliki peserta didik pun harus menjadi tujuan utama. Dimana menurut kami,
sekarang ini dalam penerapannya di dunia persekolahan tujuan tersebut mulai
terabaikan karena banyak faktor yang terjadi pada penerapannya, sehingga
nilai-nilai atau aspek-aspek yang harus dimiliki peserta didik tidak tercapai
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Seperti
dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional
(UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan
tujuan pendidikan nasional
yang harus digunakan
dalam mengembangkan upaya pendidikan
di Indonesia. Pasal
3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan
dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia
yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dimana dengan berlandaskan UU Sisdiknas
tersebut mengenai aspek cakap dan bertanggung jawab dalam kesadaran sosial yang
menjadi bahan kami untuk membuat jurnal ini dalam hal studi pada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi, sejauh mana penerapan IPS dari kedua aspek tersebut
pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Sehingga dengan latar belakang yang kami
uraikan di atas, kami membuat Jurnal ini yang berjudul “Implementasi Mata
Pelajaran IPS Studi Pada Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi”, sehingga yang kami
maksud ialah agar Implementasi dari Mata Pelajaran IPS itu bisa jelas terlihat
terarah atau tidaknya, dan apakah penerapannya itu tepat sasaran dan menyentuh
aspek-aspek yang seharusnya menjadi tujuan Mata Pelajaran IPS itu sendiri. Dan
kami mencoba menguraikannya dalam Jurnal ini secara lebih sederhana dan semoga
lebih mudah untuk dimengerti karena kami menguraikannya dari apa yang kami
pahami dari referensi buku yang kami baca tentang tujuan yang seharusnya
dicapai dari Mata Pelajaran IPS tersebut dan melalui penelitian kami terhadap
siswa-siswi salah satu Sekolah Menengah Pertama di Sukabumi. Menjadi harapan
kami untuk materi pokok yang kami bahas
disini bisa tepat sasaran dan dijadikan pedoman dalam peningkatan mutu Mata
Pelajaran IPS itu sendiri sehingga sesuai dengan tujuan pokok dari pembuatan
Jurnal ini.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh
permasalahan antara lain:
a)
Apakah
dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai kecakapan dalam
pengaplikasian materi IPS yang disampaikan?
b)
Apakah
dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik sadar akan keadaan sosial
disekitarnya sesuai dengan materi yang diterimanya?
c)
Bagaimana
IPS dapat membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai
dengan penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya?
1.3
Sistematika Penulisan
Jurnal ini terdiri dari 5
Bab :
a.
BabI adalah Pendahuluan, yang terdiri
dari Latar Belakang, Perumusan Masalah, Sistematika Penulisan dan Manfaat Hasil
Pembahasan.
b.
Pada Bab II dijelaskan
tentang Tinjauan Pustaka
dari beberapa sumber buku yang kami baca yang berisi pengertian atau definisi
dari apa yang akan kami bahas.
c. Bab III berisi tentang Metodologi
Penelitian terdiri dari pendekatan
dan jenis penelitian,
lokasi penelitian, sumber data,
prosedur penelitian, analisis
data, pengecekan keabsahan data,
tahap-tahap penelitian.
d. Bab IV tentang Pembahasan tentang rumusan masalah yang
telah kami ajukan sebelumnya dalam Jurnal ini.
e. Bab V bagian
Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggungjawaban
disertakan pula Daftar Pustaka.
1.4
Manfaat Hasil Pembahasan
Setelah
penulis membahas materi ini penulis berharap Jurnal ini dapat bermanfaat bagi pembaca,
untuk memahami bagaimana seharusnya penerapan Mata Pelajaran IPS itu sendiri,
setelah melihat hasil dari penilitian kami terhadap penerapan mata pelajaran
IPS di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang tepat sasaran atau tidaknya, sehingga
nantinya menyadarkan kepada kita bahwa bukan sekedar hanya paham teori yang
kita tanamkan ke peserta didik, namun juga nilai-nilai karakter yag ada juga
harus terwujud dalam pembelajaran IPS itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang diberikan mulai dari
SD/MI/SLDB sampai SMP/MTs/SMPLB, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep,
dan generalisasi yang berkaitan dengan isu social. Pada jenjang SMP/MTs mata
pelajaran IPS memuat materi geografi, sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi.[1]
Dalam
hal ini pemahaman terhadap IPS itu sendiri penting untuk dijadikan acuan
terhadap pembahasan jurnal ini, mengapa begitu? karena ketika kita mempunyai
pemahaman yang keliru tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) akan menimbulkan
implementasi yang kurang tepat pula, sehingga akan jauh dari apa yang
diharapkan dalam tujuan IPS itu sendiri dan tujuan pembuatan Jurnal ini.
Seperti yang telah dijelaskan dalam latar belakang, IPS adalah ilmu yang lebih
menekankan kepada pendekatan multidisiplin atau interdisiplin, dimana
topik-topik dalam IPS dapat kita manipulasi menjadi suatu isu, pertanyaan atau
permasalahan yang bersperspektif interdisiplin.[2]
Dan seperti yang kita ketahui pula bahwa IPS juga mempunyai sifat
multidimensional yang itu berarti IPS meninjau satu gejala atau masalah sosial
dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan. Itu artinya dalam hal ini IPS bukan
merupakan Ilmu yang hanya dibahas dari satu aspek bidang Ilmu. Namun dalam hal
ini IPS merupakan ilmu yang lebih menekankan pemecahan dalam gejala sosialnya
melalui berbagai bidang Ilmu yang ada, seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan
dan sebagainya. Yang berarti merupakan suatu “pemerkosaan” apabila kita
mengajarkan kepada peserta didik Mata Pelajaran IPS yang sama sekali kita tidak
menghubunkan keterkaitan antara materi yang dibahas dengan ilmu-ilmu yang ada.
Disini kami bermaksud membawa pikiran pembaca agar lebih mengetahui arti dari
IPS itu sendiri. Bukan hanya kita sekedar mengetahui pengertian dari IPS namun
tidak mengetahui hakikat dari IPS itu sendiri.
Secara
sederhana uraian kami di atas mengandung arti bahwa pembelajaran IPS,
membelajarkan siswa untuk memahami bahwa masyarakat ini merupakan suatu
kesatuan (sistem) yang permasalahannya bersangkut-paut dan pemecahannya
memerlukan pendekatan-pendekatan yang komprehensif dari sudut ilmu hukum, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu sosial lain,
seperti geografi, sejarah, antropologi, dan lainnya.[3]
Sehingga
kami menyimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kajian tentang studi
manusia yang bersangkutan dengan studi sosial dalam masyarakat yang bersifat
multidisipliner atau interdisipliner dengan menggunakan berbagai bidang
keilmuan dengan meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi
atau aspek kehidupan sehingga tidak menekankan pada bidang teoritis.
2.2Tujuan
Pendidikan IPS
Tujuan
merupakan suatu pedoman ketika kita melangkah. Ketika kita berjalan tanpa
arah/tujuan tentu kita tidak akan tahu kapan kita akan mencapai batasnya. Kapan
kita akan sampai ke suatu titik maksimal. Tentu dalam hal ini Ilmu Pengetahuan
Sosial pun mempunyai tujuan yang hendak dicapai, mempunyai pedoman yang harus
diwujudkan, sehingga IPS pun tidak berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Dalam jurnal, Bab Tinjauan Pustaka ini kami sengaja memasukkan Tujuan Ilmu
Pengetahuan Sosial ke dalam pembahasan kami. Mengapa? Karena, ini menjadi
pedoman untuk kami dalam membuat Jurnal ini yang pembahasannya memang harus mengacu
dari tujuan IPS itu sendiri.
Tujuan
Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah adalah mempersiapkan para peserta didik
sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan sebagai
kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta kemampuan
mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan
agar menjadi wara negara yang baik.[4]
Sehingga
jelas sekali tujuan yang telah diuraikan di atas, yang sebenarnya IPS bukan
menjadikan peserta didik sebagai ahli-ahli ilmu sosial (sejarah, ekonomi,
sosiologi, hukum, antropologi, psikologi sosial atau lainnya), namun membentuk
sikap hidup seperti yang diharapkan bagi proses pembangunan saat ini dan masa
mendatang sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dan negara.
Sangat
miris apabila melihat praktek atau pengajaran yang terjadi di dunia
persekolahan pada saat ini, yang kenyataannya IPS hanya dijadikan suatu mata
pelajaran yang membosankan bagi para peserta didik karena terlalu banyak teori
yang harus mereka hafal padahal IPS bukan bertujuan untuk memenuhi ingatan
pengetahuan peserta didik dengan berbagai fakta dan materi yang harus
dihafalnya, melainkan membina mental yang sadar akan tangggung jawab terhadap
hak dirinya sendiri dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Pembelajaran IPS merupakan upaya menerapkan teori-konsep-prinsip ilmu sosial
untuk menelaah pengalaman, peristiwa, gejala, dan masalah sosial yang secara
nyata terjadi di masyarakat. Melalui upaya ini, pembelajaran IPS melatih
keterampilan para siswa baik keterampilan fisik maupun kemampuan berpikirnya
dalam mengkaji dan mencari pemecahan dari masalah sosial yang dialaminya.
Para
siswa sebagai bagian dari masyarakat harus mampu melibatkan diri dalam
kehidupan masyarakat baik sebagai warga negara, warga masyarakat yang sadar
akan tanggung jawab dengan menampilkan tingkah laku, perbuatan, dan tindakan
yang penuh dengan makna bagi kepentingan bersama. Pada akhirnya mereka
diharapkan menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Inilah yang hendak dituju
melalui pembelajaran IPS.[5]
Lima kriteria kemampuan yang
harus dikembangkan
1.
Kemelek-wacanaan
masalah sosial (social literacy)
2.
Kemampuan
komunikasi sosial (social communication skills)
3.
Pemecahan
masalah sosial ( social problem solving)
4.
Berpikir
kritis (critical thinking)
5.
Keterpaduan
(integration)[6]
2.3Pendidikan
Karakter
Sistem pendidikan di Indonesia
secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat
dilihat dari orientasi sekolah sekolah yang ada masih disibukkan dengan ujian,
mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah
latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di
buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari hari para
siswa.
Saatnya para pengambil
kebijakan, para pendidik, orang tua dan masyarakat senantiasa memperkaya
persepsi bahwa ukuran keberhasilan tak melulu dilihat dari prestasi angka
angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan
pengalaman pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul.
a.
Pengertian
Pendidikan Karakter
Pengertian karakter
menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi
pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun
berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan
berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada
serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations),
dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to
mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan
dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur,
kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.
Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan
berkarakter mulia.
b.
Konsep
Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti
individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan
nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis,
kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu,
sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur,
menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut,
setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir
positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis,
hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri,
produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib.
Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan
individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.
Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu
(intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik
atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik
terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia
internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya
dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidikan karakter adalah
suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate
use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan)
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan
ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja
seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai
sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan
harus berkarakter.
Menurut David Elkind &
Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:
“character education is the deliberate effort to help people understand, care
about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of
character we want for our children, it is clear that we want them to be able to
judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they
believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation
from within”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa
pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu
mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta
didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru
berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai
hal terkait lainnya.
Pendidikan karakter berpijak
dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal
(bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the
golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila
berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog,
beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan
ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun,
kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan
pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi,
cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar
manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli,
jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin,
visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di
sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya
dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang
bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi,
dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak
menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter
pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena
sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat,
seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan
di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang
sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah
resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam
pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan
kualitas pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada
umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter
pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat
di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan
pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan
pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan
perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi
nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni
melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.
Berdasarkan grand design yang
dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan
karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu
manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi
sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung
sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis
dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual
and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga
dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa
(Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat
digambarkan sebagai berikut.
c.
Kofigurasi
dan Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Para pakar telah mengemukakan
berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di
antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan;
yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan
klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan
perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989)
mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni:
pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi
didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian
psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat
ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan
dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami
nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama,
hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.[7]
Nilai-nilai di bawah ini merupakan uraian
berbagai perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik
sebagai dasar pembentukan karakternya yakni: nilai keutamaan, nilai kerja,
nilai cinta tanah air (patriotisme), nilai demokrasi, nilai kesatuan,
menghidupi nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai di atas diambil
sebagai garis besarnya saja, sifatnya terbuka,artinya masih bisa ditambahkan
nilai-nilai lain yang relevan dengan situasi sekolah. Misalnya: taqwa kepada
Tuhan, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih
sayang, peduli dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta
damai, dan persatuan, dapat dipercaya,rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur,
tanggung jawab, kewarganegaraan/citizenship, ketulusan, berani, tekun,
integritas, jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, kerjasama.
Pendidikan karakter di sekolah
memerlukan prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa
dan setiap individu yang bekerja di sekolah tersebut. Prinsip-prinsip tersebut
antara lain :
a.
Karaktermu
ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu
yakini.
b.
Setiap
keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.
c.
Karakter
yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang
baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal, sebab
mengandung resiko.
d.
Jangan
pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan
bagi dirimu. Kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.
e.
Apa
yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif. Seorang individu bisa
mengubah dunia.
f.
Bayaran
bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang
lebih baik, dan ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk
dihuni.
Strategi
dan Metodologi Pendidikan Karakter
Strategi
yang diterapkan oleh pendidikan karakter yaitu dengan menggunakan
strategi terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya. Nilai-nilai karakter dapat
disampaikan melalui mata pelajaran: agama, pendidikan kewarganegaraan (PKn),
pendidikan jasmani dan olah raga, IPS, bahasa Indonesia dan pengembangan diri.
Pendidikan karakter di sekolah lebih banyak berurusan dengan penanaman
nilai.Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh harus
menentukanmetode yang dipakai, sehingga tujuan pendidikan karakter itu akansemakin
terarah dan efektif. Adapun unsur-unsur yag harus dipertimbangkan dalam
menentukan metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter antara lain :
Mengajar, yaitu dengan cara mengajarkan nilai-nilai itu sehingga peserta didik memiliki gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bias dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya. Keteladanan, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, kepalasekolah, dan staf administrasi disekolah yang dapat dijadikan sebagai model teladan bagi siswa.Karena siswa akan lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.
Menentukan prioritas, yaitu setiap yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan yang ingin menekankan pendidikan karakter juga harus memahami secara jernih prioritas nilai apakah yang ingin ditekankan dalam pendidikan karakter dalam satuan pendidikan tertentu.
Refleksi, yaitu mengadakan semacam pendalaman, refleksi untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikankarakter. Metode-metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter misalnya dengan menggunakan pendekatan penanaman nilai (InculcationApproach), perkembangan moral kognitif, analisis nilai (Values Analysis Approach), klarifikasi nilai, pembelajaran berbuat (ActionLearning Approach), Student Active Learning, Developmentally Appropriate Pro Contextual Learning yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.
Penilaian
Pendidikan Karakter
Penilaian
adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala,
berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan serta
perkembangan karakter yang dicapai siswa. Tujuan penilaian dilakukan untuk
mengukur seberapa jauh nilai-nilai yang dirumuskan sebagai standar minimal
telah dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dihayati, diamalkan,
diterapkan dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Penilaian
pendidikan karakter lebih dititik beratkan kepada keberhasilan penerimaan
nilai-nilai dalam sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai
karakter yangditerapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis
penilaian dapat berbentuk penilaian sikap dan perilaku, baik individu maupun
kelompok.Cara penilaian pendidikan karakter pada peserta didik dilakukan oleh
semua guru. Penilaian dilakukan setiap saat, baik pada jam pelajaran maupun di
luar jam pelajaran, dikelas maupun di luar kelas dengan cara pengamatan dan
pencatatan. Instrumen penilaian dapat berupa lemabar observasi, lembar skala
sikap, lembar portofolio, lembar check list, dan lembar pedoman
wawancara.Informasi yang diperoleh dari berbagai teknik penilaian kemudian
dianalisis oleh guru untuk memperoleh gambaran tentang karakter peserta
didik.Gambaran menyeluruh tersebut kemudian dilaporkan sebagai suplemen buku
rapor oleh wali kelas.[8]
2.3.1
Standar Kompetensi IPS Sekolah
Menengah Pertama
Standar adalah batas minimal dan kompetensi adalah
kemampuan. Sehingga Standar Kompetensi adalah batas minimal kemampuan yang
harus dimiliki peserta didik, dimana kemampuan disini mengambarkan kepada ranah
prilaku yang harus dimiliki peserta didik, baik itu ranah kognitif, psikomotor,
ataupun afektif. Tentunya pada Jurnal ini Standar Kompetensi yang dimaksud
ialah dalam Mata Pelajaran IPS. Kami ingin pembahasan kami ini mempunyai
landasan yang jelas, sehingga disini kami menguraikan sedikit tentang standar
kompetensi mata pelajaran IPS yang harus dicapai oleh peserta didik di jenjang
Sekolah Menengah Pertama.
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas : VII (tujuh)
Semester : 1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami lingkungan kehidupan manusia.
2. Memahami
kehidupan sosial manusia.
3. Memahami usaha manusia
memenuhi kebutuhan.
Semester :
2(dua)
Standar
Kompetensi : 4. Memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan
lingkungannya.
5. Memahaami
perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Buddha sampai masa Kolonial Eropa.
6. Memahami
kegiatan ekonomi masyarakat.
Kelas : VIII
(delapan)
Semester :
1 (satu)
Standar
Kompetensi : 1. Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan
jumlah penduduk.
2. Memahami
proses kebangkitan nasional.
3. Memahami
masalah penyimpangan sosial.
4. Memahami
kegiatan pelaku ekonomi di masyarakat.
Semester : 2
(dua)
Standar
Kompetensi : 5. Memahami usaha persiapan kemerdekaan.
6. Memahami
pranata dan penyimpangan sosial.
7. Memahami
Kegiatan perekonomian Indonesia.
Kelas : IX
(sembilan)
Semester : 1 (satu)
Standar Kompetensi : 1. Memahami kondisi perkembangan
negara di dunia.
2. Memahami
usaha mempertahankan kemerdekaan
3. Memahami perubahan sosial budaya
4. Memahami
Lembaga Keuangan dan Perdagangan
Semester : 2 (dua)
Standar Kompetensi : 5. Memahami hubungan manusia dengan
bumi,
6. Memahami
usaha mempertahankan Republik Indonesia
7. Memahami
perubahan pemerintahan dan kerjasama internasional.
Karakter
siswa yang diharapkan : Disiplin
( Discipline )
Rasa hormat
dan perhatian ( respect )
Tekun
( diligence )
Tanggung
jawab ( responsibility )
Ketelitian (
carefulness)[9]
Dari
rancangan kurikulum yang ada di atas, memang benar menurut kami setiap standar
kompetensi IPS memang mengarah kepada tujuan IPS yang telah kami bahas
sebelumnya seperti contohnya saja standar kompetensi di kelas VII semester 1,
yang mengharapakan peserta didik dapat memahami kehidupan sosial
manusia, dan karakter siswa yang diharapkan juga sesuai dengan
tujuan IPS telah dibahas sebelumnya. Namun dalam hal ini apakah semua standar
kompetensi di atas telah terlaksana dengan baik. Dan apakah siswa telah
mempunyai karakter seperti yang memang diharapkan. Kita akan mengetahui di Bab
IV nanti pembahasan apakah semua standar kompetensi di atas benar-benar
terwujud atau hanya sebuah rancangan yang tidak ada penerapannya.
2.3.2 Kesadaran
Sosial
Dalam Bab ini kami juga memasukkan bahasan mengenai
Kesadaran Sosial, karena menurut kami ini penting, dan berkaitan dengan rumusan
masalah yang ingin kami jawab. Aspek Kesadaran Sosial mungkin sebenarnya hanya
wakil dari standar kompetensi yang harus dicapai seharusnya, karena kami
sendiri pun menyadari bahwa dalam meninjau implementasi IPS di SMP seharusnya
tidak hanya mengenai kesadaran sosialnya saja, namun ada banyak aspek-aspek
penting yang seharusnya kami bahas dan dijadikan tolak ukur. Namun kami
bermaksud untuk aspek ini bisa mewakilkan atau setidaknya menjadi salah satu
tolak ukur untuk tinjauan kami mengenai implementasi mata pelajaran IPS pada
siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
1.
Kesadaran Seseorang akan Hak
dan Kewajiban (Hakekat Keutamaan Manusia Sosial)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesadaran
sosial adalah kesadaran seseorang secara penuh akan hak dan kewajiban sebagai
anggota masyarakat (Tim Penyusun KBBI, 1988 : 765). Berdasarkan pengertian ini,
konsep kesadaran sosial memiliki dua keutamaan hidup manusia yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lain, yakni hak dan kewajiban seorang pribadi manusia sosial.
Hak sebagai dasar bagi berbagai kewajiban
dalam diri seseorang. Hak yang dimana dapat diartikan sebagai sesuatu yang
mendorong, memotivasi dan memaknai suatu aktivitas seorang pribadi dalam
perilaku masyarakat.
Dengan kesadaran akan haknya seorang pribadi
manusia mampu untuk memahami sebuah realitas dalam masyarakat sosial.
Tanggungjawab adalah sesuatu yang harus kita
lakukan agar kita menerima sesuatu yang dinamakan hak. Tanggung jawab merupakan
perbuatan yang sangat penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena
tanpa tanggungjawab, semuanya akan menjadi kacau. Bagaimanapun juga
tanggungjawab menjadi nomor satu didalam kehidupan seseorang. Dengan kita
bertanggungjawab, kita akan dipercaya orang lain, dan mendapatkan hak dengan
wajar. Dengan demikian tanggungjawab adalah suatu hal yang sangat penting dalam
kehidupan, karena tanggungjawab menyangkut orang lain dan terlebih diri kita
(Chang, 2001a : 48).
2. Kesadaran Seseorang akan Realitas Sosial yang Terjadi pada Jamannya (Konteks Aplikasi Keutamaan Manusia Sosial)
Untuk memahami konsep kesadaran sosial yang
dimaksud penulis terlebih dahulu perlu memahami intelegensi interpersonal.
Intelegensi sendiri adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan
menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan sistuasi yang
nyata. Intelegensi interpersonal hanya akan muncul jika seseorang memiliki
kemampuan dalam memahami situasi dan kondisi orang lain. Situasi dan kondisi
tersebut dapat ditemukan jika adanya pergulatan langsung dalam hidup
bermasyarakat. Kesadaran sosial merupakan salah satu wujud konkrit dari
intelegensi interpersonal (Harymawan, 1988 : 13).
Kesadaran sosial merupakan hasil belajar
memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, yang mampu membawa sesorang
pada suatu pengambilan sikap yang berani mengambil tindakan untuk melawan unsur
yang menindas dari realitas tersebut. Menurut Freire sendiri, sebuah kesadaran
sosial muncul karena seseorang harus memiliki intelegensi sosial. Intelegensi
ini tidak hanya sebatas kepekaan, rasa simpatik dan empatik terhadap situasi
masyarakat yang sedang mengalami penindasan baik fisik maupun psikis, tetapi
sebuah bentuk kesepahaman seseorang akan realitas sosial sehingga dirinya paham
apa yang seharusnya dilakukan dalam menyikapi realitas tersebut. Meskipun hal
itu harus melawan sturuktur atau sistem yang telah ada di dalam masyarkat itu
sendiri. Intelegensi sosial nyata dalam kesadaran seseorang akan realitas
sosial yang terjadi pada zamannya(Freire, 1972 : 1)
3. Peran Penting Kesadaran Sosial dalam Realitas Kehidupan Masyarakat
Berdasarkan hasil pemaparan tentang konsep
kesadaran sosial, penulis menemukan sekurang-kurangnya ada lima peran penting
dari kesadaran sosial bagi perilaku kehidupan sosial manusia dalam masyarakat.
a. Menyadarkan bahwa Manusia adalah Mahluk
Sosial
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat
hidup sendiri tanpa komunikasi dengan orang lain. Pada hakekatnya manusia tidak
ada yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi
kekurangan seseorang akan terpenuhi saat manusia melakukan komunikasi sosial.
Dalam komunikasi sosial, seluruh anggota masyarakat menciptakan suatu sistem
nilai dan norma. Sistem nilai dan norma tersebut berfungsi sebagai pedoman
dalam melakukan segala aktivitas di masyarakat. Meskipun demikian sistem norma
yang telah ada tidak selalu akan membentuk masyarakat yang tertib, seimbang dan
harmonis, namun diperlukan adanya kesadaran sosial seluruh anggota masyarakat
(Chang, 2001a : 47).
b. Menyadarkan Manusia akan Norma yang Berlaku di Masyarakat
Dalam kenyataan yang sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, sangat terlihat bahwa tingkat kesadaran sosial di
masyarakat mengalami pemudaran bahkan bisa dikatakan perlahan-lahan sirna atau
hilang. Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan yang terjadi di Indonesia
bahwa jaman sekarang maraknya korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara,
adanya kekerasan rumah tangga, perkelahian di mana-mana, warga masyarakat yang
main hakim sendiri, penyuapan, makin beragamnya penipuan di masyarakat,
penyimpanan sosial dan hal-hal lain yang berdampak negatif dalam hidup
bermasyarakat (Chang, 2001b : 41).
Dengan melihat hal-hal tersebut, dikatakan
bahwa kesadaran sosial telah hilang sehingga setiap anggota masyarakat memiliki
kecenderungan untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa memperdulikan lagi kaidah
sosial yang berlaku. Apabila hal ini terus terjadi dan tidak ada usaha
untuk mengubah situasi tersebut menjadi lebih baik maka dapat dipastikan bahwa
kehidupan bermasyarakat menjadi tidak tentram, yang kuat akan berkuasa, yang
pandai akan menguasai yang bodoh dan yang kaya akan menguasai yang miskin.
Tidak akan ada lagi demokrasi di masyarakat dan ketentraman hidup yang
didambakan akan sirna. Norma mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi
diri sendiri dan sesama (Chang, 2001a : 87).
c. Menyadarkan Manusia untuk Menciptakan Keseimbangan, Keserasian dan
Keharmonisan dalam Hidup Bermasyarakat
Dengan melihat bahwa manusia belum sepenuhnya
mengikuti akan sistem norma yang telah ada dalam masyarakat, kesadaran sosial
sangat berperan penting dalam situasi seperti ini. Apabila manusia tidak ada
usaha untuk menjalankan norma-norma yang ada, kehidupan masyarakat pun tidak
tertib, tidak seimbang dan bahkan tidak harmonis. Oleh karena itu, semua
anggota masyarakat baik yang kuat, lemah, kaya, atau pun miskin dituntut untuk
meningkatkan kesadaran sosial sehingga ketentraman dan pembebasan akan terwujud
di masyarakat (Freire, 1972 :13). Manusia harus mempunyai kesadaran untuk
memahami setiap perbedaan yang ada, sehingga perbedaan-perbedaan itu bukan
menjadi penghancur dalam masyarakat tetapi sebaliknya sebagai motivasi seluruh
anggota masyarakat untuk membangun kesatuan yang lebih kuat.
d. Menyadarkan Manusia akan Status dan Perannya
Adanya kesadaran bahwa dalam memenuhi
kebutuhan hidup harus memperhatikan beberapa aspek di masyarakat sehingga tidak
menimbulkan benturan kepentingan dan peran. Manusia harus menyadari bahwa
masing-masing individu melaksanakan status dan peran yang disandangnya dengan
penuh tanggungjawab serta memperhatikan kaidah yang berlaku. Dengan menyadari
bahwa ada status dan peran akan timbul rasa kebersamaan, dan dapat saling
membantu satu sama lainnya (Chang, 2001a : 48).
e. Memberi Pandangan dalam Mengambil Sikap untuk Mengatasi
Permasalahan Sosial
Kesadaran sosial bukanlah suatu
hal yang ekstrim, melainkan sebagai hasil belajar dari pemahaman tentang
keadaan sosial yang ada. Kesadaran sosial berperan membawa seseorang pada suatu
pengambilan sikap dalam mengatasi keadaan yang ada dalam kehidupan
bermasyarakat pada zamannya. Tidak hanya sampai disitu kesadaran sosial juga
berperan membawa seseorang berani mengambil tindakan untuk melawan unsur yang
menindas (Freire, 1972: 1).[10]
2.3.3 Kecakapan
Peserta Didik
Kecakapan merupakan salah satu aspek yang ingin
diwujudkan dalam tujuan mata pelajaran IPS di sekolah, maupun dalam tujuan
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional
(UU Sisdiknas) pasal
3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan dan membentuk
watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi
peserta didik agar
menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara
yang demokratis serta
bertanggung jawab”.
Dalam
hal ini pengembangan kecakapan hidup di dasarkan atas pokok-pokok pikiran bahwa
hasil proses pembelajaran selain berupa penguasaan siswa terhadap kompetensi,
kemampuan dasar, dan materi pembelajaran tertentu, juga berupa kecakapan lain
yang secara implisit di peroleh melalui pengalaman belajar. Hasil yang positif
atau bermanfaat ini di sebut juga nurturant
effect. Sebagai contoh, dalam mempelajari topic “demokrasi” , komitmen terhadap
nilai-nilai demokrasi dan menjadi warga negara yang aktif berpartisifasi dalam
kehidupan bermasyarakat.
Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan
pembelajaran perlu di pilih alternative pengalaman belajar yang semanksimal
mungkin membantu siswa memiliki kecakapan hidup yang relevan dengan kebutuhan
siswa untuk mempertahankan, dan mengembangkan hidup yang di peroleh melalui
pengalaman belajar di harapkan siswa baik sebagai individu, maupun sebagai
warga masyarakat dapat memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan
pengetahuan dan keterampilan yang telah di pelajari.
Jenis-jenis
kecakapan hidup yang perlu di kembangkan melalui pengembangan belajar antara
lain meliputi:
1. Kecakapan diri (personal skill)
§ Penghayatan diri sebagai makhluk
Tuhan YME
§ Mandiri
§ Motivasi berprestasi
§ Komitmen
§ Percaya diri
2. Kecakapan berpikir rasional
(thinking skill)
§ Berpikir kritis dan logis
§ Berpikir sistematis
§ Cakap menyusun rencana secara
sistematis
§ Cakap memecahkan masalah secara
sistematis
3. Kecakapan sosial (social skill)
§ Kecakapan berkomunikasi
lisan/tertulis
§ Kecakapan bekerjasama, kolaborasi,
lobi
§ Kecakapan berpartisipasi
§ Kecakapan mengelola konflik
§ Kecakapan mempengaruhi orang
4. Kecakapan akademik (academic
skill)
§ Kecakapan merancang,
melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiah
§ Kecakapan membuat karya tulis
ilmiah
§ Kevakapan mentransfer dan
mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecahkan masalah, baik berupa
proses maupun produk
5. Kecakapan vokasional (vocational
skill)
§ Kecakapan menemukan algoritme,
model, prosedur untuk mengerjakan suatu tugas
§ Kecakapan melaksanakan prosedur
§ Kecakapan menciptakan produk
dengan menggunakan konsep, prinsip, bahan dan alat yang telah di pelajari[11]
2.4Model
Pembelajaran Kontekstual
Pendidikan karakter yang telah
diuraikan diatas merupakan poin-poin dimana seharusnya apa yang ditanamkan pada
peserta didik. Dan merupakan pengetahuan yang menjadi pedoman bagi seorang
pendidik dalam pencapaian tujuan pada proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Dalam hal ini kami sedikit membahas mengenai bagaimana contoh pengajaran kontekstual
sebagai implementasi yang seharusnya bisa diterapkan pada saat proses
pembelajaran sehingga dalam hal ini pembelajara dari IPS pun tidak akan lagi
menjadi membosankan. Namun sebelumnya kami ingin memeberikan penjelasan
mengenai apa yang dimakasud dari pengajaran kontekstual itu sendiri.
Elaine B.Johnson
(2007:19) merumuskan Contectual
Teaching and Learning (CTL)
sebagai :
“The CTL system is on educational
process that aims to help students see meaning in the academic material they
are studying by connecting academic sebjects with the context of their daily
lives, that is,with the context of their
personal, social, and cultural
circumstances.To achieve this
aim, the systemencompasses the following eight
component : making
meaningfull connections, doing significantwork, self-regulated learning,collaborating,critical and
creative thingking, naturating the
individual, reaching high
standards, using authentic assessment “
Kutipan diatas
mengandung arti bahwa
pembelajaran kontekstual
merupakan suatu proses
pendidikan yang bertujuan
membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang
mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari, yaitu dengan konteks
lingkungan pribadinya, sosial dan
budayanya. Untuk mencapai
tujuan tersebut dapat dilakukan, ada
delapan komponen utama
pembelajaran kontekstual yaitu: melakukan hubungan
yang bermakna, mengerjakan
pekerjaan yang berarti, mengaturkan cara
belajar sendiri, bekerja
sama, berpikir kritis
dan kreatif, memelihara pribadi
siswa, mencapai standar yang tinggi dan penilaian autentik.[12]
Dari penjelasan di atas, sedikit
terurai mengenai apa yang dimaksud pembelajaran kontekstual itu sendiri. Lalu
sekarang bagaimana langkah-langkah agar pembelajaran kontekstual tersebut dapat
terlaksana. Dibawah ini kami akan sedikit memaparkannya.
Sebelum melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
Menurut Rusman (2008:181)
guru terlebih dahulu
harus membuat desain (sekenario) pembelajarannya, sebagai pedoman umum
dan sekaligus sebagai alat
kontrol dalam pelaksanaannya. Pada
intinya pengembangan setiap komponen
kontekstual dalam pembelajaran
dapat dilakukan sebagai berikut
:
Langkah pertama,
mengembangkan pemikiran siswa
untuk melakukan kegiatan belajar lebih bemakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan
sendiri dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan baru
yang harus dimilikinya.
Langkah kedua,
melaksanakan sejauh mungkin
kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
Langkah ketiga,
mengembangkan sifat ingin
tahu siswa dengan memunculkan pertanyaan – pertanyaan.
Langkah
keempat, menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok,
berdiskusi dan tanya jawab.
Langkah kelima,menghadirkan model
sebagai contoh pembelajaran,
bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.
Langkah keenam,
membiasakan anak untuk
melakukan refleksi dari
setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Langkah ketujuh,
melakukan penilaian secara
objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap
siswa.
Dalam pembelajaran
kontekstual, program pembelajaran merupakan rencana
kegiatan kelas yang
dirancang oleh guru,
yaitu dalam bentuk sekenario
tahap demi tahap
tentang apa yang
akan dilakukan bersama siswa
selama berlangsungnya proses
pembelajaran. Program
tersebut harus tercermin
penerapan dari ketujuh
komponen kontektual dengan jelas,
sehingga setiap guru memiliki persiapan yang utuh mengenai rencana yang akan
dilaksanakan dalam membimbing kegiatan
belajar mengajar di kelas.
Secara umum tidak
ada perbedaan mendasar
antara format pembelajaran konvensional
dengan kontekstual, adapun
yang membedakannya terletak pada
penekanannya, dimana pada
model konvensional lebih menekankan
tujuan yang akan
dicapai, sementara program pembelajaran
kontekstual lebih menekankan
pada sekenario pembelajarannya,
yaitu kegiatan tahap demi tahap yang dilakukan guru dan siswa dalam
upaya mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan.
Oleh karena itu program pembelajaran kontekstual hendaknya :
a. Nyatakan kegiatan
utama pembelajarannya, yaitu
sebuah pernyataan kegiatan siswa
yang merupakan gabungan
antara kompetensi dasar, materi pokok dan indikator pencapaian
hasil belajar.
b. Rumuskan dengan jelas tujuan umum
pembelajarannya.
c. Uraikan secara
terperinci media dan
sumber pembelajaran yang
akan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang diharapkan.
d. Rumuskan sekenario
tahap demi tahap
kegiatan yang harus
dilakukan siswa dalam melakukan proses pembelajarannya.
e. Rumuskan dan lakukan sistem
penilaian dengan memfokuskan
pada kemampuan sebenarnya yang
dimiliki oleh siswa
baik pada saat berlangsungnya (proses) maupun setelah
siswa tersebut selesai belajar.[13]
Dengan
langkah-langkah diatas, siswa
diharapkan dapat membangun pengetahuan
dan konsep pemikirannya
sendiri sesuai dengan
apa yang mereka ketahui
dan alami. Jadi pembelajaran kontekstual bagus
untuk dilaksanakan, karena siswa bisa merasakan sendiri secara langsung
sehingga lebih
bermakna bagi siswa dan juga
guru. Kegiatan belajar tidak
harus dan tidak
hanya fokus berada
di dalam kelas, tetapi
belajar di luar
kelas juga bisa,
malah lebih menyenangkan.
Misalnya Contoh Pengajaran Kontekstual
yang dapat dilakukan diluar kelas, contohnya
pada materi penawaran
dan permintaan, guru
mengajak siswanya
belajar di
koperasi siswa, koperasi
siswa menggambarkan langsung
proses dan kegiatan jual-beli ,
sehingga siswa disana tidak hanya bermain tetapi juga belajar.
Kemudian guru
menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang
akan dicapai, sebelum
memulai pelajaran guru
selalu memberikan pertanyaan untuk
merangsang ingatan siswa.
Setelah itu guru menjelaskan materi
yang akan dibahas
pertemuan hari itu
yaitu mengenai permintaan,
kemudian guru merangsang pengetahuan siswa
yang terkait dengan permintaan
dengan memberi pertanyaan.
Hari itu setelah
selesai melakukan diskusi, sisa
waktu digunakan untuk belajar di luar kelas yaitu di koperasi siswa, disana
siswa diberi kesempatan untu bebas bertanya dan mengalami sendiri materi
pelajaran hari itu.
Pembelajaran
kontekstual sangat tepat digunakan dalam pembelajaran IPS (Ekonomi)
karena melibatkan siswa
secara langsung dalam
praktek, jadi
siswa tidak
hanya menguasai teori
tetapi juga dalam
praktenya. Dalam kenyataannya di
lapangan siswa akan belajar dengan baik dan mudah jika yang
dia pelajari
berhubungan langsung dengan
peristiwa dan kejadian
di sekeliling mereka. Pembelajaran
kontekstual juga sangat
efektif bila guru
menyampaikan materi dengan menarik
dan menyenangkan sehingga
siswa dapat menerima dengan mudah.
Dengan metode yang
bervariasi, menarik, dan
menyenangkan akan mengajak siswa
agar lebih tertarik
untuk belajar atas
keinginan dan kesadaran sendiri
tanpa ada paksaan. Dalam pembelajaran kontekstual siswa lebih aktif sedangkan
guru sebagai fasilitator dalam menyampaikan materi.
Guru menginstruksikan siswanya
untuk membentuk kelompok
dan membentuk bangku menjadi
bentuk U, tujuannya agar guru mudah mengawasi siswanya tapi siswa tetap
duduk sesuai kelompoknya.
Guru mengawali dengan
memberi pertanyaan dari materi sebelumnya. Sebagian siswa lupa dengan
pertanyaan yang diberikan oleh guru
karena mereka kurang
memperhatikan dan kurang
belajar, guru memberi reward
berupa sebatang cokelat
kepada siswa yang
menjawab pertanyaan dimaksudkan untuk memotivasi siswa supaya lebih giat
belajar dan supaya siswa tidak lagi malu atau ragu untuk menjawab pertanyaan
maupun memberikan pendapat. Karena siswa
lupa dan masih belum mengerti tentang pelajaran minggu lalu, maka guru menjelaskan
singkat konsep-konsep tentang
permintaan. Selanjutnya pada pertemuan hari
ini guru melanjutkan
ke pembahasan tentang
penawaran. Sisa waktu pelajaran
30 menit, siswa
diminta segera pergi
ke koperasi siswa
yang letaknya tidak jauh dari kelas, kali ini siswa segera pergi ke
koperasi tanpa banyak membuang waktu dan
siswa tertib. Di
koperasi, seperti pertemuan
sebelumnya, siswa sangat antusias bertanya tentang hal yang mereka
diskusikan tadi maupun hal yang mereka ingin tahu.
Metode yang
diterapkan tidak hanya
belajar di dalam
kelas saja, mereka bisa
belajar di perpustakaan
atau di koperasi
siswa. Siswa dapat mengaitkan materi
yang dipelajari dengan
kehidupan di lingkungan
sekitar mereka sehari-hari, membayangkan
kalau yang mereka
pelajari yang mereka hadapi
dalam kehidupan mereka
sehari-harinya, sehingga selain
mendapat pengetahuan dari materi,
siswa juga mendapatkan
pengalaman secara langsung. Misalnya pada
materi permintaan, kegiatan
belajar siswa beralih
pada koperasi siswa, disana siswa
bisa tahu bagimana permintaan bisa terjadi, bagimana harga barang bisa
terbentuk, dan bagaimana
pedagang/produsen bisa memenuhi permintaan sesuai selera
konsumennya.
Pembelajaran kontekstual
sangat bermanfaat bagi
siswa karena memfokuskan pembelajaran
pada lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah
karena siswa jadi lebih berkesan
dan bermakna karena mengalaminya sendiri. Dan
dengan hal
yang sudah dilakukan,
siswa diharapkan dapat
membangun pengetahuan dan konsep
pemikirannya sendiri sesuai
dengan apa yang
mereka ketahui dan alami.[14]
BAB III
OBJEK DAN
METODE PENELITIAN
3.1 Objek
Penelitian
Objek
Penelitian yang diambil oleh peneliti adalah SMP Negeri 2 Kota Sukabumi,
sebagai salah satu Sekolah unggulan jenjang menengah di Kota Sukabumi. Kami
menentukan objek penelitian di SMP Negeri 2 ini karena, kami pikir SMP bisa
dijadikan tolak ukur untuk penelitian kami, mewakilkan dari seluruh SMP yang
ada di Kota Sukabumi.
SMP Negeri 2 Sukabumi berdiri
sejak tahun 1967, bangunan yang di gunakan adalah bekas SMA Negeri 1 Sukabumi (Sekolah Unical). Dari tahun ke
tahun estafet kepemimpinan dari pertama
sampai sekarang banyak memberikan warna baru terhadap kemajuan SMPN 2 Sukabumi
ini yang banyak meraih prestasi cakap gemilang sehingga sekolah ini menjadi
target siswa yang ingin melanjutkan ke tingkat SMP. Dan ketika di bawah
kepemimpinan Dr. H. Mumu, M. Pd SMP Negeri 2 Sukabumi mengalami perubahan yang
sangat pesat dari mulai pembagunan sekolah maupun prestasi yang di raih dan yang paling
gemilang yaitu pada saat meluluskan SMP Negeri 2 Sukabumi menjadi sekolah SSN
dan akhirnya sampai menjadi sekolah RSBI ( Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional ) bersama 11 sekolah SMP yang ada di Jawa Barat. Maka tak heran
jika selama kepemimpinan beliau SMP Negeri 2 mengalami kemajuan yang luar biasa
sehingga bersaing secara Nasional meupun
Internasional. [15]Meskipun pada saat ini SMP
Negeri 2 sudah tidak dibawah kepemimpinannya lagi karena beliau dipindah
tugaskan, namun SMP Negeri 2 masih menjadi sekolah unggulan yang menjadi contoh
sekolah-sekolah menengah lain yang ada di Sukabumi.
3.2 Metode
Penelitian
Dalam
setiap penelitian selalu menggunakan metode penelitian. Penggunaan metode ini
bertujuan untuk memperoleh hasil yang bersifat objektif, tepat, dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan metode penelitian survey dimana penelitian yang dilakukan
oleh populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari
sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan
kejadian-kejadian relative distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel
sosiologis maupun psikologis.[16]
3.2.1 Desain/rancangan
penelitian
Peneliti menggunakan jenis penelitian tingkat
eksplanasi deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui nilai
variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat
perbandingan, atau menghubungkan variable satu dengan variabel lainnya.[17]Dimana
dalam hal ini kami menentukan variabel yang kami analisis yaitu Implementasi
Mata Pelajaran IPS. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menuturkan,
menganalisa, penelitian dengan teknik survey, dengan teknik interview, angket, observasi, studi
kasus, studi komperatif, analisa kuantitatif. Dan analisa kuantitatif merupakan salah satu bentuk metode deskriptif
(Surakhmad, 1990: 139 dan 230)[18]
3.3 Populasi
dan Sampel
Populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.[19]
Selain itu Soehartono (2008:57) mengungkapkan bahwa populasi merupakan jumlah
keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan diteliti. Kemudian menurut
Sarwono (2006: 111) menyatakan populasi adalah seperangkat unit analisis yang
lengkap dan sedang diteliti. Berdasarkan tiga pengertian tersebut dapat
dismpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan unit, nilai, ataupun individu yang
menjadi obyek penelitian.
Sampel adalah suatu bagian dari
populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya
(Soehartono, 2008:57). Dikemukakan pula oleh Namawi (2003:145) bahwa populasi
dan sampel itu adalah manusia dan tingkah lakunya yang berbentuk berbagai
gejala, benda dan peristiwa.[20]
Sedangkan sampel menurut Sugiyono, bahwa sampel adalah bagian dari jumlah
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.[21]
Teknik pengambilan sampel yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah Nonprobability
Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak member
peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel.[22] Dan disini kami
menggunakan khususnya teknik sampling
incidental yaitu suatu teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan/incidental
bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang
yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.[23]
Adapun sampel yang diambil adalah siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang kami
pilih secara acak, beberapa orang dari tiap tingkat kelasnya.
Teknik penentuan anggota sampel
yaitu dengan mengambil data jumlah responden untuk seluruh siswa SMP Negeri 2
Kota Sukabumi sebanyak 547 siswa.
Untuk lebih jelasnya, dapat
dilihat tabel jumlah siswa yang ada di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi pada tahun
ajaran 2012/2013.
Data
Jumlah Siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi Tahun 2012/2013
|
Kelas
|
Jumlah
Siswa
|
|
VII
|
191 Siswa
|
|
VIII
|
180 Siswa
|
|
IX
|
176 Siswa
|
|
Jumlah
Total
|
547
Siswa
|
Sumber : SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
Dalam
menentukan besarnya sampel menggunakan rumus pengambilan sampel.[24]
Keterangan :
n =
Jumlah ukuran sampel
N =
Jumlah anggota populasi
d =
Presisi yang ditetapkan (10%)
1 =
Angka Konstanta
Maka:
Alokasi Sampel berdasarkan tingkatan
kelasnya[25] :
Keterangan:
ni =
Besarnya ukuran sampel pada masing-masing tingkatan
Ni =
Jumlah anggota populasi pada masing-masing tingkatan
N =
Jumlah anggota populasi keseluruhan
Kelas VII =
orang
Kelas VIII =
orang
Kelas IX =
orang
Jumlah Sampel yang Diambil
|
No
|
Kelas
|
Jumlah Sampel
|
|
1
|
VII
|
30
siswa
|
|
2
|
VIII
|
28
siswa
|
|
3
|
IX
|
27
siswa
|
|
Jumlah
|
|
85 siswa
|
3.4 Teknik
Pengumpulan Data
Guna mendapatkan data yang
diperlukan, maka dilakukan pengumpulan data dengan memakai metode Kuesioner
(Angket) dan Studi Kepustakaan.
Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan
teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel
yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Dan disini
kami menggunakan prinsip penulisan angket dalam tipe dan bentuk pertanyaan
terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang mengharapkan
responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang suatu hal. Dan
pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau
mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternative jawaban dari setiap
pertanyaan yang telah tersedia.[26]
Angket ini diberikan kepada para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang terdiri
dari perwakilan kelas tiap tingkatannya. Kelas VII diwakilkan oleh 30 orang,
kelas VIII oleh 28 orang dan kelas IX oleh 27 orang, sehingga jumlah
keseluruhan ialah 85 orang. Yang kemudian dijadikan sampel untuk menjawab
rumusan masalah yang kami ajukan.
Studi Kepustakaan merupakan dalam
hal ini peneliti berusaha membaca literature, prosedur, diktat serta laporan
penelitian terdahulu yang sesuai atau yang berhubungan dengan masalah yang akan
dibahas.
3.5 Teknik
Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang
digunakan adalah skala Likert yaitu skala yang
digunakan untuk mengukur persepsi, sikap atau pendapat seseorang atau kelompok
mengenai sebuah peristiwa atau fenomena sosial, berdasarkan definisi
operasional yang telah ditetapkan oleh peneliti. [27]Sedangkan
menurut Sugiyono Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh
peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Skala Likert, maka
variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indicator variable. Kemudian
indicator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item
instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan[28].
Jawaban setiap
instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif
sampai sangat negative, yang terdiri dari lima alternantif jawaban. Dengan
nilai angka skor yang sama, walaupun berbeda dalam pilihan alternatif jawaban
dalam setiap pernyataan yang diberikan. Untuk mengukur hasil jawaban responden
peneliti menetapkan skor untuk masing-masing alternative, yaitu:
·
Sangat
Setuju (SS) 5
·
Setuju
(S) 4
·
Ragu-Ragu
(R) 3
·
Kurang
Setuju (KS) 2
·
Sangat
Tidak Setuju (TS) 1
Adapun alternatif jawaban lainnya dengan jumlah
skor yang sama seperti:
·
Selalu
(SL) 5
·
Sering
(SR) 4
·
Kadang-Kadang
(KK) 3
·
Jarang
(JR) 2
·
Tidak
Pernah (TP) 1
Teknik pengumpulan data angket,
maka instrumen tersebut diberikan pada sampel. Kemudian dihitung dengan cara:
Skor Sangat Setuju (SS) 5x Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Setuju (S) 4x Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Ragu-ragu (R) 3x Jumlah item yang dipilih = Skor
Skor Kurang Setuju (KS) 2x Jumlah
item yang dipilih = Skor
Jumlah
item dipilih Jumlah Skor
Persentasenya
:
1. Jml. Responden persen menyatakan
SS : jml. Item dipilih / 85 x
100 = %
2. Jml. Responden persen menyatakan
S : jml. Item dipilih / 85 x 100 = %
3. Jml. Responden persen menyatakan
R : jml. Item dipilih / 85 x
100 = %
4. Jml. Responden persen menyatakan
KS : jml. Item dipilih / 85 x 100
= %
5. Jml. Responden persen menyatakan
TS : jml. Item dipilih / 85 x
100 = %
Untuk
mengetahui skor kumulatif dari tiap variabel digunakan cara berikut dibawah
ini:
1. Total skor sangat rendah
Jumlah
item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 1 = Skor
2. Total skor rendah
Jumlah
item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 2 = Skor
3. Total skor sedang
Jumlah
item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 3 = Skor
4. Total skor tinggi
Jumlah
item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 4 = Skor
5. Total skor sangat tinggi
Jumlah
item pertanyaan x Jumlah sampel x nilai skor 5 = Skor
Secara garis kontinum dapat
digambarkan sebagai berikut:
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Skor sangat rendah Skor rendah Skor
sedang Skor tinggi Skor sangat tinggi
3.6 Teknik
Analisis Data
Kegiatan dalam analisis data
adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden,
mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, mengajukan data
tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan
masalah yang telah diajukan.[29]
3.6.1 Uji
Validitas Instrumen
Dalam hal uji validitas Instrumen
ini, perlu menurut kami sebagai peneliti untuk terlebih dahulu menjelaskan
mengenai Validitas Instrumen tersebut. Instrumen yang valid berarti alat ukur
yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.[30]Pengujian
validitas tiap butir digunakan analisis tiap item, yaitu mengkorelasikan skor
tiap butir dengan skor yang merupakan
jumlah tiap skor butir.[31]
Dengan menggunakan rumusan korelasi
product moment.[32]
Keterangan:
Hal
analisis item ini, Masrun menyatakan teknik korelasi untuk menentukan validitas
item ini sampai sekarang merupakan teknik yang paling banyak digunakan.
Selanjutnya dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi, Masrun
menyatakan item yang mempunyai korelasi positif dengan skor total (kriterium)
serta korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas
yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah
kalau r = 0,3. Jadi kalau korelasi antar butir dengan skor total kurang dari
0,3 maka butir dalam instrument tersebut dinyatakan tidak valid.[33]
Adapun
dalam hal ini adalah angket yang telah disebar kepada siswa SMP Negeri 2 Kota
Sukabumi yang akan diuji validitas dari angket tersebut.
Berdasarkan
angket yang telah disebarkan, diolah dan selanjutnya akan diuji validitas dari
data tersebut. Kami telah menentukan terlebih dahulu jumlah X2, Y2
dan X.Y dalam variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Kota
Sukabumi. Untuk lebih jelasnya maka, kami akan memaparkan pengujian validitas
pada item no.1 variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS adalah sebagai berikut:
Pengujian Validitas Instrumen
Variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS studi pada SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
Item no.1
Berdasarkan
hasil perhitungan dari table (terlampir dalam lampiran) maka untuk item no.1
variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS untuk menyatakan validitasnya
dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product
moment yaitu sebagai berikut:
Berdasarkan
pengujian validitas setelah dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment maka hasil item no.1
variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS sebesar 0,46 dengan demikian item
tersebut dinyatakan valid dan dapat dipergunakan selanjutnya. Satu persatu item
dari variabel tersebut kami hitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Dan untuk perhitungan no
2 dan selanjutnya tidak dijelaskan secara mendetail karena perhitungsn untuk
item berikutnya sama seperti pada item no 1, untuk lebih jelasnya hasil
perhitungan uji validitas variabel Implementasi Mata Pelajaran IPS studi pada
SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Hasil perhitungan pengujian
validitas konstruk implementasi mata pelajaran IPS
|
No. Butir Instrumen
|
Koefisien Korelasi
|
Keterangan
|
|
1
|
0,46
|
Valid
|
|
2
|
0,53
|
Valid
|
|
3
|
0,43
|
Valid
|
|
4
|
0,37
|
Valid
|
|
5
|
0,37
|
Valid
|
|
6
|
0,32
|
Valid
|
|
7
|
0,38
|
Valid
|
|
8
|
0,41
|
Valid
|
|
9
|
0,43
|
Valid
|
|
10
|
0,60
|
Valid
|
|
11
|
0,65
|
Valid
|
|
12
|
0,61
|
Valid
|
|
13
|
0,53
|
Valid
|
Dari uji
validitas tersebut ternyata koefisien korelasi semua item instrument dinyatakan
valid karena setiap butir instrument di atas 0,30. Item yang mempunyai
validitas tertinggi adalah item no. 11 dengn koefisien korelasi sebesar 0,65
dan paling rendah item no. 6 dengan koefisien relasi sebesar 0,32.
3.6.2
Uji Reliabilitas Instrumen
Sama
halnya dengan uji validitas instrumen. Disini kami akan menjelaskan sedikit
mengenai uji reabilitas instrumen. Instrumen yang reliable adalah instrument
yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan
menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh
instrument yang tidak reliable/konsisten.[34]
Pengujian
reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal consistency dengan Teknik
Belah Dua (split half) yang dianalisis
dengan rumus Spearman Brown.
Keterangan:
ri
= Reliabilitas internal seluruh instrument
rb
= korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua
Untuk keperluan itu maka
butir-butir instrument di belah menjadi dua kelompok genap. Selanjutnya skor
data tiap kelompok itu disusun sendiri. Untuk mengetahui kelompok ganjil dan
kelompok genap kami masukkan tabelnya pada lampiran. Dimana skor ganjil, skor
butirnya dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total. Selanjutnya skor total
antara kelompok ganjil dan genap dicari korelasinya.[35]
Pengujian Reliabilitas Variabel
Implementasi Mata Pelajaran IPS
Sebelum
dimasukkan ke dalam rumus spearman brown maka
harus dicari dahulu koefisien korelasinya dengan rumus korelasi product moment, perhitungannya sebagai
berikut:
Setelah
koefisien korelasinya dihitung dan diketahui sebesar 0,56, lalu koefisien
korelasi ini selanjutnya dimasukkan dalam rumus spearman brown sebagai berikut:
Jadi
reliabilitas instrumen variabel Implementasi mata pelajaran IPS sebesar 0,72
karena berdasarkan uji instrument ini sudah valid dan reliable seluruh
butirnya, maka instrumen dapat digunakan untuk pengukuran dalam rangka
pengumpulan data. Dengan
menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka
diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen
yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil
penelitian yang valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan
menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, otomatis
hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini masih akan
dipengaruhi oleh kondisi obyek yang diteliti, dan kemampuan orang yang
menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu peneliti harus
mampu mengendalikan obyek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan
menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti.[36]
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada Bab ini merupakan Bab Pembahasan dari rumusan masalah
yang telah kami ajukan dalam jurnal ini dan hasil dari angket yang telah kami
sebar kepada 85 siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi kelas VII, VIII, dan IX,
dimana kami sebagai peneliti ingin mengetahui sejauh mana implementasi Mata
Pelajaran IPS ini kepada para siswa SMP Negeri 2 khususnya. Apakah yang menjadi
tujuan IPS itu sendiri telah tercapai atau kah belum. Apakah aspek-aspek yang
harus dimiliki peserta didik telah tertanam ataukah belum. Apakah aspek
kecakapan dan kesadaran sosial yang kami jadikan rumusan masalah telah peserta
didik miliki setelah menerima materi demi materi dalam mata pelajaran IPS di
SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Dari angket yang kami buat, kami membagi antara soal
tentang kecakapan dengan soal kesadaran sosial. Nomor 1 sampai dengan nomor 7
merupakan soal tentang kecakapan yang kami ingin tahu sejauh mana aspek
kecakapan tersebut terlaksana. Sedangkan soal seterusnya yaitu nomor 8 sampai
nomor 13 merupakan soal tentang kesadaran sosial. Berikut kami akan bahas hasil
angket tersebut dengan tetap mengacu pada rumusan pertama yang kami ajukan dan
ingin kami jawab tentang apakah
dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai kecakapan dalam
pengaplikasian materi IPS yang disampaikan.
Pertanyaan pertama mengenai apakah dengan
belajar IPS membuat peserta didik menjadi cakap dalam berkomunikasi baik lisan
maupun tulisan dan jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
2
|
10
|
2%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
40
|
160
|
47%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
36
|
108
|
43%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
7
|
14
|
8%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
0
|
0
|
0%
|
|
Jumlah
|
85
|
292
|
100%
|
Berdasarkan
tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 292
dengan persentase 2% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS yang
membuat mereka cakap baik lisan ataupun tulisan, dengan 1% dari kelas VII dan
1% dari kelas IX. Dan tidak ada dari kelas VIII yang menyatakan sangat setuju.
Kemudian
47% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS peserta didik merasa lebih
cakap dalam hal komunikasi baik lisan ataupun secara tulisan. Itu berarti
sebagian siswa merasa dengan adanya mata pelajaran IPS ini sangat membantu
mereka dalam hal kecakapan itu sendiri baik lisan ataupun tulisan. Dengan 19%
dari kelas VII, 9% dari kelas VIII, dan 19% dari kelas IX.
Selanjutnya 43% menyatakan ragu-ragu dengan
belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi baik lisan maupun
tulisan. Ini berarti tidak sedikit pula yang ragu-ragu dengan IPS yang membuat
mereka lebih cakap, dilihat dari persentase yang hanya berbeda 4% dengan
persentase yang menyatakan setuju. Dengan 14% dari kelas VII, 19% dari kelas
VIII, dan 10% dari kelas IX.
Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi baik lisan
maupun tulisan. Dengan 1% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII, dan 3% dari kelas
IX.
Dari
uraian diatas dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 47% yang menyatakan
setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih cakap dalam komunikasi
baik lisan maupun tulisan. Dimana kecakapan memang salah satu aspek yang
menjadi tujuan dari UU Sisdiknas Tahun 2003, dan kecakapan dalam komunikasi
baik lisan ataupun tulisan merupakan bagian dari kecakapan itu sendiri. Artinya
47% siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa bahwa dengan belajar IPS mereka
merasa lebih cakap dalam hal khususnya komunikasi itu sendiri baik lisan
ataupun tulisan. Walaupun yang menjawab ragu-ragu tidak sedikit jumlahnya hanya
berbeda 4% dengan yang menjawab setuju artinya disini peran guru harus lebih
mendorong lagi dalam mengajarkan materi kepada peserta didik, lebih memotivasi
siswa lagi agar kelak keseluruhan nantinya mempunyai kecakapan komunikasi yang
memang menjadi tujuan. Namun dengan melihat persentase setuju lebih besar
dibandingkan dengan yang ragu-ragu setidaknya apa yang menjadi tujuan IPS itu
sendiri tentang kemampuan komunikasi sosial yang harus dikembangkan dalam diri
siswa pun tercapai.
Pertanyaan
kedua mengenai apakah dengan belajar IPS membuat
peserta didik lebih bekerja sama dengan teman dan jawabannya adalah sebagai
berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
8
|
40
|
9%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
42
|
168
|
49%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
29
|
87
|
34%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
6
|
12
|
8%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
0
|
0
|
0%
|
|
Jumlah
|
85
|
307
|
100%
|
Berdasarkan
hasil angket, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 307
dengan persentase 9% menyatakan sangat setuju bahwa dengan belajar IPS yang
membuat mereka lebih bekerja sama dengan teman. Dengan 6% dari kelas VII, 1%
dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX.
Persentase
Setuju menyatakan 49% setuju bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih dapat
bekerja sama dengan teman. Dalam hal ini persentase setuju seperti halnya
pertanyaan nomor 1 mendapatkan persentase tertinggi. Dan frekuensi terbanyak.
Dengan 11% dari kelas VII, 13% dari kelas VIII, dan 25% dari kelas IX. Artinya
siswa di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa setuju bahwa dengan beljar IPS
meningkatkan hubungan mereka dengan teman-temannya menjadi lebih baik dengan
bekerja sama dengan teman.
Adapun persentase ragu-ragu menyatakan 34%
ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS mereka dapat bekerja sama dengan teman.
Dengan 16% dari kelas VII, 14% dari kelas VIII, dan 4% dari kelas IX. Artinya
sebagian siswa masih merasa ragu ataupun belum merasakan ketika mereka belajar
IPS mereka belum dapat bekerja sama dengan teman.
Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS mereka dapat bekerja sama dengan teman. Dengan 3% dari kelas
VII, 4% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX. Artinya dari frekuensi yang ada
yaitu 850 orang sampel yang diambil 12 orang mengatakan bahwa mereka tidak
setuju, mungkin dalam hal ini ada faktor-faktor yang menyebabkan mereka tidak
setuju. Bisa karena faktor intern ataupun extern.
Berdasarkan
hasil angket tersebut dapat dilihat persentase tertinggi yaitu 49% yang
menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih bekerja sama
dengan teman. Artinya dari sampel yang diambil menyatakan bahwa siswa-siswi SMP
Negeri 2 merasa dengan belajar IPS mereka lebih dapat bekerja sama dengan
temannya. Bisa jadi karena cara penyampaian materi dari guru kepada siswa tidak
disampaikan secara monoton namun dengan cara-cara yang membangkitkan siswa
lebih menggali kemauannya untuk bisa bekerja sama dengan teman. Dalam hal ini bekerja sama memang
bagian dari kecakapan yang memang ingin kita teliti apakah terwujud dengan baik
di siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi ini. Dimana Kecakapan dalam hal bekerja sama
disebut denga kecakapan sosial (social skills) sama seperti halnya nomor 1
yaitu kecakapan berkomunikasi lisan/tulisan. Namun tak sedikit pula yang
menjawab ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS siswa dapat lebih bekerja sama.
Mungkin ini karena proses pembelajaran itu sendiri yang monoton, yang hanya
menjejali siswa dengan teori sehingga tidak akan terjadi kerjasama itu sendiri.
Disini kembali lagi kepada peran guru untuk memberikan metode pembelajaran yang
lebih inovatif, dan kreatif agar kerjasama tersebut dapat terjalin dengan
semestinya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Pertanyaan Ketiga
mengenai peningkatan kepercayaan diri peserta didik setelah belajar IPS dan
jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
3
|
15
|
4%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
29
|
116
|
34%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
46
|
138
|
54%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
7
|
14
|
8%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
0
|
0
|
0%
|
|
Jumlah
|
85
|
283
|
100%
|
Adapun
dari total skor di atas, menunjukkan bahwa jawaban responden sebanyak 283
dengan persentase 4% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS membuat
mereka menjadi lebih percaya diri. Dengan 4% hanya VII sedangkan dari kelas
VIII dan IX tidak ada yang memilih sangat setuju.
Lalu
34% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih percaya
diri. Dengan 14% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII, dan 13% dari kelas IX.
Artinya dilihat dari persentase yang ada bahwa peningkatan kepercayaan diri
yang ada setelah belajar IPS diarasakan oleh sebagian siswa SMP Negeri 2 Kota
Sukabumi.
Dan selanjutnya 54% menyatakan ragu-ragu
dengan belajar IPS mereka lebih percaya diri. Dengan 14% dari kelas VII, 24%
dari kelas VIII, dan 16% dari kelas IX. Artinya dilihat dari persentase
ragu-ragu yang mempunyai persentase tertinggi berarti setengah dari sampel yang
diambil merasa ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS tingkat kepercayaan diri
mereka bertambah.
Sebanyak 8% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS Dengan 4% dari kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 2% dari
kelas IX.
Kesimpulan
dari angket pertanyaan nomor 3 dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu
54% yang menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS membuat mereka lebih percaya
diri. Ini menjadi bahan evaluasi seharusnya bagi pendidik bahwa tingkat
kepercayaan diri yang seharusnya ada, dimana termasuk dalam bagian kecakapan
itu sendiri pada aspek kecakapan diri khususnya belum dapat tertanam dengan
baik pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Mungkin ketika dalam penyampaian
materi contohnya pada standar kompetensi memahami usaha manusia untuk mengenali
perkembangan lingkungan, misalnya siswa diminta untuk observasi atau bisa
dibilang melakukan pengamatan atas perkembangan lingkungannya itu sendiri. Lalu
siswa diminta untuk mempersentasikannya didepan kelas bisa dengan berkelompok
ataupun individu, setidaknya itu akan melatih tingkat kepercayaan diri sisw
untuk berbicara didepan kelas, menjelaskan di depan teman-temannya hasil dari
pengamatan yang telah siswa lakukan. Mungkin contoh di atas hanya salah satu
dari metode yang dapat dipakai oleh pendidik untuk meningkatkan kepercayaan
diri siswa. Sehingga persentase sebesar 54% siswa yang merasa ragu-ragu bahwa
dengan belajar IPS kepercayaan diri mereka meningkat, akan menjadi berkurang
dan akhirnya semua siswa dapat setuju dengan peningkatan kepercayaan diri tersebut.
Dan dengan begitu kecakapan diri yang seharusnya dimiliki pun akan terlaksana,
dan apa yang menjadi tujuan IPS pun dapat terwujud.
Pertanyaan Keempat
mengenai peningkatan motivasi untuk lebih giat belajar setelah pembelajaran IPS
dan jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
4
|
20
|
5%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
32
|
128
|
38%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
40
|
120
|
47%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
8
|
16
|
9%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
1
|
1
|
1%
|
|
Jumlah
|
85
|
285
|
100%
|
Pertanyaan
keempat ini mempunyai total skor hasil dari jawaban responden sebanyak 285
dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju bahwa dengan pembelajaran IPS
mereka lebih termotivasi dalam giat belajar. Dengan 3% dari kelas VII, 1% dari
kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Kemudian
38% menyatakan setuju dengan belajar IPS mereka merasa termotivasi untuk lebih
giat belajar. Dengan 11% dari kelas VII, 13% dari kelas VIII, dan 14% dari
kelas IX. Artinya sebagian siswa merasa bahwa ketika mereka belajar IPS membuat
mereka lebih termotivasi dalam hal belajar.
Sama halnya seperti pertanyaan nomor 3, disini
persentase ragu-ragu merupakan persentase tertinggi dimana 47% menyatakan
ragu-ragu dengan belajar IPS mereka termotivasi lebih giat belajar. Dengan 18%
dari kelas VII, 15% dari kelas VIII, dan 14% dari kelas IX. Artinya kebanyakan
siswa merasa ragu-ragu bahwa dengan belajar IPS mereka lebih termotivasi untuk
lebih giat belajar.
Sebanyak 9% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS membuat mereka lebih termotivasi dalam belajar. Dengan 5%
dari kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX. Dan hanya 1% yang
menyatakan tidak setuju.
Dari
uraian diatas persentase ragu-ragu merupakan yang tertinggi yaitu sebanyak 47%,
artinya dalam hal ini para siswa masih ragu apakah pembelajaran IPS yang mereka
terima membuat mereka lebih termotivasi untuk lebih giat belajar atau tidak.
Mungkin disini tergantung pada individu masing-masing dimana tidak bisa
dipungkiri bahwa pasti akan ada mata pelajaran lain yang membuat mereka lebih
termotivasi untuk lebih giat belajar dibandingkan mata pelajaran IPS. Namun
dalam hal ini kecakapan yang kami maksud tidak terlepas dari kecakapan diri, yang
dimana motivasi untuk berprestasi itu penting untuk dimiliki setiap peserta
didik. Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran khususnya mata pelajaran
IPS, peserta didik harus lebih diajak lagi agar ia termotivasi dalam
belajarnya. Mungkin bisa dengan meminta peserta didik mencari atau mempelajari
bahan materi yang akan dibahas dipertemuan selanjutnya, sehingga peserta didik
akan lebih termotivasi untuk belajar tanpa ia sadari.
Pertanyaan Kelima
mengenai kemampuan peserta didik setelah belajar IPS untuk memecahkan masalah
sehari-hari, jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
8
|
40
|
9%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
31
|
124
|
37%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
42
|
126
|
49%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
4
|
8
|
5%
|
|
5
|
Sangat Tidak Setuju
|
1
|
0
|
0
|
0%
|
|
Jumlah
|
85
|
298
|
100%
|
Dilihat
dari tabel di atas menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 298
dengan persentase 9% menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran IPS membuat
mereka dapat memecahkan masalah sehari-hari yang mereka punya. Dengan 6% dari
kelas VII, 2% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Dan
37% menyatakan setuju dengan belajar IPS mereka merasa lebih dapat memecahkan
masalah sehari-harinya. Dengan 12% dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 15%
dari kelas IX. Artinya sebagian siswa merasa dengan belajar IPS mereka dapat
memecahkan masalah yang mereka temui sehari-hari.
Lalu 49% menyatakan ragu-ragu dengan belajar
IPS mereka bisa memecahkan masalah yang mereka punya. Dengan 16% dari kelas
VII, 19% dari kelas VIII, dan 14% dari kelas IX. Artinya kemampuan memecahkan
masalah sehari-hari setelah belajar IPS, masih diragukan oleh siswa SMP Negeri
2, khususnya dapat terlaksana setelah mereka belajar IPS.
Sebanyak 5% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS membuat mereka dapat memecahkan masalah yang ada. Dengan 1%
dari kelas VII, 3% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Kesimpulan
dari angket pertanyaan nomor 5 ini dapat dilihat bila persentase tertinggi
yaitu 49% yang menyatakan ragu-ragu dengan belajar IPS membuat mereka dapat
memecahkan masalah sehari-harinya. Dimana dalam hal ini pemecahan masalah
sosial termasuk ke dalam kriteria kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta
didik dalam tujuan IPS yang ingin diwujudkan dalam diri peserta didik, bila hasilnya
bahwa peserta didik ragu akan bisa memecahkan masalah setelah belajar IPS itu
artinya tujuan dari IPS itu belum terlaksana. Padahal dengan belajar IPS
seharusnya peserta didik bisa mempunyai kemampuan pemecahan masalah sosial itu
sendiri. Karena seperti pembelajaran IPS itu sendiri untuk melatih keterampilan
siswa baik keterampilan fisik maupun kemampuan berpikirnya dalam mengkaji dan
mencari pemecahan dari masalah sosial yang dialaminya.[37]Mungkin
keraguan ini terjadi karena mata pelajaran IPS itu sendiri hanya dijadikan mata
pelajaran yang membosankan dengan segudang teori yang harus dihafal oleh
peserta didik, sehingga penaplikasian dari teori itu tidak akan terjadi dan
akhirnya peserta didik tidak mempunyai kepekaan untuk memecahkan masalah sehari-harinya.
Dengan demikian, pendidik yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk memunculkan
keterampilan-keterampilan siswa tersebut khusunya dalam pemecahan masalah
sosial (social problem solving)
Pertanyaan
Keenam apakah dengan belajar IPS membuat
peserta didik lebih berpikir kritis dan logis, dan jawabannya adalah sebagai
berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
4
|
20
|
5%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
52
|
208
|
61%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
25
|
75
|
29%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
4
|
8
|
5%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
0
|
0
|
0%
|
|
Jumlah
|
85
|
311
|
100%
|
Dari
tabel di atas, pertnyaan keenam mengenai kecakapan menunjukkan bahwa total skor
jawaban responden sebanyak 311 dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju
dengan pembelajaran IPS yang membuat mereka lebih berpikir kritis dan logis.
Dengan 3% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII, dan 1% dari kelas IX.
Yang
menyatakan setuju sebanyak 61% bahwa dengan belajar IPS mereka merasa lebih
bisa berpikir kritis dan logis. Dengan 21% dari kelas VII, 21% dari kelas VIII,
dan 19% dari kelas IX. Artinya kebanyakan dari sampel yang diambil merasa bahwa
dengan belajar IPS mereka merasa dapat berpikir kritis dan logis.
Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebanyak
29% bahwa dengan belajar IPS mereka bisa berpikir kritis dan logis. Dengan 9%
dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 10% dari kelas IX. Artinya dalam hal
ini untuk anak dapat berpikir kritis dan logis tidak semuanya dapat merasakan
setelah pembelajaran IPS dengan begitu masih ada yang harus diperbaiki dalam penanaman
aspek tersebut kepada semua peserta didik agar tujuan yang ingin dicapai dapat
terwujud.
Namun sebanyak 5% menyatakan tidak setuju
bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih berpikir kritis dan logis. Dengan
4% dari kelas VII, dan 1% dari kelas IX. Dan tidak ada yang menjawab tidak
setuju di kelas VIII. Artinya masih ada siswa yang merasa bahwa dengan belajar
IPS mereka kurang dapat berpikir logis dan kritis.
Dari
hasil angket diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa persentase tertinggi yaitu
61% yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS membuat mereka lebih
berpikir kritis dan logis. Ini berarti kecakapan yang kami maksud dalam hal ini
khususnya yang termasuk kedalam kecakapan berpikir rasional (thinking skill)
yaitu berpikir kritis (critical thinking) dan logis dapat terwujud sekitar 61%
dari sampel yang kami ambil. Dimana jumlah ini cukup banyak, dan kami bisa
sedikit menyimpulkan bahwa salah satu dari lima kriteria yang harus
dikembangkan dalam mata pelajaran IPS ini dapat tercapai pada siswa SMP Negeri
2 Kota Sukabumi. Namun masih ada yang
ragu-ragu ataupun tidak setuju dengan pernyataan bahwa dengan belajar IPS dapat
berpikir kritis dan logis, ini menunjukkan bahwa masih harus ada perbaikan
dalam hal pemberian motivasi dan tindakan dari seorang pendidik sendiri, agar
apa yang memang menjadi kriteria kemampuan yang harus dimiliki setelah
pembelajaran IPS dilakukan, dpat terlaksana pada seluruh siswa SMP Negeri 2
Kota Sukabumi.
Pertanyaan
Ketujuh mengenai pembuatan suatu karya
ilmiah/kerajinan ketika pemebelajaran IPS dilakukan siswa, jawabannya adalah
sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
4
|
20
|
5%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
27
|
108
|
31%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
27
|
81
|
31%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
23
|
46
|
28%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
4
|
4
|
5%
|
|
Jumlah
|
85
|
259
|
100%
|
Seperti
yang terlihat pada tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban
responden sebanyak 259 dengan persentase 5% menyatakan sangat setuju ketika
pembelajaran IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 1%
dari kelas VIII, dan 4% dari kelas IX. Namun dari kelas VII memang tidak ada
yang menyatakan sangat setuju bahwa mereka ketika belajar IPS pernah membuat
suatu karya ilmiah/kerajinan, ini bisa jadi karena memang kelas VII materi yang
diajarkan belum sampai dapat menguasai untuk membuat suatu karya ilmiah atau
kerajinan yang kami maksud, sehingga hanya dari kelas VIII dan kela IX saja
yang menyatakan sangat setuju meskipun dengan persentase yang kecil.
Kemudian
31% menyatakan setuju artinya ketika pembelajaran IPS mereka pernah membuat
suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 16% dari kelas VIII, dan 15% dari kelas
IX. Dan kelas VII tidak ada yang menyatakan setuju. Artinya dalam hal ini
pembuatan karya ilmiah/kerajinan dapat dirasakan oleh kelas VIII dan kelas IX
saja, dilihat dari persentase yang ada untuk jumlah persentase 31% dari kelas
VIII 16% dan dari kelas IX sebesar 15%.
Lalu 31% menyatakan ragu-ragu dengan belajar
IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dengan 13% dari kelas
VII, 9% dari kelas VIII, dan 9% dari kelas IX. Bisa dilihat antara persentase
yang menyatakan setuju dan persentase yang menyatakan ragu-ragu mempunyai
persentase yang sama yaitu sebanyak 31%. Ini artinya para siswa yang menyatakan
ragu-ragu bahwa mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan setelah
belajar IPS tidak kalah banyak dengan yang menyatakan setuju, dilihat dari
persentase di antara keduanya yang seimbang.
Dan sebanyak 28% menyatakan tidak setuju
bahwa dengan belajar IPS mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan.
Dengan 18% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII dan 6% dari kelas IX. Dan 5% dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak
setuju mereka pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan selama belajar IPS. Dilihat
dari persentase antara yang menyatakan setuju, ragu-ragu, dan tidak setuju
hanya berbeda selisih sebanyak 3% saja. Oleh karena itu dillihat dari
persentase yang hanya berbeda sedikit saja, tidak menutup kemungkinan bahwa
para siswa yang menyatakan tidak setuju bahwa mereka pernah membuat suatu karya
ilmiah/kerajinan ketika pembelajaran IPS pun tidak kalah banyak.
Kesimpulannya
dapat dilihat bila persentase antara setuju dan ragu-ragu seimbang yaitu 31%
yang menyatakan setuju dan ragu-ragu ketika pembelajaran IPS mereka pernah
membuat suatu karya ilmiah/kerajinan. Dan yang menyatakan tidak setuju pun
hanya berbeda selisih 3% saja. Hal ini seharusnya menjadi perhatian para
pendidik bahwasanya keterampilan peserta didik dalam membuat suatu karya
ilmiah/kerajinan pun akan menjadikan peserta didik cakap khususnya dalam hal
kecakapan akademik (academic skill), dimana dengan begitu peserta didik dapat
sekaligus berlatih bagaimana mengembangkan kemampuannya dalam hal pemecahan
masalah, berpikir krits, dan mewujudkan peserta didik yang mempunyai
kemelek-wacanaan maslah sosial, meskipun pada tahap tertentu memang baru diajarkan
sekilas setidaknya peserta didik diajak untuk mengenal bagaimana membuat suatu
karya ilmih/kerajinan dalam hal ini pada mata pelajaran IPS itu sendiri.
Setelah
pertanyaan demi pertanyaan dari pertama sampai ketujuh kami uraikan jawabannya
dalam bentuk angket yang telah kami sebar, dan telah kami simpulkan dari setiap
pertanyaan yang ada di atas.
Maka
kita dapat menarik kesimpulan dari Ketujuh soal yang telah dibahas sebelumnya
dari angket di atas, menyangkut mengenai soal kecakapan. Dari ketujuh itu bisa dilihat
bahwa mengenai kecakapan dari ketujuh soal di atas mengenai, kemampuan
berkomunikasi baik lisan ataupun tulisan, bekerja sama dengan teman,
peningkatan kepercayaan diri, motivasi, pemecahan masalah, berpikir kritis dan
logis, dan pembuatan suatu karya ilmiah atau kerajinan, ketujuh aspek tersebut
termasuk kedalam suatu kemampuan dalam hal kecakapan yang harus dimiliki
peserta didik sesuai dengan tujuan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pasal
3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan dan membentuk
watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi
peserta didik agar
menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara
yang demokratis serta
bertanggung jawab”.
Dan
hasilnya dari ketujuh pertanyaan mengenai kecakapan di atas 3 instrumen yang
menyatakan setuju dan 3 instrumen yang menyatakan ragu-ragu, dan 1 instrumen
lagi menyatakan setuju dan ragu-ragu. Disini kita dapat menarik kesimpulan
untukmenjawab rumusan masalah yang kami ajukan mengenai “apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik mempunyai
kecakapan dalam pengaplikasian materi IPS yang disampaikan. Jawabannya ialah dilihat dari jumlah instrument
yang imbang antara yang menyatakan setuju dan ragu-ragu katakanlah bila dalam
permainan skor ini “draw”, ini membuktikan bahwa pengaplikasian dalam mata
pelajaran IPS ini pada peserta didik khususnya mengenai kecakapan dirasakan
oleh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, ada yang merasa telah mempunyai
kecakapan itu dan tidak sedikit pula yang merasa ragu-ragu bahwa kecakapan itu
terlaksana setelah atau ketika mereka belajar IPS, meskipun kami kami menyadari
dalam hal ini instrument yang kami berikan tidak tertuju satu bahasan namun
diuraikan ke dalam beberapa bentuk kecakapan itu sendiri, yang kami maksud agar
penelitian ini lebih spesifik dalam hal kecakapan itu sendiri, sehingga dibagi
lagi kedalam sub-sub tema mengenai kecakapan. Namun dari hasil angket yang
telah kami sebar dan hasilnya adalah seperti yang telah kami katakan sebelumnya
ini artinya dalam penerapannya kemampan kecakapan dalam pengaplikasian materi
IPS yang disampaikan tersebut, belum terwujud pada seluruh siswa SMP Negeri 2
Kota Sukabumi. Meskipun jawaban persentase tidak setuju dan sangat tidak setuju
tidak banyak, namun ini menjadi suatu evaluasi metode pembelajaran, pendidik,
kurikulum yang dibuat bahkan peserta didik sendiri. Dimana dengan hasil seperti
ini artinya terhadap tujuan dari IPS dan UU Sisdiknas pasal3 tentang kecakapan
ini belum terwujud sepenuhnya khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Bagaimana agar tujuan yang telah dibuat dan ingin dicapai dapat terwujud dan
diaplikasikan khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, pastinya
disetiap pembelajaran perlu adanya suatu evaluasi, dimana seorang pendidik
harus mengetahui sejauh mana tujuan yang harus dicapai terwujud pada kemampuan
yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Pembahasan selanjutnyan pertanyaan dibawah ini kami akan
membahas mengenai kesadaran sosial yang menjadi rumusan masalah kami yang ingin
mengetahui apakah dalam penerapannya IPS dapat membuat
peserta didik sadar akan keadaan sosial disekitarnya sesuai dengan materi yang
diterimanya? Dalam hal ini bagaimana tujuan dalam UU Sisdiknas dapat
tercapai mengenai mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
bertanggung jawab, apabila dalam hal
ini peserta didik tidak mempunyai kesadaran sosial itu sendiri, karena seperti
yang telah diuraikan pada Bab II yaitu Tinjauan Pustaka kami mengenai Kesadaran
Sosial bahwa tanggung jawab adalah bagian dari kesadaran Sosial itu sendiri.
Sehingga pada kesempatan ini kami sengaja memasukkan kesadaran sosial pada
aspek yang ingin kami masukkan pada rumusan masalah yang kami buat. Dan berikut
merupakan hasil dari angket yang kami sebar tercantum di nomor 8 sampai nomor
13. Lanjutan dari nomor sebelumnya pada bahasan mengenai kecakapan.
Pertanyaan Kedelapan apakah dengan belajar
IPS para siswa menjadi lebih sadar lingkungan sekitar dengan tidak membuang
sampah sembarangan jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
18
|
90
|
21%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
55
|
220
|
65%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
5
|
15
|
6%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
5
|
10
|
6%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
2
|
2
|
2%
|
|
Jumlah
|
85
|
337
|
100%
|
Pertanyaan
kedelapan di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 337
dengan persentase 21% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka
menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang
sampah sembarangan. Dengan 12% dari kelas VII, 4% dari kelas VIII dan 5% dari
kelas IX. Artinya kebanyakan siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa setelah
mereka belajar IPS maka mereka lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitarnya
dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Yang
menyatakan setuju sebanyak 65% bahwa dengan belajar IPS mereka menjadi lebih
sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah
sembarangan. Dengan 13% dari kelas VII, 25% dari kelas VIII dan 27% dari kelas
IX. Persentase setuju merupakan persentase tertinggi dimana hamper seluruh
sampel menyatakan bahwa dengan belajar IPS mereka lebih menjaga lingkungan sekitar dengan tidak
membuang sampah sembarangan.
Selanjutnya 6% menyatakan ragu-ragu dengan
belajar IPS mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan
tidak membuang sampah sembarangan. Dengan 1% dari kelas VII, 5% dari kelas
VIII. Dan sebanyak 6% dari kelas VII
menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka menjadi lebih sadar
untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dan
2% dari kelas VII yang menyatakan tidak
setuju mereka menjadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak
membuang sampah sembarangan. Artinya masih ada sebagian dari siswa SMP Negeri 2
Kota Sukabumi yang belum merasa penerapan dari belajar IPS itu sendiri dalam
hal menjaga lingkungan sekitar.
Dari
penjelasan diatas seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa dapat dilihat
bila persentase tertinggi yaitu 65% yang menyatakan setuju mereka menjadi lebih
sadar untuk menjaga lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah
sembarangan. Artinya siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sebagian telah merasakan
dampak dari hasil penerapan tujuan IPS itu sendiri terhadap pengaplikasian
dalam kehidupan mereka sehari-hari, yaitu menjaga lingkungan sekitar, dan ini
terbukti dengan persentase terbesar yang menyatakan setuju bahwa dengan belajar
IPS mereka lebih menjaga lingkungan sekitar mereka dengan tidak membuang sampah
sembarangan. Ini membuktikan bahwa tingkat kesadaran sosial pada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal menjaga lingkungan sekitar dengan tidak
membuang sampah sembarangan telah terwujud.
Pertanyaan Kesembilan mengenai,
belajar IPS membuat peserta didik tidak
mencorat-coret disembarang tempat/dinding jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
20
|
100
|
24%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
48
|
192
|
56%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
13
|
39
|
15%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
3
|
6
|
4%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
1
|
1
|
1%
|
|
Jumlah
|
85
|
338
|
100%
|
Hasil
jawaban responden terhadap pertanyaan nomor 9, menunjukkan bahwa total skor
jawaban responden sebanyak 338 dengan persentase 24% menyatakan sangat setuju
dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding.
Dengan 14% dari kelas VII, 1% dari kelas VIII dan 9% dari kelas IX.
Kemudian
56% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret
disembarang tempat/dinding. Dengan 13% dari kelas VII, 23% dari kelas VIII dan
20% dari kelas IX. Artinya para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi telah
merasakan bahwa dengan belajar IPS mereka tidak mencorat-coret di dinding atau
di sembarang tepat.
Namun 15% menyatakan ragu-ragu dengan belajar
IPS mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 5% dari
kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 3% dari kelas IX. Artinya masih ada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi yang belum merasakan bahwa dengan belajar IPS mereka
tidak akan melakukan hal seperti itu.
Sebanyak 4% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dengan 3%
dari kelas VII dan 1% dari kelas VIII. Dan 1%
dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak setuju mereka tidak
mencorat-coret disembarang tempat/dinding.
Hasilnya
yang dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 56% yang menyatakan setuju
mereka tidak mencorat-coret disembarang tempat/dinding. Dari persentase yang
dilihat bahwa yang menyatakan setuju mutlak lebih tinggi persentasenya
dibandingkan yang lain,dilihat dari frekuensinya pun merupakan frekuensi
tertinggi yang menyatakan setuju. Oleh karena itu berarti tingkat kesadaran
sosial yang telah dirasakan siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal tidak
mencorat-coret tembok disembarang tempat/dinding setelah mereka belajar IPS
dirasa sangat berpengaruh.
Pertanyaan Kesepuluh mengenai penerapan
pembelajaran IPS yang menjadikan peserta didik lebih bertanggungjawab,
jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
11
|
55
|
13%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
41
|
164
|
48%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
28
|
84
|
33%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
4
|
8
|
5%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
1
|
1
|
1%
|
|
Jumlah
|
85
|
312
|
100%
|
Pertanyaan
ketiga mengenai kesadaran sosial di nomor 10 ini, menunjukkan bahwa total skor
jawaban responden sebanyak 312 dengan persentase 13% menyatakan sangat setuju
dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 6% dari kelas VII, 2%
dari kelas VIII dan 5% dari kelas IX.
Kemudian
48% menyatakan setuju artinya dengan belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab.
Dengan 10% dari kelas VII, 19% dari kelas VIII dan 19% dari kelas IX. Namun
yang menyatakan ragu-ragu juga tidak kalah banyak yaitu 33% menyatakan dengan
belajar IPS mereka lebih bertanggungjawab. Dengan 16% dari kelas VII, 9% dari
kelas VIII dan 8% dari kelas IX. Artinya dalam kesadaran sosial mengenai
tanggung jawab yang dimiliki masing-masing siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
tidak memperlihatkan persentase yang signifikan.
Dan bisa dilihat dari keseluruhan sampel hanya
5% yang menyatakan tidak setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih
bertanggungjawab. Dengan 2,5% dari kelas VII dan 2,5% dari kelas VIII. Dan 1% dari kelas VII yang menyatakan sangat tidak
setuju mereka lebih bertanggungjawab. Persentase yang sedikit sekali apabila
melihat dari frekuensi yang ada. Namun perlu diperhatikan, karena ini berarti
belum semua siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi merasa lebih bertanggung jawab
setelah mereka belajar IPS.
Kesimpulan
yang dapat diambil dari pertanyaan kesepuluh mengenai tanggung jawab yang
dimiliki siswa SMP Negeri 2, dilihat dari persentase tertingginya yaitu 48%
yang menyatakan setuju mereka lebih bertanggungjawab. Artinya penerapan yang
ada dalam pengaplikasian materi IPS dalam hal kesadaran sosial mengenai
tanggung jawab yang ada pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi sudah cukup baik.
Meskipun, masih ada 33% yang menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan tersebut.
Oleh karena itu sebagaimana hal yang telah ada pada tujuan IPS dan tujuan UU
Sisdiknas tentang tanggung jawab itu sendiri, menurut kami dirasa penting untuk
para pendidik di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi untuk menanamkan rasa tanggung
jawab tersebut pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi khususnya ketika
mata pelajaran IPS itu berlangsung.
Pertanyaan Kesebelas penerapan
pembelajaran IPS yang menjadikan peserta didik lebih akrab dengan teman-teman
dan tidak membedakan satu sama lain jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
24
|
120
|
28%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
43
|
172
|
51%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
15
|
45
|
18%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
2
|
4
|
2%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
1
|
1
|
1%
|
|
Jumlah
|
85
|
342
|
100%
|
Berdasarkan
tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 342
dengan persentase 28% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS mereka lebih
akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain. Dengan 12% dari
kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 9% dari kelas IX.
Kemudian
persentase tertinggi yaitu 51% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS
mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain.
Dengan 14% dari kelas VII, 18% dari kelas VIII dan 19% dari kelas IX. Artinya
kesadaran sosial pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal tidak
membeda-bedakan teman antara satu sama lain sudah sangat baik. Dilihat tingkat
persentase tertinggi yang skornya di atas setengah sampel yang diambil.
Selanjutnya 18% menyatakan ragu-ragu dengan
belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu
sama lain. Dengan 7% dari kelas VII, 7% dari kelas VIII dan 4% dari kelas IX.
Artinya masih ada siswa yang merasa ragu bahwa dengan belajar IPS mereka lebih
akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama lain.
Sebanyak 2% dari kelas VII menyatakan tidak
setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak
membedakan satu sama lain. Dan 1% dari
kelas VIII yang menyatakan tidak setuju mereka lebih akrab dengan teman-teman
dan tidak membedakan satu sama lain.
Dari
tabel diatas dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 51% yang menyatakan
setuju mereka lebih akrab dengan teman-teman dan tidak membedakan satu sama
lain dengan mereka belajar IPS. Ini artinya tidak membeda-bedakan teman telah
tertanam cukup baik pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi, dimana sampai sejauh
ini pernyataan mengenai kesadaran sosial dalam hal sadar lingkungan, tidak
mengotori ligkungan, bertanggung jawab, sampai yang terakhir ini, masih banyak
siswa yang menyatakan ke arah positif yang maksudnya ialah setuju. Sehingga
tingkat kesadaran sosial ini semakin bagus apabila dilihat dari hasil yang ada
sampai saat ini.
Pertanyaan Keduabelas mengenai pembelajaran IPS yang menjadikan peserta
didik saling tolong menolong dengan teman/orang lain jawabannya adalah sebagai
berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
24
|
120
|
28%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
46
|
184
|
54%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
11
|
33
|
13%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
3
|
6
|
4%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
1
|
1
|
1%
|
|
Jumlah
|
85
|
344
|
100%
|
Dari
jumlah skor di atas menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 344
dengan persentase 28% menyatakan sangat setuju dengan belajar IPS menjadikan
mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 16% dari kelas
VII, 5% dari kelas VIII dan 7% dari kelas IX.
Lalu
54% menyatakan setuju bahwa dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong
menolong dengan teman/orang lain. Dengan 11% dari kelas VII, 19% dari kelas
VIII dan 24% dari kelas IX. Artinya para siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi
merasa setuju bahwa dengan belajar IPS mereka lebih saling tolong menolong
dengan temannya ataupun orang lain.
Dan 13% menyatakan ragu-ragu dengan belajar
IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain. Dengan 5%
dari kelas VII dan 8% dari kelas VIII. Jumlah ini tidak banyak apabila
dibandingkan dengn yang menyatakan setuju, namun hal ini perlu menjadi
perhatian bahwasanya masih ada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi yang merasa
ragu bahwa dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan
sesama temannya ataupun orang lain.
Sebanyak 4% menyatakan tidak setuju bahwa
dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang
lain. Dengan 3% dari kelas VII dan 1%
dari kelas VIII. Dan 1% dari kelas VII yang menyatakan tidak setuju kalau
dengan belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang
lain.
Kesimpulannya
dapat dilihat bila persentase tertinggi yaitu 54% yang menyatakan setuju dengan
belajar IPS menjadikan mereka saling tolong menolong dengan teman/orang lain.
Ini artinya kesadaran sosial siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam hal saling
tolong menolong dengan sesama teman, cukup tertanam dalam pengaplikasian atas
apa yang seharusnya menjadi tujuan pembelejaran IPS itu sendiri. Meskipun tidak
sedikit yang menyatakan ragu-ragu bahkan setuju. Namun dilihat dari persentase
yang apabila digabungkan antara yang sangat setuju dan yang setuju sekitar 82%.
Setidaknya membuktikan bahwa penerapan mata pelajaran IPS dalam
pengaplikasiannya dalam hal kesadaran sosial untuk saling tolong menolong
sesame teman telah terwujud dengan baik.
Pertanyaan Ketigabelas mengenai
apakah peranan guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS
yang disajikan, jawabannya adalah sebagai berikut:
|
No
|
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Frekuensi
|
Jumlah Skor
|
Persentase (%)
|
|
1
|
Sangat Setuju
|
5
|
18
|
90
|
21%
|
|
2
|
Setuju
|
4
|
42
|
168
|
49%
|
|
3
|
Ragu-ragu
|
3
|
19
|
57
|
22%
|
|
4
|
Tidak Setuju
|
2
|
3
|
6
|
4%
|
|
5
|
Sangat Tidak
Setuju
|
1
|
3
|
3
|
4%
|
|
Jumlah
|
85
|
324
|
100%
|
Berikut
merupakan pertanyaan terakhir dari hasil angket yang kami sebar, meskipun pertanyaan
ini tidak berhubungan dengan kesadaran sosial, namun ini menjadi pertanyaan
kunci untuk kami bisa menjawab rumusan malah yang kedua sekaligus yang ketiga
yang harus kami jawab. Berikut hasilnya:
Dari
tabel di atas, menunjukkan bahwa total skor jawaban responden sebanyak 324
dengan persentase 21% menyatakan sangat setuju bahwa peran Guru sangat membantu
peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan. Dengan 4% dari kelas
VII, 7% dari kelas VIII dan 10% dari kelas IX. Kemudian 49% menyatakan setuju
artinya bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi
IPS yang disajikan. Dengan 19% dari kelas VII, 11% dari kelas VIII dan 19% dari
kelas IX. Artinya apabila digabungkan dari persentase yang ada antara yang
menyatakan sangat setuju dengan setuju bisa diperkirakan bahwa sekitar 70% dari
sampel yang diambil merasa setuju bahwa dengan peranan guru membantu siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi lebih memahami materi IPS yang disampaikan.
Selanjutnya 22% menyatakan ragu-ragu bahwa peran
Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS yang disajikan.
Dengan 10% dari kelas VII, 10% dari kelas VIII, dan 2% dari kelas IX. Artinya
dalam hal ini dalam penyampaian materi IPS ini tidak semua siswa merasa
terbantu dengan adanya guru, apabila dilihat dari persentase yang menyatakan
ragu-ragu ini.
Dan sekitar 4% dari kelas VII menyatakan tidak
setuju bahwa peran Guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS
yang disajikan. Dengan 3% dari kelas VII
dan 1% dari kelas IX. Dan 4% dari kelas VIII yang menyatakan sangat tidak
setuju bahwa peran guru sangat membantu peserta didik dalam memahami materi IPS
yang disajikan.
Kesimpulannya,
dari persentase tertinggi yaitu 49% yang menyatakan setuju ditambah dengan 21%
menyatakan sangat setuju bahwa peran guru sangat membantu peserta didik dalam
memahami materi IPS yang disajikan. Artinya dengan adanya guru peserta didik
merasa terbantu dengan memudahkan mereka dalam memahami materi IPS yang mereka
harus dipelajari. Dengan begitu tidak dapat dipungkiri bahwa guru sangat
berperan penting dalam pembimbing peserta didik dalam setiap mata pelajaran
khususnya IPS. Dimana memang pendidik yang professional adalah pendidik yang
tahu dimana ia harus berdiri, pendidik yang tahu apa yang seharusnya dilakukan
dan tidak, dan pendidik yang memahami apa-apa kesulitan yang dihadapi setiap
siswa yang diajarnya, pendidik yang tidak hanya membebabani para siswa dengan
teori-teori yang dibuat untuk mereka harus hafalkan. Dan terlihat dalam
persentase yang ada bahwa pendidik di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi khususnya
dalam mata pelajaran IPS ini sangat berpengaruh terhadap peserta didik yang ada
di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi ini, karena dilihat dari siswa yang merasa bahwa
peranan seorang pendidik sangat penting dalam memahami materi yang diterimanya
dalam mata pelajaran IPS.
Setelah kami
menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang ada dari nomor 8 sampi nomor 13.
Selanjutnya kami akan menyimpulkan dari pembahasan di atas ke dalam suatu
jawaban yang menjadi rumusan masalah yang kedua dan ketiga kami yaitu mengenai Apakah
dalam penerapannya IPS dapat membuat peserta didik sadar akan keadaan sosial
disekitarnya sesuai dengan materi yang diterimanya? Dan bagaimana IPS dapat
membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan
penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya? Jawabannya dilihat dari
peresentase keseluruhan yang menjawab dari pertanyaan nomor 8 sampai pertanyaan
nomor 12, persentase keseluruhan yang tertinggi menyatakan setuju. Artinya
kesadaran sosial yang kami maksud yang kami bagi kedalam sebuah perilaku
sehar-hari dan kami jadikan pernyataan atau pertanyaan seperti kesadaran untuk bertanggung
jawab, tidak membeda-bedakan teman, menjaga lingkungan sekitar, dan saling
tolong menolong sesama teman telah membuktikan dengan persentase yang
menyatakan setuju, bahwa dalam penerapannya khususnya studi pada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi IPS telah membut peserta didik sadar akan keadaan sosial
di sekitarnya. Dimana kesadaran sosial ini sudah pasti telah muncul dalam diri
peserta didik karena dari angket yang kami sebar dan melalui sampel yang ada
diisi oleh peserta didik langsung, sehingga bentuk keakuratan ini sudah pasti
terbukti. Sehingga dapat disimpulkan pula dengan persentase yang demikian bahwa
yang menjadi tujuan IPS dan tujuan UU Sisdiknas telah tercapai pada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi, meskipun masih ada siswa yang belum merasakan
pengaplikasian dari mata pelajaran IPS itu sendiri, namun setidaknya ini telah
menjawab rumusan maslah kedua kami.
Dan untuk rumusan masalah yang
ketiga tentang bagaimana IPS dapat
membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan
penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya? Jawabannya dilihat dari
banyak kemungkinan para siswa yang menyetujui bahwasanya IPS dalam penerapannya
telah membuat para siswa merasa cakap baik itu dalam hal komunikasi lisan
ataupun tulisan, bekerja sama, percaya diri, motivasi untuk lebih giat belajar,
memecahkan masalah, berpikr kritis, dan lebih sadar akan keadaan sosial seperti
dengan menjaga lingkungan, bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, dan
saling tolong menolong dengan sesama. Semua itu tidak akan tercapai tanpa
adanya peran seorang pendidik yang membimbing para peserta didik untuk
membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan
penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya, jawabannya seperti yang telah
diuraikan sebelumnya, IPS tidak dapat secara langsung dapat membuat peserta
didik menjadi cakap dan sadar akan keadaan sosial, namun IPS dibantu oleh peran
pendidik yang membuat IPS lebih dipahami oleh para peserta didik dengan dibantu
media pendidikan yang mendukung beserta tidak dipungkiri terkadang kemampuan
seorang peserta didik lah yang membuat seorang pendidik menjadi terus belajar
dan menggali ilmu kembali. Oleh karena itu peran pendidik tidak dapat
dilepaskan dari apa yang memang menjadi tujuan IPS dan UU Sisdiknas itu
sendiri.
Rumusan
masalah telah kami uraikan jawabannya satu demi satu, sekarang kami mencoba
membuat kesimpulan dari jurnal kami ini dengan menggambarkan pada garis
kontinum menggunakan kategori yang memang sudah ditentukan untuk melihat sejauh
mana titik “Implementasi Mata Pelajaran IPS Studi pada SMP Negeri 2 Kota
Sukabumi”, dengan menghitung skor kumulatif dari tiap variabel digunakan cara
seperti dibawah ini:
1. Total skor sangat rendah
13
item x 85 responden x nilai skor 1 = 1105
2. Total skor rendah
13
item x 85 responden x nilai skor 2 = 2210
3. Total skor sedang
13 item x 85 responden x nilai skor
3 = 3315
4.
Total
skor tinggi
13
item x 85 responden x nilai skor 4 = 4420
5.
Total
skor sangat tinggi
13 item x
85 responden x nilai skor 5 = 5525
Dari
hasil perhitungan variabel implementasi mata pelajaran IPS berdasarkan kepada
jawaban responden secara keseluruhan mendapatkan skor sebesar 4037 (terlampir
pada lampiran). Secara kontinum dapat digambarkan sebagai berikut:
Garis
Kontinum Implementasi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kota
Sukabumi
Sangat
Rendah Rendah
Sedang Tinggi Sangat Tinggi
0 1105 2210 3315 4420 5525
4037
Berdasarkan garis kontinum di
atas dengan jumlah Implementasi Mata Pelajaran IPS 4037 yang masuk dalam
kategori tinggi.[38]
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan pada atas apa yang
telah kami bahas dalam jurnal ini, baik itu dalam Bab II, III, dan IV. Kami
ingin menarik kesimpulan dari apa yang telah terjawab dalam jurnal ini dari
rumusan masalah yang telah kami buat bahwa penerapan mata pelajaran IPS dalam
pengaplikasiannya yang sesuai dengan materi yang diterima oleh siswa SMP Negeri
2 Kota Sukabumi telah tertanam baik dengan bukti berupa angket yang kami telah
kami sebar bahwa penerapan implementasi IPS studi pada siswa di SMP Negeri 2
Kota Sukabumi dalam hal aspek kecakapan yang terkandung pada UU Sisdiknas dan
termasuk pada kriteria yang memang harus dimiliki dan dikembangkan oleh peserta
didik, telah terbukti pada angket yang telah kami sebar bahwa pada siswa SMP
Negeri 2 Kota Sukabumi telah mempunyai kecakapan dalam hal berkomunikasi baik
lisan ataupun tulisan, bekerja sama, kepercayaan diri, motivasi, pemecahan
masalah, dan mampu berpikir kritis dan logis. Meskipun dalam hal ini dari hasil
penelitian kami tidak seluruhnya siswa SMP Negeri 2 telah merasakan hal
tersebut, namun ini menjadi evaluasi kepada pendidik, kurikulum yang ada maupun
peserta didik sendiri sehingga apa yang menjadi tujuan baik dalam UU Sisdiknas
ataupun tujuan IPS dapat terwujud pada seluruh siswa SMP Negeri 2 Kota
Sukabumi.
Dilihat dari aspek tanggung jawab,
yang termasuk ke dalam kesadaran sosial peserta didik, terbukti dari angket
yang telah kami sebar, bahwa pada siswa
di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi dalam penerapannya, para siswa merasa
telah mempunyai kesadaran sosial tersebut seperti bertanggung jawab, tidak
membeda-bedakan teman, menjaga lingkungan sekitar, dan saling tolong menolong
sesama teman, setelah mereka belajar IPS, dilihat dari pertanyaan yang kami
sebar yang rata-rata hasilnya menyatakan setuju. Ini menunjukkan bahwa
penerapan IPS itu sendiri telah terwujud dan tujuan pun telah tercapai
khususnya pada siswa SMP Negeri 2 Kota Sukabumi.
Dari hasil yang mengarah kepada
hal yang positif ini dapat membuktikan bahwa IPS dalam penerapannya telah
membuat para siswa merasa cakap baik itu dalam hal komunikasi lisan ataupun
tulisan, bekerja sama, percaya diri, motivasi untuk lebih giat belajar,
memecahkan masalah, berpikr kritis, dan lebih sadar akan keadaan sosial seperti
dengan menjaga lingkungan, bertanggung jawab, tidak membeda-bedakan teman, dan
saling tolong menolong dengan sesama. Semua itu tidak akan tercapai tanpa
adanya peran seorang pendidik yang membimbing para peserta didik untuk
membentuk siswa agar cakap dan sadar akan keadaan sosial sesuai dengan
penerapan mata pelajaran IPS yang seharusnya.
5.2
Saran
Kami berharap setelah dibuatnya
jurnal ini maka akan memberikan kontribusi yang baik nantinya untuk kita
sebagai calon pendidik nantinya, pemahaman yang baik mengenai apa yang
seharusnya menjadi tujuan agar tercapai dengan baik, pengetahuan yang lebih luas
dari contoh penelitian di atas dan menambah wawasan dan membuka pikiran pembaca
untuk mengetahui dan lebih memahami secara ringkas bagaimana implementasi IPS
yang terjadi pada siswa khususnya di SMP Negeri 2 Kota Sukabumi. Sehingga
nantinya kita sebagai calon pendidik tidak akan menjadi pendidik yang
menekankan teori pada peserta didik. Namun menjadi pendidik yang sebenarnya,
cerdas dan memahami bahkan menguasai bagaimana cara agar aspek-aspek yang ingin
diwujudkan dapat tercapai.
DAFTAR
PUSTAKA
Musthofiyah, Maidah. (2012). Skripsi, Penerapan Nilai-nilai Karakter pada Pembelajaran IPS Terpadu
di MTs Negeri Model Babat. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang.
(10/01/2013.21:42)
Wahab,
Abdul Azis. 2009. Konsep Dasar IPS. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Hurri, Ibnu. (2011). Bahan Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS.
Sukabumi: (Tanpa Penerbit).
http://lampung.kemenag.go.id/file/file/subbagHukmas/wjkn1352768153.pdf.
(16/01/2013.10:38)
(11/01/2013.
12:45)
(16/01/2013. 20:45)
Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi, Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen
Kependudukan, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk).
Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
http://gizimu.wordpress.com/2012/02/13/menghitung-skor-skala-likert/.
(16/01.2013. 11:12)
repository.upi.edu/.../t_pk_0809373_chapter2.pdf. 02/03.2013. 12.45
Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan
Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa
(Studi Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 24
Dewi Rochmawati, Efa. (2010). Skripsi Pelaksanaan Strategi Pembelajaran
Pada Mata Pelajaran Ips (Ekonomi) Di Smp Negeri 4 Blitar. Malang :
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
LAMPIRAN
KUISIONER
Berilah
tanda (X) pada jawaban yang menurut pendapat anda sesuai dengan apa yang anda
alami selama mengikuti pembelajaran IPS di sekolah anda saat ini !!
1. Apakah
dengan belajar IPS membuat anda menjadi cakap dalam berkomunikasi baik lisan
maupun tulisan?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
2. Apakah
dengan belajar IPS membuat anda lebih bekerja sama dengan teman?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
3. Dengan
belajar IPS apakah anda menjadi lebih percaya diri ?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
Tidaksetuju
4. Dengan
belajar IPS apakah anda lebih termotivasi untuk lebih giat belajar?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
5. Apakah
dengan belajar IPS membuat anda dapat memecahkan masalah sehari-hari?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
6. Apakah
dengan belajar IPS membuat anda lebih berfikir kritis dan logis?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
7. Apakah
ketika belajar IPS, anda pernah membuat suatu karya ilmiah/kerajinan?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
8. Apakah
dengan belajar IPS anda menjadi lebih sadar lingkungan sekitar dengan tidak
membuang sampah sembarangan?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
9. Dengan
belajar IPS, apakah membuat anda tidak mencorat-coret disembarang
tempat/dinding?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. TidakSetuju
e. Sangat
TidakSetuju
10. Dengan
belajar IPS, apakah menjadikan anda lebih bertanggungjawab?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
11. Apakah
dengan belajar IPS menjadikan anda lebih akrab dengan teman-teman dan tidak
membedakan satu sama lain?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
12. Apakah
dengan belajar IPS menjadikan anda saling tolong menolong dengan teman/orang
lain?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
TidakSetuju
13. Apakah
peran Guru sangat membantu anda dalam memahami materi IPS yang disajikan?
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
Tidak Setuju
[1] Musthofiyah, Maidah. (2012). Skripsi,
Penerapan Nilai-nilai Karakter pada Pembelajaran IPS Terpadu di MTs Negeri
Model Babat. Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang. hal: 4
[2] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep
Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.4
[3] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep
Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.9
[4] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan
Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi:
(Tanpa Penerbit). hal: 2
[5] Wahab, Abdul Azis. 2009. Konsep
Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka. hal: 1.9-1.10
[6] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan
Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi:
(Tanpa Penerbit). hal: 2
[7] http://lampung.kemenag.go.id/file/file/subbagHukmas/wjkn1352768153.pdf.
16/01/2013. 10:38
Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk
Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa (Studi
Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 24
Widiastuti, Nova. (2010). Tesis Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk
Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa (Studi
Pada Mata Pelajaran Ips Smp Negeri Di Kota Serang ). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. hal: 34-36
Dewi Rochmawati, Efa. (2010). Skripsi
Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Ips (Ekonomi) Di Smp
Negeri 4 Blitar. Malang : Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang. hal:
54-57
[15] www.spanda2yes.sch.id. 16/01/2013.
20:45
[16] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi,
Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta
Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas
Muhammadiyah Sukabumi. hal: 35
[17] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 56
[18] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi,
Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta
Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas
Muhammadiyah Sukabumi. hal: 35
[19] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 117
[20] Ramelan , Yuliana. (2012). Skripsi,
Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta
Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas
Muhammadiyah Sukabumi. hal: 38-39
[21] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 118
[22] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 122
[23] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 124
[24] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 126
[25] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 130
[26] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 199-200
[27] http://gizimu.wordpress.com/2012/02/13/menghitung-skor-skala-likert/.
16/01.2013. 11:12
[28] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 134-135
[29] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi,
Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta
Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas
Muhammadiyah Sukabumi. hal: 44-46
[30] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 173
[31] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 187
[32] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 255
[33] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 188-189
[34] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 173
[35] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 190
[36] Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. hal: 173
[37] Hurri, Ibnu. (2011). Bahan
Ajar Konsep Dasar IPS Hakikat dan Karakteristik Pendidikan IPS. Sukabumi:
(Tanpa Penerbit). hal: 2
[38] Ramelan, Yuliana. (2012). Skripsi,
Tanggapan Masyarakat Mengenai Kualitas Pelayanan Pegawai di Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kota Sukabumi (Studi Pelayanan Dokumen Kependudukan, Akta
Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk). Sukabumi: Universitas
Muhammadiyah Sukabumi. hal: 100


No comments:
Post a Comment